NOVEL ROMANSA REMAJA
PARA PEMBURU CINTA DI BAWAH LANGIT SMA KAPUAS
“Tentang Sekelompok Remaja Kota Air yang Mengejar Cinta Pertama,
Mengorbankan Persahabatan, Menantang Luka, dan Memahami Bahwa Tidak Semua Hati
Ditakdirkan Untuk Memiliki, Tetapi Semua Perasaan Akan Mengajarkan Arti
Kehidupan.”
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Novel ini merupakan karya fiksi
bergenre romansa remaja yang mengangkat dinamika kehidupan anak SMA di Kota
Kuala Kapuas sebagai latar utama cerita. Seluruh tokoh, dialog, konflik,
tempat, dan alur merupakan hasil pengembangan imajinasi penulis yang
terinspirasi dari suasana kehidupan remaja, pencarian jati diri, perjuangan
cinta pertama, serta kompleksitas hubungan sosial di masa muda.
Nama lokasi seperti SMA Kapuas, Bundaran
Besar Kuala Kapuas Murung, Dermaga KP3, Simpang Adipura, Jalan Jenderal
Sudirman, Jalan Ahmad Yani, City Mall, Pasar Sari Mulya, Pasar Melati, Dermaga
Danau Mare, Jalan Tambun Bungai, Jalan Pemuda, dan Pertokoan Sanjaya digunakan
untuk memperkuat nuansa lokal Kota Air yang Aman, Indah, dan Ramah.
Cerita ini memuat berbagai emosi
kehidupan remaja berupa cinta, pengkhianatan, persahabatan, kecemburuan,
perjuangan, pengorbanan, ambisi, hingga penyesalan yang dikemas dalam sudut
pandang sastra romansa dramatis.
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh,
kejadian, maupun latar dengan kehidupan nyata, hal tersebut semata-mata
merupakan kebetulan dan tidak disengaja.
PROLOG
LANGIT YANG MENYAKSIKAN PARA PEMBURU CINTA
Langit Kuala Kapuas sore itu tampak
berbeda.
Awan berwarna jingga perlahan
menggantung di atas sungai yang mengalir tenang membelah Kota Air. Cahaya
matahari senja memantul di permukaan Sungai Kapuas Murung seperti serpihan emas
yang berkilauan diterpa angin sore. Dari kejauhan terdengar suara klakson kendaraan
bercampur tawa anak-anak sekolah yang baru pulang.
Kota kecil itu selalu tampak damai.
Orang-orang mengenalnya sebagai Kota
Air yang Aman, Indah, dan Ramah.
Namun di balik keramaian jalanan Kota
Kuala Kapuas, di balik hiruk pikuk pertokoan Sanjaya, di balik suasana ramai
Pasar Sari Mulya dan Pasar Melati, ada kisah-kisah hati yang diam-diam tumbuh
di antara para remaja SMA yang sedang belajar mengenal arti cinta.
Cinta yang kadang datang dengan
sederhana.
Tetapi mampu menghancurkan
persahabatan dalam sekejap mata.
Di SMA Kapuas, sekolah yang berdiri
megah di tengah kota, kisah itu dimulai.
Sekolah itu bukan hanya tempat
belajar.
Bukan hanya tempat siswa mengenakan
seragam putih abu-abu sambil membawa buku pelajaran dan mimpi masa depan.
Lebih dari itu, SMA Kapuas adalah
tempat lahirnya banyak cerita.
Cerita tentang cita-cita.
Cerita tentang persahabatan.
Dan cerita tentang hati-hati muda yang
diam-diam saling mengejar.
Di sanalah para pemburu cinta
dipertemukan oleh takdir.
Mereka masih muda.
Masih labil.
Masih percaya bahwa cinta pertama
adalah sesuatu yang harus diperjuangkan sampai titik terakhir.
Dan di antara mereka semua, ada satu
nama yang perlahan menjadi pusat dari segala kisah itu.
Yanti.
Gadis sederhana dengan rambut panjang
hitam terurai dan senyum teduh yang mampu membuat siapa saja jatuh hati hanya
dalam sekali pandang. Tatap matanya lembut seperti senja di Dermaga KP3 Kuala
Kapuas. Cara bicaranya pelan. Sikapnya sederhana. Tetapi justru
kesederhanaannya itulah yang membuat banyak lelaki ingin memilikinya.
Tidak hanya satu.
Tidak hanya dua.
Tetapi banyak hati mulai diam-diam
mengejarnya.
Dan salah satunya adalah Kang Riyadi.
Pemuda pendiam yang lebih sering
menyimpan perasaan dalam diam daripada mengungkapkannya. Ia bukan siswa paling terkenal
di sekolah. Bukan pula anak pejabat atau pemuda paling kaya di kota.
Namun ada sesuatu dalam dirinya yang
sulit dijelaskan.
Ketulusannya.
Kesederhanaannya.
Dan caranya memandang Yanti seolah
gadis itu adalah alasan mengapa dunia masih layak diperjuangkan.
Riyadi dikenal sebagai sosok yang
tenang.
Kadang terlalu tenang.
Ia lebih suka duduk di taman sekolah
sambil memandangi langit sore dibanding ikut keributan teman-temannya. Ia
sering berjalan sendiri melewati Jalan Jenderal Sudirman selepas sekolah sambil
mendengarkan suara kendaraan yang lalu lalang.
Bagi Riyadi, hidup bukan tentang siapa
yang paling hebat.
Tetapi tentang siapa yang mampu
bertahan ketika hatinya dihancurkan oleh kenyataan.
Namun kisah cinta tidak pernah
berjalan semudah itu.
Karena selain Riyadi, ada Rayhan.
Pemuda humoris yang selalu menjadi
pusat perhatian di kelas. Tawanya keras. Sikapnya santai. Ia mudah akrab dengan
siapa saja. Tetapi di balik candanya, Rayhan menyimpan rasa takut kehilangan
yang besar.
Ia takut kalah.
Takut diabaikan.
Dan takut melihat Yanti jatuh ke
pelukan orang lain.
Lalu ada Hendra.
Sosok yang tampan, percaya diri, dan
selalu ingin menang dalam segala hal. Hendra tidak pernah terbiasa menerima
penolakan. Ia memandang cinta seperti perlombaan yang harus dimenangkan.
Baginya, jika seseorang menginginkan
sesuatu, maka ia harus merebutnya.
Dengan cara apa pun.
Termasuk menghancurkan orang lain.
Sedangkan Sulton adalah sosok yang
berbeda lagi.
Ia pandai berbicara.
Pandai merangkai kata-kata.
Sering bersikap seolah dirinya
pujangga cinta paling romantis di sekolah.
Tetapi di balik semua kata manis itu,
Sulton menyimpan iri hati yang perlahan berubah menjadi racun.
Mereka semua dipertemukan oleh satu
nama yang sama.
Yanti.
Dan sejak saat itu, langit SMA Kapuas tidak
pernah benar-benar tenang lagi.
Hari-hari mulai dipenuhi persaingan.
Tatapan penuh kecemburuan.
Sindiran.
Rahasia.
Pengkhianatan.
Bahkan air mata.
Persahabatan yang awalnya hangat mulai
retak perlahan.
Amanda yang bijaksana sering mencoba
menjadi penengah.
Anis yang pendiam lebih sering
memperhatikan semuanya dalam diam.
Julaeha yang cerewet kadang menjadi
sumber tawa di tengah konflik yang memanas.
Dadang, Alex, Bambang, Herman, dan
Ujang memiliki warna masing-masing dalam persahabatan mereka.
Ada yang setia.
Ada yang mulai berubah.
Ada yang diam-diam menyimpan rasa
kepada orang yang tidak bisa dimilikinya.
Dan semua itu perlahan berubah menjadi
perjalanan panjang tentang pencarian cinta pertama.
Tentang hati-hati muda yang terlalu
berani untuk jatuh cinta.
Tetapi belum cukup dewasa untuk
menerima kenyataan.
Malam mulai turun di Kota Kuala
Kapuas.
Lampu jalan di Bundaran Besar menyala
satu per satu.
Angin dari sungai bertiup pelan
membawa aroma air dan kehidupan kota yang tidak pernah benar-benar tidur.
Di Dermaga KP3, seorang pemuda berdiri
sendirian memandangi langit.
Matanya kosong.
Namun hatinya penuh dengan satu nama.
Yanti.
Riyadi menarik napas panjang sebelum
akhirnya tersenyum kecil.
“Aku tidak tahu apakah cinta ini akan
berakhir bahagia atau justru menghancurkan semuanya, tapi aku ingin
memperjuangkannya sampai akhir,” kata Riyadi.
Suara ombak kecil terdengar memecah
keheningan dermaga.
Langit senja perlahan berubah gelap.
Dan tanpa disadari siapa pun…
Perburuan cinta itu baru saja dimulai.
BAB I
HARI PERTAMA DI BAWAH LANGIT SMA KAPUAS
Pagi di Kota Kuala Kapuas selalu punya
cara sendiri untuk membangunkan kehidupan.
Kabut tipis masih menggantung di atas
Sungai Kapuas Murung ketika suara mesin perahu mulai terdengar dari kejauhan.
Jalanan perlahan hidup. Motor siswa, angkot sekolah, pedagang sarapan, semua
bergerak seperti alur yang sudah dihafal setiap hari.
Kota itu sederhana, tapi hangat.
Dan di hari itu… semuanya terasa
seperti awal dari sesuatu yang belum diberi nama.
Di gerbang SMA Kapuas, suasana sudah
ramai.
Rayhan berdiri sambil menyandarkan
diri di pagar sekolah.
Ia langsung menyambut seseorang yang
baru datang.
“Wah akhirnya datang juga sang filsuf
kita!” kata Rayhan keras sambil tertawa.
Riyadi melepas helmnya perlahan.
“Apa lagi pagi-pagi kau ini?”
Rayhan langsung menepuk bahunya.
“Kalau tidak aku ganggu, kau itu bisa
jadi patung hidup di parkiran.”
Riyadi menghela napas.
“Lebih baik jadi patung daripada jadi
sumber keributan.”
Rayhan tertawa.
“Lihat kan? Jawabanmu saja sudah seperti
ceramah.”
Dadang yang baru datang langsung
menyahut dari belakang.
“Ceramah cinta kali dia itu!”
Alex ikut menimpali sambil menyisir
rambut.
“Biasanya orang kayak Riyadi itu
paling berbahaya kalau sudah jatuh cinta.”
Ujang langsung menambahkan sambil
membawa botol minuman.
“Bahaya gimana?”
“Diam-diam bikin puisi tujuh buku
tanpa ketahuan.”
Semua tertawa.
Riyadi hanya menggeleng kecil.
“Kenapa hidup kalian selalu penuh
asumsi?”
Rayhan menunjuk dadanya sendiri.
“Karena kita hidup untuk hiburan,
Kang.”
Di tengah tawa itu, Dadang tiba-tiba
menatap ke arah gerbang.
“Eh… itu siapa?”
Rayhan ikut menoleh.
“Yang mana?”
Dadang menjawab pelan.
“Yang baru masuk itu.”
Seorang gadis baru saja turun dari
motor.
Yanti.
Rambutnya terurai lembut.
Langkahnya pelan.
Amanda dan Julaeha di sampingnya
langsung bercanda.
“Cepat sedikit, nanti diserbu anak
laki-laki lagi,” kata Amanda.
Julaeha tertawa.
“Biarkan saja, dia kan sudah biasa
jadi pusat perhatian.”
Yanti tersenyum kecil.
“Kalau jadi pusat perhatian itu capek,
aku pindah planet saja ya.”
Amanda langsung tertawa.
“Kalau pindah planet, tetap ada yang
nyariin.”
Rayhan langsung menyikut Riyadi.
“Itu dia.”
Riyadi menoleh.
“Siapa?”
“Yang bikin satu sekolah bisa lupa
cara bernapas.”
Riyadi menatap.
Dan untuk beberapa detik… ia diam.
Bukan karena kagum berlebihan.
Tapi karena ada sesuatu yang terasa
berbeda.
Tenang.
Namun sulit dijelaskan.
Rayhan menyeringai.
“Wah… Kang Riyadi diam. Ini bahaya.”
Riyadi menjawab pelan.
“Aku cuma melihat.”
Rayhan langsung tertawa.
“Melihat itu langkah pertama, Bung.”
Dadang menimpali.
“Langkah kedua biasanya jadi puisi.”
Ujang mengangguk.
“Langkah ketiga… gagal fokus di
kelas.”
Alex tertawa.
“Langkah keempat jadi korban cinta.”
Riyadi menghela napas panjang.
“Kalian ini terlalu banyak teori.”
Di seberang halaman.
Sebuah motor sport masuk dengan suara
keras.
Hendra turun.
Langkahnya mantap.
Jaket di pundak.
Wajah percaya diri.
Sulton turun di belakangnya sambil
membawa buku kecil.
Sulton langsung membuka percakapan
dramatis.
“Langit pagi ini seperti sedang
menyambut sesuatu yang besar…”
Alex langsung memotong.
“Sudah mulai puisi lagi dia.”
Sulton tidak peduli.
“Karena seseorang yang sempurna baru
saja datang.”
Rayhan tertawa kecil.
“Penyair gagal muncul lagi.”
Hendra menatap sekeliling.
Lalu matanya berhenti pada Yanti.
Ia tersenyum kecil.
“Jadi ini dia,” gumamnya.
Sulton ikut melihat.
“Seperti bunga yang tidak bisa
diabaikan.”
Hendra menjawab pelan.
“Bukan tidak bisa diabaikan.”
“Tidak boleh diabaikan.”
Rayhan menyipitkan mata.
“Wah ini mulai ada pesaing baru.”
Dadang berbisik.
“Ini bukan lagi kelas, ini arena.”
Alex menimpali.
“Dan kita semua penonton gratis.”
Bel berbunyi.
Tapi sebelum masuk kelas, suasana
masih terasa aneh.
Riyadi berjalan perlahan.
Namun Rayhan menahan lengannya.
“Gimana?”
“Gimana apa?”
“Pendapatmu tentang dia.”
Riyadi menatap Yanti sekali lagi.
Lalu menjawab pelan.
“Aku tidak punya pendapat.”
Rayhan mengernyit.
“Tidak mungkin.”
Riyadi melanjutkan.
“Kalau pun ada… itu terlalu awal untuk
disebut.”
Rayhan tersenyum.
“Berarti sudah mulai.”
Di depan kelas.
Yanti sedang berbicara dengan Amanda.
“Aku tadi seperti diawasi banyak
orang,” kata Yanti.
Amanda tertawa.
“Bukan seperti. Memang.”
Julaeha menambahkan.
“Kau itu dari dulu sudah kayak magnet.”
Yanti menghela napas.
“Magnet yang menarik masalah?”
Amanda menjawab cepat.
“Magnet yang menarik perhatian.”
Dari kejauhan, Riyadi berhenti sejenak
di koridor.
Ia melihat Yanti lagi.
Rayhan muncul di sampingnya.
“Jangan bilang kau tidak merasa apa-apa.”
Riyadi menjawab pelan.
“Aku hanya merasa… dia berbeda.”
Rayhan tersenyum.
“Sudah cukup untuk jadi awal cerita.”
Dan di saat itu…
Hendra juga melihat dari sisi lain.
Sulton berbisik.
“Sepertinya kau punya saingan.”
Hendra menjawab tenang.
“Kalau itu saingan, maka aku akan
memastikan dia mengerti batasnya.”
Bel masuk berbunyi lagi.
Semua siswa mulai masuk kelas.
Namun satu hal sudah jelas.
Hari pertama itu bukan hari biasa.
Karena di bawah langit SMA Kapuas…
bukan hanya pelajaran yang dimulai.
Tapi juga sebuah kisah panjang yang
belum diberi akhir.
BAB II
SENJA DI BUNDARAN BESAR KUALA KAPUAS
Hari-hari pertama di SMA Kapuas
berlalu seperti biasa. Namun bagi sebagian orang, ada sesuatu yang perlahan
berubah tanpa bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Terutama bagi Kang Riyadi.
Sejak pagi ketika pertama kali melihat
Yanti di halaman sekolah, ada sesuatu yang terus mengganggu pikirannya. Bukan
sesuatu yang berisik, melainkan justru diam, tetapi menetap.
Rayhan sejak tadi sudah
memperhatikannya di kelas.
“Oi,” Rayhan menyenggol lengan Riyadi
pelan. “Dari tadi kau diam saja. Biasanya kau sudah debat sama Dadang soal hal
tidak penting.”
Riyadi tetap menatap jendela.
“Aku tidak sedang ingin banyak
bicara.”
Rayhan menyipit.
“Atau jangan-jangan kau lagi mikirin
seseorang?”
Riyadi langsung menoleh.
“Tidak.”
Rayhan tersenyum miring.
“Jawaban ‘tidak’ yang terlalu cepat
itu biasanya berarti ‘iya’.”
Riyadi menghela napas pelan.
“Kau ini selalu punya kesimpulan
sendiri.”
Rayhan bersandar ke kursinya.
“Bukan kesimpulan. Pengalaman.”
Dadang dari depan langsung menoleh.
“Pengalaman apa? Pengalaman ditolak
berkali-kali?”
Rayhan menunjuk Dadang.
“Nah itu! Orang kalau sudah pahit
biasanya paling paham cinta.”
Semua tertawa kecil.
Riyadi ikut tersenyum tipis, tapi
tidak benar-benar masuk dalam tawa itu.
Di sisi lain kelas, Yanti sedang duduk
bersama Amanda dan Julaeha.
Julaeha sejak tadi tidak berhenti
bercerita.
“Serius ya, kemarin itu si Dodi
beneran nembak pakai gitar.”
Amanda mengangkat alis.
“Terus diterima?”
“Ditolak.”
Yanti tersenyum kecil.
“Kasihan.”
Julaeha langsung menambahkan cepat,
“Bukan cuma ditolak. Katanya karena
gitarnya belum dikembalikan ke pemilik aslinya.”
Amanda tertawa.
“Itu cinta atau laporan kehilangan?”
Yanti ikut tertawa kecil.
“Kadang cinta memang sesederhana itu
ya… tapi juga bisa serumit itu.”
Amanda menoleh.
“Kau kenapa jadi bijak begitu hari
ini?”
Yanti menggeleng pelan.
“Aku tidak bijak. Aku cuma… berpikir.”
Julaeha menyipit.
“Berpikir soal siapa?”
Yanti langsung menoleh cepat.
“Tidak ada.”
Tapi kemudian matanya tanpa sadar
melirik ke arah pojok kelas.
Riyadi.
Pemuda itu sedang duduk diam, menatap
luar jendela.
Tenang.
Terlalu tenang.
Amanda memperhatikan arah pandang
Yanti.
“Jangan-jangan…”
Yanti langsung memotong.
“Jangan-jangan apa?”
Amanda tersenyum kecil.
“Tidak apa-apa.”
Bel istirahat berbunyi.
Rayhan langsung berdiri.
“Ayo kantin! Aku lapar sampai bisa
makan meja.”
Dadang ikut berdiri.
“Meja saja kau makan, nanti kursi juga
kau kunyah.”
Rayhan tertawa.
“Kalau enak kenapa tidak?”
Riyadi menutup bukunya pelan.
“Jangan terlalu berisik.”
Rayhan menepuk bahunya.
“Tenang, Kang. Dunia ini memang dibuat
untuk berisik.”
Saat mereka keluar kelas, di depan
pintu Yanti dan Riyadi hampir bertabrakan.
Mereka berhenti.
Diam.
Cukup lama.
Yanti duluan tersenyum kecil.
“Maaf.”
Riyadi sedikit kaget.
“Tidak… tidak apa-apa.”
Rayhan yang melihat dari belakang
langsung berbisik ke Dadang,
“Wah… ini momen.”
Dadang menyikutnya.
“Diam kau.”
Setelah Yanti pergi, Rayhan langsung
menatap Riyadi.
“Gila.”
“Apa.”
“Tadi kau jawab ‘tidak apa-apa’
seperti orang habis disetrum cinta.”
Riyadi menghela napas.
“Kenapa kau selalu melebih-lebihkan?”
Rayhan tersenyum.
“Karena kau selalu meremehkan
perasaanmu sendiri.”
Kalimat itu membuat Riyadi diam
sebentar.
Sore hari.
Bundaran Besar Kuala Kapuas mulai
ramai.
Lampu-lampu menyala satu per satu.
Suara kendaraan bercampur dengan suara
pedagang kaki lima.
Riyadi berdiri sendiri di pinggir
taman bundaran.
Ia baru keluar dari toko buku.
Ia menghela napas pelan.
“Capek juga ternyata hari ini,”
gumamnya.
Tiba-tiba suara lembut terdengar.
“Riyadi?”
Ia menoleh.
Yanti berdiri tidak jauh dari sana,
membawa beberapa buku.
“Oh… kau,” kata Riyadi.
Yanti tersenyum kecil.
“Iya.”
Ia mengangkat plastiknya sedikit.
“Ini hampir jatuh.”
Riyadi langsung mendekat.
“Biar aku bantu.”
Yanti ragu sebentar.
“Tidak merepotkan?”
“Tidak.”
Riyadi mengambil beberapa buku dari
tangannya.
Mereka berjalan perlahan.
Sunyi beberapa detik.
Sampai Yanti membuka suara,
“Kau memang selalu pendiam ya.”
Riyadi menoleh.
“Aku memang begitu.”
“Tidak bosan?”
“Bosan dengan apa?”
“Dengan diam.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Diam tidak selalu kosong.”
Yanti mengangguk pelan.
“Rayhan bilang kau itu orangnya
terlalu serius.”
Riyadi mendengus pelan.
“Rayhan itu terlalu banyak bicara tentang
orang lain.”
Yanti tertawa kecil.
“Aku lebih suka orang yang tidak
banyak bicara.”
Riyadi menoleh sedikit.
“Kenapa?”
Yanti menjawab pelan,
“Karena biasanya… mereka lebih jujur.”
Kalimat itu membuat langkah Riyadi
sedikit melambat.
“Aku tidak tahu apakah itu pujian atau
tebakan.”
Yanti tersenyum.
“Anggap saja keduanya.”
Di seberang jalan.
Seseorang memperhatikan mereka.
Hendra.
Matanya tidak berkedip.
“Siapa itu?” gumamnya.
Sulton di belakangnya menyandarkan
motor.
“Itu Riyadi.”
Hendra mengulang pelan,
“Riyadi…”
Sulton tersenyum miring.
“Kelihatannya dia mulai dekat juga.”
Hendra mengepalkan tangan.
“Tidak masalah.”
Sulton menoleh.
“Tidak masalah?”
Hendra menatap lurus.
“Justru bagus. Biar permainan ini
lebih jelas.”
Sulton menghela napas.
“Kau terlalu serius.”
Hendra menjawab dingin,
“Dalam hal yang aku inginkan… aku
tidak pernah main-main.”
Yanti dan Riyadi terus berjalan tanpa
sadar.
Dan untuk pertama kalinya, di antara
hiruk pikuk Bundaran Besar Kuala Kapuas…
dua dunia yang berbeda mulai saling
bersentuhan tanpa mereka sadari.
BAB III
TAWA DI KANTIN SEKOLAH
Pagi di SMA Kapuas kembali dimulai
dengan riuh suara siswa yang memenuhi halaman sekolah.
Belum lama matahari naik sempurna,
kantin sudah menjadi pusat keramaian.
Rayhan sudah duduk paling duluan,
menatap mie gorengnya seperti sedang menghadapi “misi hidup”.
Dadang yang duduk di depannya langsung
menggeleng.
“Serius aku heran,” kata Dadang, “kau
itu makan atau latihan ikut lomba?”
Rayhan tanpa menoleh menjawab,
“Aku ini sedang mengisi energi.”
Alex tertawa sambil menarik kursi.
“Energi buat apa? Lari dari
kenyataan?”
Rayhan langsung menunjuk Alex.
“Buat bertahan hidup di dunia yang
kejam ini.”
Ujang yang baru datang langsung duduk
sambil menyeruput es teh.
“Dunia kejam atau kau saja yang lapar
terus?”
Rayhan berhenti makan, lalu menatap
mereka satu per satu.
“Kalian ini tidak paham. Perut kosong
itu awal dari kehancuran emosional.”
Dadang langsung tertawa.
“Kalau begitu kau sudah hancur dari
lahir.”
Semua langsung tertawa.
Rayhan ikut tertawa, lalu kembali
makan dengan tenang.
Tidak jauh dari sana, pintu kantin
terbuka.
Amanda, Julaeha, Anis, dan Yanti masuk
bersama.
Julaeha langsung membuka suara seperti
biasa.
“Perhatian! Bintang SMA Kapuas baru
saja hadir!”
Yanti langsung menoleh.
“Jangan lebay.”
Amanda tersenyum kecil.
“Dia memang begitu setiap hari.”
Julaeha tidak peduli.
“Tapi serius, lihat saja sendiri.”
Beberapa siswa laki-laki langsung
menoleh ke arah Yanti.
Bahkan ada yang pura-pura minum hanya
untuk mencuri pandang.
Anis berbisik pelan,
“Kadang jadi pusat perhatian itu
melelahkan.”
Amanda menoleh.
“Kau tidak suka?”
Anis menggeleng pelan.
“Aku tidak bilang tidak suka. Aku cuma
bilang… itu tidak selalu nyaman.”
Yanti mendengar itu lalu tersenyum
kecil.
“Benar juga.”
Di meja Rayhan.
Dadang langsung menyikut Rayhan.
“Itu dia.”
Rayhan membenarkan posisi duduk.
“Siapa?”
“Yang bikin kau lupa cara makan
sopan.”
Rayhan langsung merapikan rambut.
“Aku selalu sopan.”
Alex tertawa.
“Sopan dari mana? Kau makan seperti
orang tiga hari puasa.”
Rayhan menunjuk Yanti dari jauh.
“Fokus. Momen penting ini.”
Ujang menggeleng.
“Kalau gagal jangan salahkan takdir.”
Rayhan tersenyum percaya diri.
“Aku tidak pernah gagal dalam urusan
pendekatan.”
Dadang langsung menyela.
“Pendekatan ke warung iya.”
Semua tertawa lagi.
Di sudut lain kantin, Riyadi duduk
tenang sambil meminum es tehnya.
Tidak banyak bicara.
Namun matanya sesekali melirik ke arah
Yanti.
Rayhan langsung menangkap itu.
“Waduh.”
Riyadi menoleh.
“Apa lagi?”
Rayhan menyeringai.
“Kau itu lihatnya terlalu sering tapi
mengaku tidak melihat.”
Riyadi menghela napas.
“Aku cuma kebetulan melihat.”
Alex ikut menimpali.
“Banyak kebetulan ya hidupmu.”
Riyadi menjawab datar.
“Memang begitu.”
Dadang tertawa kecil.
“Kang Riyadi ini tipe yang kalau jatuh
cinta, denial dulu lima musim.”
Riyadi langsung menatapnya.
“Aku tidak jatuh cinta.”
Rayhan langsung menunjuk.
“Nah itu dia! Kalimat klasik tahap
awal.”
Riyadi diam.
Karena semakin ia menyangkal… semakin
ia sendiri tidak yakin.
Tiba-tiba suasana kantin berubah.
Hendra masuk bersama Sulton.
Langkahnya percaya diri, kepala
sedikit terangkat, seperti selalu tahu semua orang akan melihatnya.
Sulton di sampingnya membawa buku
kecil.
“Aku bilang juga apa,” gumam Sulton,
“tempat ini selalu penuh drama.”
Hendra menatapnya.
“Drama itu hanya terjadi pada orang
yang tidak tahu apa yang diinginkan.”
Sulton tersenyum.
“Atau orang yang terlalu yakin ingin
memiliki semuanya.”
Hendra tidak menjawab.
Matanya langsung mencari satu titik.
Yanti.
Mereka berjalan ke meja Yanti.
Amanda langsung menyadari.
Julaeha berbisik cepat,
“Waduh… trio mulai datang.”
Yanti sedikit menegakkan duduknya.
Hendra berdiri di depan meja.
“Boleh duduk?”
Amanda saling pandang dengan Yanti.
Yanti pelan menjawab,
“Silakan.”
Hendra duduk tanpa ragu.
“Lagi ngobrol apa?”
Yanti menjawab singkat,
“Tidak ada.”
Sulton langsung tersenyum kecil.
“Tidak ada itu kadang paling banyak
isinya.”
Julaeha langsung menutup mulutnya agar
tidak tertawa.
Amanda menahan senyum.
“Dia ini selalu begitu ya?” bisik Amanda
ke Yanti.
Yanti mengangguk kecil.
“Sepertinya.”
Di meja Rayhan.
Rayhan langsung mengernyit.
“Dia itu selalu tampil percaya diri
ya.”
Dadang menjawab santai.
“Itu bukan percaya diri. Itu yakin
menang.”
Alex menatap meja Yanti.
“Masalahnya dia memang selalu merasa
begitu.”
Riyadi tetap diam.
Namun tangannya sedikit mengencang di
gelas es teh.
Rayhan memperhatikan itu.
“Kau kenapa?”
Riyadi menjawab singkat.
“Tidak apa-apa.”
Rayhan tersenyum kecil.
“Jawaban klasik orang yang lagi tidak
baik-baik saja.”
Di meja Yanti.
Hendra mulai bicara panjang.
“Aku baru selesai latihan basket. Kita
akan ikut turnamen antar sekolah.”
Yanti mengangguk pelan.
“Oh…”
Sulton menyelipkan kata dramatis,
“Setiap pertandingan adalah perang,
dan setiap perang adalah kisah jiwa.”
Julaeha hampir tersedak.
“Kenapa tiap kalimat dia seperti
pengumuman akhir dunia?”
Amanda menahan tawa.
Hendra melanjutkan,
“Kalau kamu mau nonton, aku bisa
sisihkan tempat.”
Yanti tersenyum sopan.
“Terima kasih.”
Tapi Amanda langsung menangkap sesuatu.
“Dia terlihat tidak terlalu nyaman,”
bisiknya ke Anis.
Anis mengangguk pelan.
“Dia hanya berusaha menjaga sikap.”
Di sisi lain, Riyadi terus
memperhatikan.
Rayhan menepuk bahunya pelan.
“Kalau kau terus lihat, nanti
ketahuan.”
Riyadi menjawab pelan.
“Aku tidak sedang melakukan apa-apa.”
Rayhan tersenyum.
“Justru itu masalahnya.”
Bel masuk berbunyi.
Kantin mulai sepi.
Semua berdiri.
Saat Yanti berjalan keluar, bukunya
jatuh.
“Ah,” ucap Yanti pelan.
Riyadi tanpa sadar langsung
membungkuk.
“Aku ambil.”
Yanti juga ikut membungkuk.
Jari mereka bersentuhan sesaat.
Dingin.
Singkat.
Tapi cukup membuat keduanya berhenti
sepersekian detik.
Yanti menarik bukunya.
“Terima kasih.”
Riyadi mengangguk.
“Iya.”
Hening kecil.
Sangat kecil.
Tapi terasa panjang.
Dari kejauhan, Hendra melihat itu.
Tatapannya langsung mengeras.
Sulton berdiri di sampingnya.
“Sudah mulai terlihat ya,” katanya
pelan.
Hendra menjawab dingin,
“Belum.”
Sulton menatapnya.
“Belum?”
Hendra mengalihkan pandangan.
“Ini baru awal.”
Dan di bawah langit SMA Kapuas itu,
tanpa ada yang benar-benar menyadari…
tawa di kantin baru saja berubah
menjadi awal dari persaingan yang jauh lebih serius dari sekadar perasaan
remaja biasa.
BAB IV
GADIS YANG DUDUK DI DEKAT JENDELA
Langit Kuala Kapuas pagi itu tampak
cerah.
Suasana SMA Kapuas seperti biasa
dipenuhi suara siswa yang datang, tawa di koridor, dan langkah kaki yang saling
bersahutan.
Namun di kelas XI IPS 2, ada satu
titik yang selalu sama setiap hari.
Dekat jendela.
Yanti duduk di sana.
Amanda menatapnya sambil tersenyum
kecil.
“Kau selalu duduk di situ ya,” kata
Amanda.
Yanti menoleh pelan.
“Kenapa memang?”
“Tidak ada. Cuma… seperti tempat
favorit.”
Yanti tersenyum kecil.
“Angin di sini lebih tenang.”
Julaeha yang duduk di belakang
langsung menyela.
“Tenang? Itu alasan paling estetik
yang pernah kudengar.”
Amanda langsung menatapnya.
“Kau jangan mulai.”
“Aku serius,” kata Julaeha cepat.
“Kalau aku duduk di situ, aku pasti sudah jadi pujangga dadakan.”
Yanti tertawa kecil.
“Kau saja yang berlebihan.”
Julaeha menunjuk Yanti.
“Nah! Dia tertawa lagi. Lihat? Itu
bukti kamu bikin suasana jadi beda.”
Amanda menghela napas.
“Kau ini selalu saja mencari drama.”
“Bukan drama,” balas Julaeha. “Ini
observasi sosial.”
Di barisan belakang kelas.
Rayhan langsung menoleh.
Dadang menyikut lengannya.
“Lihat.”
“Apa.”
“Yang bikin kau jadi manusia paling
rajin menoleh tiap pagi.”
Rayhan langsung pura-pura santai.
“Aku cuma lihat suasana kelas.”
Alex tertawa pelan.
“Suasana kelas atau orang tertentu?”
Rayhan menatap mereka.
“Kalian ini terlalu banyak analisis.”
Ujang yang duduk di samping langsung
menambahkan,
“Orang kalau sudah mulai denial,
biasanya sudah terlambat.”
Rayhan langsung menunjuk mereka.
“Diam kalian.”
Namun matanya tetap kembali ke arah
Yanti.
Di sisi lain kelas.
Riyadi duduk diam.
Buku terbuka di depannya.
Namun matanya tidak benar-benar
membaca.
Rayhan menyenggolnya.
“Kau lagi baca atau lagi menatap masa
depan?”
Riyadi menoleh.
“Aku baca.”
Rayhan menyeringai.
“Baca atau menatap jendela?”
Riyadi diam sebentar.
“Aku hanya melihat sekilas.”
Dadang langsung tertawa.
“Sekilas itu definisi paling
berbahaya.”
Alex menambahkan.
“Iya, biasanya dari sekilas jadi tidak
pulang-pulang.”
Riyadi menghela napas.
“Kalian ini terlalu berisik.”
Rayhan tersenyum.
“Kami hanya jujur.”
Di depan kelas.
Yanti menulis sesuatu di bukunya.
Amanda menoleh.
“Apa yang kau tulis?”
“Catatan.”
“Catatan apa?”
Yanti ragu sebentar.
“Tidak penting.”
Julaeha langsung mendekat.
“Pasti catatan rahasia.”
Yanti langsung menutup bukunya.
“Bukan.”
Amanda tersenyum kecil.
“Kau sekarang jadi misterius.”
Yanti menggeleng.
“Aku tidak merasa begitu.”
Bel pelajaran berbunyi.
Bu Ratna masuk ke kelas.
“Baik, hari ini kita belajar puisi.”
Julaeha langsung mendesah keras.
“Bu, kenapa selalu puisi?”
Bu Ratna tersenyum.
“Karena kalian perlu belajar
merasakan.”
Dadang langsung berbisik ke Rayhan.
“Aku sudah cukup merasa lapar.”
Rayhan tertawa pelan.
“Itu juga perasaan.”
Bu Ratna melanjutkan.
“Tugas kalian, buat puisi tentang
perasaan masa muda.”
Seluruh kelas langsung ribut.
“Bu, itu susah!”
“Bu, bisa tentang mie ayam tidak?”
Bu Ratna tertawa.
“Boleh, kalau itu perasaan terdalam
kalian.”
Dadang langsung berbisik.
“Kalau aku, puisinya tentang bakso.”
Rayhan menepuk bahunya.
“Itu puisi nasional nanti.”
Di tengah kelas.
Sulton langsung berdiri sedikit dari
duduknya.
“Inilah panggung jiwa!” katanya
dramatis.
Alex langsung menutup wajah.
“Tolong ada yang hentikan dia.”
Sulton tidak peduli.
“Puisi adalah suara hati yang tidak
berani keluar.”
Julaeha berbisik ke Amanda.
“Dia kalau ngomong bisa bikin sinetron
satu episode.”
Amanda menahan tawa.
Rayhan menulis sebentar lalu berbisik
ke Riyadi.
“Kau mau nulis apa?”
Riyadi menjawab pelan.
“Aku tidak tahu.”
“Biasanya kau paling pintar.”
“Aku tidak selalu tahu apa yang harus
ditulis.”
Rayhan menyenggol.
“Tulis saja apa yang kau rasakan.”
Riyadi diam.
“Aku tidak terbiasa menulis perasaan.”
Rayhan tersenyum.
“Justru itu tugasnya puisi.”
Di sisi lain.
Yanti menatap keluar jendela.
Amanda memperhatikan.
“Kau dari tadi lihat jendela terus.”
Yanti tersadar.
“Tidak apa-apa.”
Julaeha menyipit.
“Jangan-jangan ada orang di luar
sana.”
Yanti langsung menoleh cepat.
“Tidak ada.”
Amanda tersenyum kecil.
“Kau aneh hari ini.”
Yanti pelan menjawab.
“Aku hanya… berpikir.”
Waktu berjalan.
Kelas mulai tenang.
Hanya suara pena dan kertas.
Riyadi mulai menulis.
Rayhan mengintip.
“Kau serius menulis?”
“Iya.”
“Puisi?”
“Mungkin.”
Rayhan menyeringai.
“Kalau kau sampai jadi penyair
terkenal, jangan lupa aku.”
Riyadi menjawab datar.
“Kau tidak akan aku lupakan.”
Rayhan tertawa.
“Bagus.”
Di luar kelas.
Hendra berdiri bersandar di tembok.
Sulton di sampingnya.
“Kau memperhatikan terlalu serius,”
kata Sulton.
Hendra menjawab dingin.
“Ada sesuatu yang tidak beres.”
“Yang mana?”
Hendra menatap ke dalam kelas.
“Riyadi.”
Sulton tersenyum kecil.
“Dia?”
Hendra mengangguk.
“Dia tidak seperti orang biasa.”
Sulton menutup bukunya pelan.
“Orang pendiam memang sering paling
berbahaya.”
Hendra mengepalkan tangan.
“Dan aku tidak suka kalau ada yang
mengganggu rencanaku.”
Sulton menatapnya.
“Rencana atau perasaan?”
Hendra tidak menjawab.
Di dalam kelas.
Yanti menulis puisi pelan.
Amanda berbisik.
“Kau menulis tentang siapa?”
Yanti langsung menjawab cepat.
“Tidak tentang siapa pun.”
Amanda tersenyum.
“Jawaban yang terlalu cepat biasanya
tidak jujur.”
Yanti diam.
Di saat yang sama.
Riyadi tanpa sadar menulis satu
kalimat di bukunya:
“Gadis yang duduk di dekat jendela,
membuat hari-hari terasa tidak lagi sama.”
Ia berhenti.
Menatap tulisannya.
Dan untuk pertama kalinya… ia tidak
menghapusnya.
Bel istirahat berbunyi.
Suasana kelas pecah lagi.
Namun sesuatu sudah berubah.
Tanpa mereka sadari, satu perasaan
kecil sudah mulai tumbuh di antara halaman-halaman catatan itu.
Dan di luar kelas…
Hendra menatap dari kejauhan.
“Ini akan jadi lebih menarik,” katanya
pelan.
Sulton menutup bukunya.
“Tapi juga lebih berbahaya.”
BAB V
PEMBURU CINTA PERTAMA
Hari-hari di SMA Kapuas mulai berubah
perlahan.
Jika sebelumnya sekolah hanya dipenuhi
tawa dan rutinitas remaja biasa, kini ada sesuatu yang diam-diam tumbuh di
antara koridor, kantin, taman, hingga jalan-jalan Kota Kuala Kapuas.
Sesuatu yang tidak bisa dilihat,
tetapi terasa.
Perasaan.
Dan ketika perasaan mulai tumbuh di
hati anak-anak yang baru belajar memahami cinta pertama, maka segalanya tidak
pernah lagi sederhana.
Pagi itu langit Kota Kuala Kapuas
sedikit mendung.
Di halaman SMA Kapuas, suara siswa
sudah riuh sejak sebelum bel masuk berbunyi.
Rayhan berdiri di depan spion motor, merapikan
rambutnya berkali-kali.
Dadang yang lewat langsung tertawa
keras.
“Dari tadi kau sisir terus, Rayhan.
Itu rambut atau ladang percobaan?”
Rayhan tanpa menoleh menjawab cepat.
“Diam kau. Ini hari penting.”
Alex yang duduk di motor langsung
menyahut.
“Hari penting apa? Ulangan dadakan?”
Rayhan menoleh dengan wajah serius.
“Hari penentuan.”
Ujang yang baru datang membawa es teh
hampir tersedak.
“Penentuan apa? Hidupmu?”
Rayhan menunjuk dadanya sendiri.
“Cinta.”
Dadang langsung tertawa sampai
membungkuk.
“Wah, ini sudah level film sinetron
jam tujuh malam.”
Rayhan tetap serius.
“Kalian boleh bercanda. Tapi aku tidak
mau kalah sebelum mencoba.”
Alex menyender santai.
“Yakin mau mulai perang?”
Rayhan mengangguk pelan.
“Ini bukan perang. Ini… perjuangan.”
Tidak jauh dari mereka, Riyadi baru
datang dengan motor tuanya.
Rayhan langsung menghampiri.
“Eh Kang Riyadi.”
“Apa?” jawab Riyadi tenang.
Rayhan menatapnya serius.
“Kalau kau suka seseorang… kau
biasanya bagaimana?”
Riyadi mengerutkan sedikit kening.
“Kenapa tanya itu?”
“Jawab saja.”
Riyadi diam sebentar.
“Aku akan jujur pada diriku sendiri
dulu.”
Rayhan mengangguk cepat.
“Lalu?”
“Kalau memang pantas diperjuangkan,
aku tidak akan setengah hati.”
Rayhan tersenyum kecil.
“Kalau banyak saingan?”
Riyadi menatap halaman sekolah yang
mulai ramai.
“Saingan bukan masalah utama.”
Rayhan mengernyit.
“Lalu apa?”
Riyadi menjawab pelan.
“Yang paling penting itu… apakah kita
siap bertahan tanpa harus kehilangan diri sendiri.”
Kalimat itu membuat Rayhan terdiam.
Dadang yang mendengar dari belakang
ikut menoleh.
“Wah, ini bukan jawaban orang jatuh
cinta… ini jawaban orang habis disakiti hidup.”
Riyadi hanya tersenyum tipis.
“Bukan. Ini hanya jawaban orang yang
tidak mau terburu-buru.”
Suara motor sport masuk ke halaman
sekolah.
Hendra datang.
Semua siswa perempuan langsung
menoleh.
Dadanya tegap, langkahnya yakin.
Sulton menyusul di belakang sambil
membawa buku kecil.
Sulton langsung berkata dramatis
sambil menatap langit.
“Langit mendung pagi ini… seperti hati
yang menunggu jawaban.”
Dadang berbisik ke Alex.
“Kalau dia ngomong terus begini, aku
pindah planet.”
Alex tertawa kecil.
“Biar saja. Setidaknya dia konsisten
sok puitis.”
Hendra langsung mencari arah
pandangannya.
Yanti.
Gadis itu sedang berjalan bersama Amanda
dan Anis.
Hendra tersenyum kecil.
“Akhirnya datang juga.”
Sulton menyikut pelan.
“Kau masih yakin mengejarnya?”
Hendra menjawab tanpa ragu.
“Bukan yakin lagi. Ini kepastian.”
Sulton menghela napas kecil.
“Kau mengejar orang, bukan
kemenangan.”
Hendra menatapnya.
“Kalau aku berhenti, itu sama saja
kalah.”
Di kelas, suasana mulai terasa
berbeda.
Rayhan mulai lebih sering
memperhatikan Yanti.
Hendra mulai sering muncul di
dekatnya.
Sulton mulai menyelipkan perhatian
lewat kata-kata.
Dan Riyadi… tetap diam.
Tapi diamnya mulai terlihat oleh
Yanti.
Di lapangan saat pelajaran olahraga.
Rayhan berlari dengan semangat.
“Aku bebas! Oper sini!”
Dadang berteriak dari belakang.
“Dia main bola atau cari perhatian?”
Rayhan berhasil mencetak gol lalu
langsung menoleh ke arah pinggir lapangan.
Namun senyumnya perlahan hilang.
Yanti sedang duduk.
Dan di sebelahnya… Riyadi.
Mereka berbicara pelan.
Tidak ramai.
Tidak berlebihan.
Tapi terlihat… nyaman.
Dadang menghampiri Rayhan.
“Kau lihat itu?”
Rayhan menghapus keringat di wajahnya.
“Aku lihat.”
“Masih mau lanjut?”
Rayhan tertawa kecil.
“Tentu.”
“Kenapa?”
Rayhan menatap langit mendung.
“Karena kalau aku berhenti sekarang…
aku akan menyesal.”
Di pinggir lapangan.
Yanti membuka buku catatan Riyadi.
“Ini tulisanmu?”
Riyadi mengangguk.
“Hanya coretan.”
Yanti membaca pelan.
“Terkadang manusia mencari jauh…
padahal yang ditunggu ada di dekatnya.”
Yanti menatapnya.
“Kau sering berpikir seperti ini?”
Riyadi menjawab pelan.
“Kadang.”
Yanti tersenyum kecil.
“Kau tidak banyak bicara, tapi
tulisanmu banyak bicara.”
Riyadi sedikit gugup.
“Itu hanya kata-kata.”
Yanti menutup buku.
“Tapi terasa jujur.”
Hening sebentar.
Lalu Yanti bertanya pelan.
“Kenapa kau selalu terlihat tenang?”
Riyadi menatapnya.
“Karena kalau aku ikut panik seperti
orang lain… aku tidak akan bisa berpikir jernih.”
Yanti mengangguk kecil.
“Aku iri.”
Riyadi terkejut.
“Iri?”
Yanti tersenyum tipis.
“Kau tahu apa yang kau rasakan. Aku
tidak.”
Dari kejauhan, Rayhan melihat itu.
Dadang menyenggol bahunya.
“Masih kuat?”
Rayhan tersenyum kecil.
“Entahlah.”
“Kau mau mundur?”
Rayhan menggeleng pelan.
“Tidak.”
“Kenapa?”
Rayhan menatap Yanti dari jauh.
“Karena aku belum pernah benar-benar
mencoba.”
Di sisi lain, Hendra mengepalkan
tangan.
Sulton memperhatikan.
“Kau tidak suka itu?”
Hendra menjawab dingin.
“Aku tidak suka kalah tanpa
bertanding.”
Sulton menatapnya lama.
“Kau tidak sedang bertanding. Kau
sedang memasuki hati seseorang.”
Hendra tersenyum tipis.
“Dan aku akan menjadi yang paling dia
pilih.”
Sulton menggeleng pelan.
“Cinta tidak bekerja seperti itu.”
Hendra tidak menjawab.
Karena baginya… cinta memang harus
diperjuangkan seperti kemenangan.
Bel sekolah berbunyi.
Siswa mulai bubar.
Namun di antara langkah-langkah yang
berhamburan itu…
empat hati mulai bergerak ke arah yang
berbeda.
Rayhan dengan keberanian.
Hendra dengan ambisi.
Sulton dengan kata-kata.
Dan Riyadi dengan diam yang semakin
dalam.
Sementara Yanti…
mulai menyadari satu hal yang
membuatnya sulit tidur di malam hari.
Bahwa di antara semua perhatian yang
ia terima…
yang paling membuatnya tenang justru
yang paling tidak memintanya untuk memilih.
BAB VI
CITY MALL DAN RAHASIA PERASAAN
Sabtu sore di Kota Kuala Kapuas selalu
memiliki suasana yang berbeda.
Jalanan kota tampak lebih ramai dari
biasanya. Kendaraan memenuhi Jalan Jenderal Sudirman hingga Bundaran Besar
Kuala Kapuas. Para remaja mulai keluar menikmati akhir pekan bersama
teman-teman mereka. Pedagang kaki lima berjejer di pinggir jalan menawarkan
jajanan khas kota. Lampu pertokoan mulai menyala satu per satu ketika matahari
perlahan turun menuju ufuk barat.
Dan di antara semua tempat yang ramai
sore itu, City Mall Kuala Kapuas menjadi salah satu pusat keramaian anak muda.
Mall itu tidak sebesar pusat
perbelanjaan di kota-kota besar.
Namun bagi remaja SMA Kapuas, tempat
itu sudah cukup menjadi dunia kecil yang penuh cerita.
Ada bioskop mini.
Tempat permainan.
Kafe sederhana.
Toko buku.
Dan sudut-sudut tempat duduk yang
sering menjadi saksi lahirnya rasa suka diam-diam.
Sore itu Amanda mengajak
teman-temannya berkumpul di City Mall untuk melepas penat setelah ujian
mingguan selesai.
“Aku bosan terus belajar,” keluh
Julaeha sambil berjalan memasuki mall.
“Kau memang lebih sering bosan
daripada belajar,” jawab Amanda santai.
Julaeha langsung manyun.
Yanti yang berjalan di tengah mereka
hanya tertawa kecil.
Sementara Anis tetap seperti biasa,
tenang dan tidak banyak bicara.
Di sisi lain, Rayhan bersama Dadang,
Alex, Ujang, Riyadi, Herman, dan Bambang juga baru sampai.
Rayhan tampak sangat semangat sejak
tadi.
Ia bahkan beberapa kali membenarkan
kerah bajunya sendiri.
Dadang sampai geleng kepala melihat
tingkahnya.
“Kau mau jalan atau wawancara calon
mertua?”
Rayhan menunjuk dirinya sendiri.
“Penampilan adalah kunci masa depan.”
Alex tertawa kecil.
“Kalau begitu masa depanmu terlalu
banyak minyak rambut.”
Mereka semua tertawa.
Namun Riyadi justru tampak lebih diam
dari biasanya.
Ia berjalan santai sambil sesekali
memandang suasana mall yang ramai.
Sejujurnya ia tidak terlalu suka
tempat ramai.
Tetapi entah kenapa sejak tahu Yanti
ikut datang, ia tetap memutuskan ikut berkumpul sore itu.
Dan benar saja.
Saat memasuki area depan toko buku,
mata Riyadi langsung menemukan sosok Yanti.
Gadis itu sedang berdiri sambil
melihat beberapa novel di rak buku bersama Amanda.
Cahaya lampu mall membuat wajahnya
tampak hangat.
Senyumnya kecil ketika membaca judul
buku lucu yang ditunjukkan Julaeha.
Dan tanpa sadar…
Riyadi tersenyum sendiri melihatnya.
Rayhan yang menyadari itu langsung
berbisik pelan.
“Kau benar-benar sudah tenggelam.”
Riyadi menoleh kecil.
“Apa.”
“Tatapanmu.”
Riyadi tidak menjawab.
Karena jauh di dalam hati, ia sendiri
mulai sadar bahwa perasaannya bukan lagi sekadar kagum biasa.
Mereka akhirnya berkumpul di area food
court mall.
Suasana ramai dipenuhi suara musik
pelan dan percakapan pengunjung.
Amanda memilih duduk di tengah.
Julaeha langsung sibuk memilih
makanan.
Sedangkan Yanti duduk tenang sambil
memperhatikan suasana sekitar.
Rayhan sengaja duduk di dekat Yanti.
Sementara Riyadi memilih kursi agak
ujung seperti biasa.
Namun justru posisi itu membuatnya
bisa melihat semuanya dengan jelas.
“Aku lapar sekali,” keluh Julaeha.
“Itu kalimat yang selalu kau ucapkan
setiap lima menit,” kata Amanda.
Dadang tertawa.
“Kalau Julaeha jadi menteri mungkin
anggaran negara habis buat makan.”
“Eh diam ya.”
Suasana meja mereka dipenuhi tawa.
Untuk sesaat semuanya terasa hangat.
Seperti persahabatan biasa.
Seperti tidak ada persaingan.
Seperti tidak ada hati yang mulai
saling berebut diam-diam.
Namun semua itu berubah ketika Hendra
datang.
Pemuda itu muncul bersama Sulton dari
arah eskalator.
Penampilannya rapi dan penuh percaya
diri seperti biasa.
Beberapa orang bahkan menoleh saat ia
lewat.
Hendra langsung tersenyum ketika
melihat Yanti.
“Kebetulan sekali bertemu di sini,”
katanya.
Rayhan langsung memalingkan wajah
sambil mendecak pelan.
Dadang berbisik kecil.
“Bau persaingan mulai terasa.”
Sulton duduk santai sambil melihat
suasana mall.
“Tempat ramai seperti ini selalu
menarik,” katanya pelan.
“Kenapa,” tanya Amanda.
“Karena di tempat ramai, manusia
paling sering menyembunyikan kesepian.”
Julaeha langsung berbisik ke Anis.
“Nah mulai lagi puisinya.”
Anis hanya tersenyum tipis.
Hendra kemudian menawarkan minuman
kepada Yanti.
“Aku traktir.”
“Tidak usah repot,” jawab Yanti sopan.
“Tidak apa-apa.”
Rayhan langsung ikut bicara.
“Kalau traktir semua saja biar adil.”
Hendra tersenyum tipis.
“Tentu.”
Namun senyum itu terasa dingin.
Ada persaingan halus mulai muncul di
antara mereka.
Dan semua orang mulai menyadarinya.
Setelah makan, mereka berjalan-jalan
mengelilingi mall bersama.
Amanda dan Julaeha masuk ke toko
aksesoris.
Dadang sibuk mencoba kacamata lucu di
toko depan.
Alex dan Ujang malah asyik bermain
game basket di arena permainan.
Sedangkan Riyadi berjalan pelan di
belakang rombongan.
Yanti yang menyadari itu akhirnya
memperlambat langkahnya.
“Kau tidak suka tempat ramai ya,”
tanya Yanti pelan.
Riyadi tersenyum kecil.
“Kelihatan sekali?”
“Sedikit.”
“Aku lebih suka tempat tenang.”
“Seperti Dermaga KP3?”
Riyadi sedikit terkejut.
“Kau ingat?”
Yanti mengangguk kecil.
“Aku juga suka tempat itu.”
Mereka berjalan berdampingan beberapa
saat.
Suasana mall yang ramai seperti
menghilang sesaat di antara mereka.
Sampai akhirnya Yanti berkata pelan.
“Kadang aku capek kalau terlalu banyak
orang memperhatikan.”
Riyadi menoleh.
“Maksudmu?”
Yanti menghela napas kecil.
“Aku tidak suka jadi pusat perhatian.”
Kalimat itu membuat Riyadi diam.
Untuk pertama kalinya ia sadar bahwa
di balik senyum Yanti, ada rasa lelah yang tidak semua orang pahami.
Banyak orang mengejar Yanti.
Banyak yang ingin memilikinya.
Tetapi sedikit yang benar-benar
mencoba memahami perasaannya.
Dan Riyadi perlahan mulai ingin
menjadi orang itu.
Dari kejauhan, Rayhan memperhatikan
mereka dengan tatapan gelisah.
Sedangkan Hendra mulai terlihat kesal.
Tangan Hendra mengepal perlahan.
Ia tidak suka melihat Yanti nyaman
bersama Riyadi.
Baginya, perhatian Yanti seharusnya
tertuju padanya.
Sementara itu Sulton berdiri di dekat
balkon mall sambil memandang keramaian di bawah.
“Cinta memang lucu,” katanya pelan.
Dadang yang berdiri di dekatnya
mengernyit.
“Lucu bagaimana.”
“Karena manusia bisa berubah hanya
demi satu orang.”
Dadang terdiam sejenak.
Untuk pertama kali…
Ucapan Sulton terdengar benar.
Malam mulai turun di Kota Kuala
Kapuas.
Lampu jalan di luar mall menyala
terang.
Keramaian kota semakin hidup.
Namun di tengah semua itu…
Perasaan para pemburu cinta mulai
semakin rumit.
Rayhan mulai takut kehilangan.
Hendra mulai dipenuhi ambisi.
Sulton mulai menikmati drama hati yang
perlahan tumbuh.
Dan Riyadi…
Mulai jatuh cinta lebih dalam daripada
yang pernah ia bayangkan.
Sementara Yanti sendiri belum sadar
sepenuhnya…
Bahwa hatinya perlahan mulai menemukan
satu tempat yang terasa paling tenang.
Dan tempat itu…
Adalah seseorang yang selama ini lebih
banyak mencintainya dalam diam.
BAB VII
HUJAN DI JALAN JENDERAL SUDIRMAN
Langit Kuala Kapuas pagi itu tampak
kelabu sejak matahari belum benar-benar muncul.
Awan hitam menggantung rendah di atas
kota. Angin bertiup lebih dingin dari biasanya. Pepohonan di sepanjang Jalan
Jenderal Sudirman bergerak perlahan diterpa udara lembap pertanda hujan akan
segera turun.
Di SMA Kapuas sendiri, suasana sekolah
tetap ramai seperti biasa.
Suara siswa bercampur dengan dentingan
bel kelas dan langkah kaki di koridor. Namun entah kenapa, hari itu suasana
hati beberapa orang terasa lebih gelisah dari biasanya.
Terutama para pemburu cinta yang mulai
terjebak dalam perasaan masing-masing.
Riyadi pagi itu datang lebih awal dari
biasanya.
Ia memarkir motor tuanya di dekat
taman sekolah lalu duduk sendirian di bangku bawah pohon ketapang sambil
memandangi langit mendung.
Tangannya memegang buku kecil tempat
ia sering menulis.
Kadang puisi.
Kadang sekadar isi pikirannya sendiri.
Bagi Riyadi, menulis adalah cara
paling aman untuk menyimpan perasaan.
Karena tidak semua hal mudah diucapkan
langsung.
Suara langkah kaki pelan membuatnya
menoleh.
Yanti berdiri beberapa meter di
depannya sambil memegang payung lipat kecil.
“Kau datang pagi sekali,” kata Yanti
lembut.
Riyadi sedikit terkejut lalu tersenyum
kecil.
“Tidak bisa tidur.”
“Kenapa.”
“Biasa saja.”
Yanti duduk perlahan di sampingnya.
Angin pagi bertiup pelan membawa aroma
tanah basah.
Suasana sekolah belum terlalu ramai
sehingga taman terasa lebih tenang dibanding biasanya.
Untuk beberapa saat mereka hanya diam.
Namun anehnya, diam bersama Yanti
tidak pernah terasa canggung bagi Riyadi.
Justru menenangkan.
“Aku suka suasana pagi seperti ini,”
kata Yanti pelan sambil memandang langit mendung.
“Kenapa?”
“Karena kota terasa lebih tenang.”
Riyadi mengangguk kecil.
“Kuala Kapuas memang lebih indah saat
pagi atau senja.”
Yanti tersenyum kecil.
“Kau selalu bicara seperti penulis
novel.”
Riyadi tertawa pelan.
“Mungkin karena aku terlalu banyak
diam.”
Yanti menoleh menatapnya beberapa
detik.
“Kadang orang yang banyak diam justru
paling banyak memikirkan sesuatu.”
Kalimat itu kembali membuat Riyadi
sulit menjawab.
Karena Yanti selalu seperti itu.
Bisa mengatakan sesuatu yang sederhana
tetapi langsung menyentuh isi hatinya.
Bel masuk akhirnya berbunyi.
Suasana sekolah kembali ramai.
Dan sejak pagi itu, tanpa sadar
hubungan Riyadi dan Yanti mulai terasa semakin dekat.
Namun semakin dekat mereka…
Semakin besar pula rasa gelisah di
hati orang lain.
Di dalam kelas, Rayhan mulai terlihat
tidak setenang biasanya.
Ia masih bercanda seperti biasa.
Masih tertawa keras.
Masih menjadi pusat keramaian.
Tetapi matanya beberapa kali menangkap
kedekatan Riyadi dan Yanti yang mulai berbeda.
Dadang yang duduk di sebelahnya
akhirnya berbisik pelan.
“Kau mulai takut ya.”
Rayhan tertawa kecil hambar.
“Takut apa.”
“Kehilangan sebelum sempat memiliki.”
Rayhan diam.
Untuk pertama kali sejak ia mulai
menyukai Yanti…
Ia benar-benar merasa punya saingan
yang serius.
Bukan Hendra.
Bukan Sulton.
Tetapi Riyadi.
Karena semakin hari, Yanti tampak
semakin nyaman berada di dekat pemuda pendiam itu.
Sementara di sudut lain kelas, Hendra
juga mulai memperhatikan semuanya dengan tatapan dingin.
Tangannya mengetuk meja perlahan.
Wajahnya tetap tenang.
Namun isi pikirannya penuh ambisi.
Ia tidak suka dikalahkan.
Apalagi oleh seseorang yang menurutnya
tidak punya apa-apa selain ketulusan.
Baginya, cinta harus dimenangkan.
Bukan ditunggu dalam diam.
Pelajaran hari itu berjalan lambat.
Langit semakin gelap menjelang sore.
Angin kencang mulai terdengar dari
luar kelas.
Dan tepat ketika bel pulang sekolah
berbunyi…
Hujan turun sangat deras.
Suara air menghantam atap sekolah
terdengar keras.
Koridor mendadak ramai oleh siswa yang
tertahan hujan.
Sebagian berteriak heboh.
Sebagian sibuk menelepon orang tua.
Ada yang nekat berlari menerobos hujan
sambil tertawa.
Kota Kuala Kapuas mendadak berubah
basah.
Jalanan mulai dipenuhi genangan air.
Lampu kendaraan menyala lebih awal
karena langit begitu gelap.
Riyadi berdiri di dekat parkiran
sambil memakai jaket tipisnya.
Matanya memperhatikan hujan yang turun
tanpa tanda akan berhenti.
Sampai akhirnya ia melihat Yanti
berdiri sendirian di dekat tangga sekolah sambil memeluk tasnya.
Amanda sudah dijemput keluarganya.
Julaeha pulang lebih dulu.
Anis entah pergi ke mana.
Yanti tampak kebingungan.
Riyadi mendekat perlahan.
“Kau belum pulang?”
Yanti menggeleng kecil.
“Motorku mogok.”
“Hujan begini?”
“Iya.”
Riyadi memandang hujan deras di depan
sekolah beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan.
“Aku antar saja.”
Yanti tampak ragu.
“Tidak merepotkan?”
“Tidak.”
Yanti diam sejenak sebelum akhirnya
mengangguk kecil.
“Terima kasih.”
Beberapa menit kemudian mereka sudah
berada di atas motor tua Riyadi.
Hujan masih turun deras membasahi
Jalan Jenderal Sudirman.
Lampu jalan memantul di genangan air.
Suara hujan bercampur suara kendaraan
menciptakan suasana yang entah kenapa terasa romantis.
Yanti memegang ujung jaket belakang
Riyadi pelan.
Sementara Riyadi berusaha fokus
menyetir meski jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Untuk pertama kali…
Mereka sedekat ini.
Angin dingin sore membuat suasana kota
terasa sepi.
Beberapa toko mulai tutup lebih awal
karena hujan.
Di Bundaran Besar Kuala Kapuas, lampu
taman menyala samar tertutup kabut hujan.
“Kau sering kehujanan begini?” tanya
Yanti pelan dari belakang.
“Lumayan sering.”
“Tidak capek?”
Riyadi tersenyum kecil meski Yanti
tidak bisa melihatnya.
“Kadang hidup memang harus tetap jalan
meski hujan.”
Yanti terdiam mendengar jawaban itu.
Entah kenapa…
Kalimat sederhana Riyadi selalu terasa
punya makna lebih dalam.
Motor mereka akhirnya berhenti di
bawah halte kecil dekat Jalan Tambun Bungai ketika hujan semakin deras.
“Kita tunggu sebentar saja,” kata
Riyadi.
Yanti mengangguk.
Mereka berdiri berdampingan di bawah
halte sederhana sambil memandangi hujan yang mengguyur kota.
Lampu kendaraan melintas samar di
balik tirai air.
Suasana terasa tenang.
Hanya suara hujan yang menemani
mereka.
Dan di tengah keheningan itu…
Yanti perlahan berkata pelan.
“Riyadi.”
“Iya?”
“Kau selalu baik sama semua orang?”
Riyadi berpikir sebentar.
“Aku cuma berusaha jadi manusia yang
tidak menyakiti orang lain.”
Yanti tersenyum kecil.
“Tidak banyak orang seperti itu
sekarang.”
Riyadi menatap hujan di depan mereka.
“Mungkin karena dunia terlalu sibuk
mengajarkan manusia cara menang.”
“Menurutmu salah?”
“Tidak.”
“Lalu?”
Riyadi menarik napas kecil.
“Tapi kadang orang lupa cara menjaga
hati orang lain.”
Kalimat itu membuat Yanti diam cukup
lama.
Hatinya terasa hangat.
Ada ketulusan dalam setiap kata Riyadi
yang sulit ia temukan dari orang lain.
Bukan kata-kata indah seperti Sulton.
Bukan kepercayaan diri seperti Hendra.
Bukan candaan ramai seperti Rayhan.
Tetapi sesuatu yang sederhana.
Dan justru karena kesederhanaan itu…
Rasanya begitu tulus.
Tanpa mereka sadari, dari seberang
jalan…
Seseorang sedang melihat mereka dari
dalam mobil yang berhenti di lampu merah.
Hendra.
Tatapannya dingin.
Rahangnya mengeras.
Sedangkan di kursi sebelahnya, Sulton
memandang hujan sambil tersenyum samar.
“Hujan memang sering mendekatkan dua
hati,” gumam Sulton pelan.
Hendra tidak menjawab.
Namun di dalam hatinya…
Rasa ingin menang mulai berubah
menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Kecemburuan.
BAB VIII
SIMPANG ADIPURA DAN KATA YANG TAK SEMPAT TERUCAP
Beberapa hari setelah hujan deras di
Jalan Jenderal Sudirman, suasana Kota Kuala Kapuas kembali cerah.
Langit biru membentang luas tanpa awan
gelap. Sungai Kapuas kembali tenang seperti biasa, memantulkan cahaya matahari
pagi yang hangat. Aktivitas masyarakat berjalan normal. Pedagang di Pasar Sari
Mulya kembali ramai, suara klakson di Bundaran Besar kembali menjadi musik
harian kota, dan anak-anak sekolah kembali memenuhi jalanan dengan seragam
putih abu-abu mereka.
Namun di SMA Kapuas, sesuatu telah
berubah.
Bukan suasana sekolahnya.
Bukan pelajarannya.
Tetapi hubungan kecil yang perlahan
tumbuh antara Riyadi dan Yanti.
Sejak kejadian hujan itu, Yanti tidak
lagi melihat Riyadi sebagai sekadar teman sekelas yang pendiam.
Ada sesuatu yang berbeda.
Cara Riyadi berbicara.
Cara Riyadi diam.
Bahkan cara Riyadi menatap langit pun
kini terasa lebih dalam dari sebelumnya.
Dan tanpa disadari Yanti…
Ia mulai lebih sering mencari
keberadaan pemuda itu di kelas.
Pagi itu, Riyadi berdiri di depan
gerbang sekolah lebih awal seperti biasa.
Rayhan datang tidak lama setelahnya
dengan wajah mengantuk.
Dadang langsung menyusul sambil
membawa gorengan.
Alex dan Ujang seperti biasa sudah
ribut sejak sebelum masuk kelas.
“Ini hari besar,” kata Rayhan
tiba-tiba.
“Apa lagi,” tanya Riyadi pelan.
“Aku akan menyatakan perang cinta.”
Dadang tertawa keras.
“Perang apa? Kau mau duel pakai
pensil?”
Rayhan menunjuk dirinya sendiri dengan
penuh percaya diri.
“Perjuangan.”
Riyadi hanya menghela napas pelan.
Namun di dalam hatinya, ia tahu Rayhan
sedang serius kali ini.
Karena setiap orang di antara mereka
mulai benar-benar menyukai Yanti.
Dan itu berarti…
Tidak ada lagi permainan.
Semua mulai berubah menjadi
persaingan.
Di sisi lain kelas, Yanti duduk
bersama Amanda dan Julaeha seperti biasa.
Anis terlihat membaca buku sendirian
di bangku belakang.
Sulton sibuk menulis sesuatu di buku
puisinya.
Hendra duduk diam di bangkunya, tapi
matanya beberapa kali melirik ke arah Yanti.
Dan Riyadi…
Seperti biasa, duduk di dekat jendela
sambil memperhatikan luar kelas.
Namun kali ini, Yanti tidak bisa lagi
mengabaikannya.
Saat jam istirahat tiba, suasana
sekolah kembali ramai.
Siswa berhamburan keluar kelas.
Kantin kembali penuh.
Lapangan dipenuhi suara bola dan
teriakan.
Dan sebagian siswa memilih keluar
sekolah untuk sekadar berjalan ke Simpang Adipura, tempat kecil di dekat taman
kota yang sering menjadi tempat nongkrong sore.
Yanti hari itu memutuskan berjalan ke
luar sekolah bersama Amanda.
Riyadi kebetulan juga keluar bersama
Rayhan dan Dadang.
Tanpa direncanakan, mereka bertemu di
jalan yang sama menuju Simpang Adipura.
Angin sore bertiup pelan.
Langit mulai sedikit berubah warna
menjadi keemasan.
Simpang Adipura tampak ramai seperti
biasa.
Lampu lalu lintas berkedip.
Kendaraan berlalu-lalang.
Di sisi taman kecil, beberapa pedagang
minuman dan gorengan sudah mulai ramai pembeli.
Kelompok mereka akhirnya berkumpul
tanpa sengaja di satu titik.
Rayhan langsung mencoba membuka
percakapan.
“Wah, kebetulan sekali.”
Dadang berbisik ke Alex.
“Ini bukan kebetulan. Ini takdir yang
sengaja mempermalukan dia.”
Alex tertawa pelan.
Yanti tersenyum sopan.
Riyadi hanya diam seperti biasa.
Namun suasana kali ini terasa berbeda.
Ada sesuatu yang tidak diucapkan di
antara mereka.
Seperti kata-kata yang tertahan di
tenggorokan.
Seperti perasaan yang belum sempat
disampaikan.
Hendra datang beberapa menit kemudian
bersama Sulton.
Dan suasana langsung berubah.
Sulton seperti biasa membuka
percakapan dengan kalimat puitisnya.
“Simpang Adipura hari ini seperti
persimpangan hati manusia,” katanya sambil tersenyum tipis.
Dadang langsung berbisik.
“Kalau dia terus begitu, aku pindah
planet.”
Hendra tidak bicara banyak.
Ia langsung berdiri tidak jauh dari
Yanti.
Rayhan langsung menatapnya tajam.
Dan Riyadi tetap diam.
Namun kali ini diamnya berbeda.
Lebih berat.
Lebih penuh tekanan.
Yanti berdiri di tengah-tengah
semuanya.
Tanpa ia sadari, ia menjadi pusat dari
semua perhatian.
Dan itu membuatnya sedikit tidak
nyaman.
Amanda menyadari itu.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Amanda
pelan.
Yanti mengangguk kecil.
“Terlalu banyak orang memperhatikan.”
Amanda menghela napas kecil.
“Aku sudah bilang.”
Yanti hanya tersenyum kecil.
Namun matanya sesekali mencari arah
tertentu.
Dan tanpa sadar…
ia mencari Riyadi.
Riyadi yang berdiri agak jauh di sisi
jalan.
Tidak mendekat.
Tidak ikut berbicara.
Hanya memperhatikan dari kejauhan.
Sederhana.
Tenang.
Tetapi justru itu yang membuat Yanti
merasa lebih nyaman dibanding yang lain.
Sore semakin larut.
Lampu jalan mulai menyala.
Langit berubah jingga.
Kelompok itu mulai bubar satu per
satu.
Rayhan pergi lebih dulu dengan Dadang
dan Alex sambil bercanda.
Sulton berjalan sambil menulis sesuatu
di buku puisinya.
Hendra masih bertahan beberapa saat di
dekat Yanti.
Namun akhirnya ia pergi juga dengan
wajah dingin.
Tinggal Yanti dan Riyadi yang masih
berada di Simpang Adipura.
Amanda sudah pulang lebih dulu.
Suasana menjadi lebih sepi.
Hanya suara kendaraan dan angin sore.
Yanti berdiri beberapa langkah dari
Riyadi.
Ada sesuatu yang ingin ia katakan.
Namun tidak keluar.
Riyadi juga tampak ingin bicara.
Namun tetap diam.
Beberapa detik berubah menjadi hening
panjang.
Dan di dalam keheningan itu…
hampir saja sebuah kalimat keluar dari
mulut Riyadi.
Tetapi suara klakson kendaraan memecah
suasana.
Sebuah bus lewat cepat.
Dan ketika suara itu hilang…
Yanti sudah tidak lagi menatapnya.
Ia sudah berjalan pelan ke arah jalan
pulang.
Riyadi berdiri diam.
Kalimat yang tadi hampir terucap…
akhirnya kembali tertahan di dalam
dadanya.
Ia mengepalkan tangan pelan.
Dan hanya bisa berkata pelan pada
dirinya sendiri.
“Mungkin belum waktunya.”
Sementara di ujung jalan Simpang
Adipura…
Yanti berhenti sejenak.
Ia menoleh kecil ke belakang.
Menatap Riyadi yang masih berdiri di
tempat yang sama.
Dan untuk sesaat…
hati Yanti berbisik hal yang bahkan
belum ia pahami sepenuhnya.
“Kenapa justru dia yang selalu
membuatku tenang…”
Namun ia tidak mengatakan apa pun.
Ia hanya melanjutkan langkahnya.
Dan senja di Simpang Adipura pun
perlahan menutup satu cerita kecil yang hampir saja berubah menjadi pengakuan.
BAB IX
PERSAHABATAN YANG MULAI RETAK
Langit Kuala Kapuas beberapa hari
terakhir terasa cerah, namun di balik cahaya matahari yang hangat itu, suasana
hati di SMA Kapuas justru mulai menggelap secara perlahan.
Bukan karena cuaca.
Tetapi karena sesuatu yang jauh lebih
rumit dari sekadar pelajaran sekolah atau ujian harian.
Cinta.
Dan ketika cinta mulai masuk ke dalam
lingkaran persahabatan, maka yang paling pertama terancam bukanlah perasaan itu
sendiri, melainkan hubungan antar manusia yang selama ini dibangun dengan tawa,
candaan, dan kebersamaan.
Pagi itu halaman SMA Kapuas tampak
seperti biasa.
Siswa datang dengan motor
masing-masing.
Ada yang langsung menuju kantin.
Ada yang berkumpul di taman sekolah.
Dan ada pula yang berdiri di depan
kelas hanya untuk berbicara hal-hal kecil yang tidak penting tetapi terasa
menyenangkan.
Namun di antara semua itu, Rayhan
tampak berbeda.
Biasanya ia selalu menjadi pusat tawa.
Selalu memulai candaan.
Selalu membuat suasana hidup.
Tetapi pagi itu ia lebih banyak diam.
Dadang yang datang bersamanya langsung
menyadari perubahan itu.
“Kau sakit?” tanya Dadang sambil
membuka helm.
Rayhan menggeleng.
“Tidak.”
“Lalu kenapa wajahmu seperti orang
kalah taruhan hidup?”
Rayhan tidak menjawab.
Ia hanya memandang ke arah kelas XI
IPS 2.
Di dalam kelas itu, Yanti sedang duduk
bersama Amanda dan Julaeha.
Dan di bangku dekat jendela, Riyadi
sedang membaca buku seperti biasa.
Dadang mengikuti arah pandang Rayhan
lalu menghela napas pelan.
“Ah… jadi ini masalahnya.”
Rayhan akhirnya tersenyum kecil, tapi
bukan senyum bahagia.
“Aku tidak mengerti.”
“Apa.”
“Kenapa dia lebih sering melihat
Riyadi.”
Dadang terdiam sejenak.
“Karena Riyadi tidak berusaha
terlihat.”
Rayhan menoleh cepat.
“Maksudmu?”
“Kadang yang paling menarik itu bukan
yang paling keras bersuara,” kata Dadang pelan. “Tapi yang paling tenang hadir
tanpa memaksa.”
Rayhan diam.
Kalimat itu terasa sederhana.
Tapi menusuk.
Di dalam kelas, Riyadi sebenarnya
tidak tahu apa yang terjadi di luar.
Ia sedang menulis sesuatu di buku
kecilnya.
Sulton duduk tidak jauh darinya sambil
tersenyum kecil.
“Puisi hari ini tentang apa,” tanya
Sulton.
“Tidak ada.”
“Tidak ada itu juga bisa jadi puisi.”
Riyadi hanya menghela napas pelan.
Sulton memang selalu seperti itu.
Suka berbicara dengan gaya puitis yang
kadang sulit dimengerti.
Namun di balik semua itu, ia bukan
orang jahat.
Hanya seseorang yang juga sedang
mencari tempat dalam perasaan yang sama.
Di bangku lain, Hendra sedang
memperhatikan Riyadi dari kejauhan.
Matanya tajam.
Tidak banyak bicara.
Tetapi pikirannya penuh hitungan.
Ia mulai menyadari satu hal.
Yanti tidak sekadar “tertarik”.
Yanti mulai merasa nyaman pada Riyadi.
Dan bagi Hendra, itu adalah ancaman.
Sementara itu, Yanti sendiri tidak
sadar bahwa dirinya sedang menjadi pusat konflik yang semakin rumit.
Ia hanya menjalani hari seperti biasa.
Tertawa bersama Julaeha.
Mendengarkan Amanda.
Dan sesekali memandang keluar jendela
ke arah Riyadi tanpa ia sadari.
Namun perubahan paling besar justru
terjadi pada Rayhan.
Siang itu setelah jam pelajaran
terakhir, mereka semua berkumpul di kantin seperti biasa.
Rayhan duduk bersama Dadang, Alex,
Ujang, dan beberapa teman lainnya.
Riyadi tidak jauh dari mereka.
Yanti duduk di meja seberang bersama
Amanda.
Suasana kantin ramai seperti biasa.
Namun ada ketegangan yang tidak
terlihat.
Rayhan tiba-tiba berdiri.
“Aku mau bicara.”
Semua langsung menoleh.
Dadang mengernyit.
“Waduh… ini serius.”
Rayhan menarik napas pelan.
Matanya sempat melirik ke arah Yanti
sebelum kembali ke teman-temannya.
“Aku tidak suka keadaan ini.”
Alex bertanya.
“Keadaan apa?”
“Semua orang diam tapi sebenarnya
saling bersaing.”
Ujang menggaruk kepala.
“Bukankah itu memang dari awal?”
Rayhan menggeleng.
“Tidak seperti ini.”
Suasana menjadi sedikit hening.
Riyadi menatap Rayhan dari kejauhan.
Hendra juga memperhatikan.
Dan Sulton tersenyum kecil seperti
orang yang sudah tahu arah cerita ini akan kemana.
Rayhan melanjutkan.
“Aku suka Yanti.”
Kalimat itu langsung membuat suasana
kantin sedikit berubah.
Beberapa siswa di sekitar mereka
menoleh.
Dadang menghela napas pelan.
“Sudah kuduga.”
Rayhan tidak peduli.
“Dan aku tidak mau pura-pura lagi.”
Ia menatap Riyadi sebentar.
Lalu menatap Hendra.
Dan terakhir ke arah Sulton.
“Aku tidak akan mundur hanya karena
kalian diam-diam juga punya perasaan yang sama.”
Hening.
Riyadi tetap diam.
Bukan karena tidak punya perasaan.
Tetapi karena ia tidak pernah suka
mengumumkan sesuatu yang masih ia jaga dalam hati.
Hendra tersenyum tipis.
“Menarik.”
Sulton menutup bukunya pelan.
“Cinta yang diucapkan terlalu cepat
sering kehilangan makna dalam perjalanan.”
Rayhan langsung menatapnya.
“Aku tidak butuh kata-kata puisi.”
Sulton tersenyum kecil.
“Tentu.”
Namun suasana sudah berubah.
Persahabatan yang selama ini penuh
tawa mulai retak sedikit demi sedikit.
Amanda yang melihat itu hanya bisa
menghela napas pelan.
Yanti sendiri terlihat bingung.
“Apa yang terjadi?” tanya Julaeha
pelan.
Amanda menjawab lirih.
“Perasaan kadang tidak bisa
dikendalikan.”
Setelah itu suasana menjadi canggung.
Rayhan duduk kembali tetapi tidak lagi
banyak bicara.
Riyadi tetap tenang, namun matanya
lebih sering menunduk.
Hendra tampak semakin yakin dengan
ambisinya.
Dan Sulton…
seperti biasa, hanya memandang semua
ini sebagai bagian dari “drama kehidupan”.
Sore itu saat mereka pulang, langit
Kuala Kapuas kembali tampak indah.
Namun tidak semua hati merasakan
keindahan itu.
Di jalan menuju Bundaran Besar, Rayhan
berjalan sendirian lebih dulu tanpa banyak bicara.
Dadang mencoba menyusulnya.
“Rayhan.”
“Aku tidak apa-apa.”
“Tapi kau berubah.”
Rayhan berhenti sejenak.
“Bukan aku yang berubah.”
Ia menoleh ke arah jalan yang jauh.
“Tapi keadaan yang memaksa semua orang
menjadi berbeda.”
Dadang tidak menjawab.
Karena kali ini…
ia tahu Rayhan tidak sedang bercanda.
Sementara itu di jalan lain, Riyadi
berjalan pelan sambil memegang tasnya.
Yanti melintas tidak jauh di depannya
bersama Amanda.
Tatapan mereka sempat bertemu.
Hanya sebentar.
Namun cukup untuk membuat keduanya
sama-sama diam sesaat.
Tidak ada kata yang keluar.
Tidak ada yang berani memulai.
Dan lagi-lagi…
momen itu hanya menjadi sesuatu yang
lewat begitu saja di antara perasaan yang semakin rumit.
Di belakang semuanya, Hendra berdiri
di dekat motornya.
Matanya mengarah ke Riyadi.
“Kita lihat saja siapa yang bertahan
sampai akhir,” gumamnya pelan.
Dan di bawah langit SMA Kapuas yang
mulai berubah jingga…
persahabatan itu tidak lagi sama
seperti sebelumnya.
BAB X
DERMAGA KP3 DAN JANJI SENJA
Sore di Kota Kuala Kapuas selalu punya
cara sendiri untuk membuat hati manusia menjadi lebih lembut tanpa alasan yang
jelas.
Cahaya matahari yang mulai turun
perlahan menyentuh permukaan Sungai Kapuas, menciptakan kilauan seperti kaca
pecah yang berpendar di atas air tenang. Angin dari arah sungai bertiup pelan,
membawa aroma khas air, kayu basah, dan kehidupan kota yang tidak pernah
benar-benar berhenti.
Di ujung kota, Dermaga KP3 Kuala
Kapuas berdiri seperti saksi bisu dari banyak kisah yang tidak pernah tercatat.
Tempat perahu-perahu bersandar.
Tempat orang-orang menunggu.
Dan tempat banyak hati diam-diam
belajar merasakan kehilangan, harapan, dan pertemuan yang tidak selalu
sempurna.
Sore itu, Riyadi berdiri sendirian di
dermaga.
Tangannya memegang pagar besi yang
sedikit berkarat.
Matanya memandang jauh ke arah aliran
sungai yang terus bergerak tanpa henti.
Ada ketenangan di wajahnya.
Tetapi di dalam pikirannya, tidak ada
yang benar-benar tenang.
Sejak pernyataan Rayhan di kantin
beberapa hari lalu, suasana di antara mereka berubah.
Persahabatan yang dulu hangat kini
terasa seperti berjalan di atas jembatan tipis.
Sedikit salah langkah saja bisa
membuat semuanya runtuh.
Riyadi menghela napas pelan.
“Aku tidak pernah ingin ini jadi
rumit,” gumamnya pelan.
Angin sore menjawab dengan suara
lembut.
Namun jawabannya tidak pernah
benar-benar jelas.
Tidak lama kemudian, langkah kaki
terdengar mendekat dari belakang.
Riyadi menoleh pelan.
Yanti berdiri beberapa meter darinya.
Mengenakan seragam sekolah yang masih rapi,
rambutnya tertiup angin dermaga.
Cahaya senja menyentuh wajahnya dengan
lembut, membuat suasana terasa seperti berhenti sejenak.
“Kau sering ke sini?” tanya Yanti
pelan.
Riyadi mengangguk kecil.
“Kalau sedang ingin tenang.”
Yanti berjalan mendekat, lalu berdiri
di sampingnya.
Mereka berdua memandang sungai yang
sama, namun dengan pikiran yang berbeda.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang
berbicara.
Hanya suara air sungai dan angin yang
mengisi ruang di antara mereka.
Sampai akhirnya Yanti membuka suara.
“Aku mendengar sesuatu di sekolah.”
Riyadi sedikit menoleh.
“Tentang Rayhan?”
Yanti mengangguk kecil.
“Aku tidak tahu harus bagaimana.”
Riyadi terdiam.
Di dalam hatinya, ia tahu ini akan
datang.
Karena perasaan tidak pernah bisa
disembunyikan terlalu lama di lingkungan seperti mereka.
“Rayhan orang yang baik,” kata Riyadi
akhirnya.
Yanti menoleh ke arahnya.
“Dan kau?”
Riyadi terdiam cukup lama.
“Aku tidak tahu apakah aku baik atau
tidak,” jawabnya jujur. “Aku hanya… mencoba tidak menyakiti siapa pun.”
Yanti tersenyum kecil, tapi ada
kesedihan samar di matanya.
“Itu justru yang membuat semuanya
semakin sulit.”
Riyadi tidak menjawab.
Karena ia tahu, Yanti tidak sedang
membicarakan hal yang sederhana.
Di kejauhan, perahu kecil melintas
pelan meninggalkan riak air panjang.
Dermaga KP3 terasa semakin sunyi.
Seolah dunia memberi ruang untuk dua
orang ini berbicara lebih jujur dari biasanya.
Yanti menarik napas pelan.
“Aku tidak suka jika semuanya menjadi
seperti ini,” katanya pelan.
Riyadi menoleh.
“Maksudmu?”
“Persahabatan kalian… berubah.”
Riyadi menunduk sedikit.
“Aku juga tidak suka.”
Yanti diam.
Riyadi melanjutkan pelan.
“Tapi kadang kita tidak bisa memilih
apa yang terjadi pada perasaan orang lain.”
Kalimat itu membuat Yanti terdiam
cukup lama.
Angin sore kembali bertiup lebih
kencang.
Rambut Yanti bergerak pelan.
Dan untuk sesaat, suasana terasa
begitu dekat, tetapi juga begitu jauh.
Riyadi ingin mengatakan sesuatu.
Sesuatu yang sudah lama ia tahan.
Namun kata-kata itu selalu tertahan di
tenggorokannya.
Ia menatap sungai.
Lalu berkata pelan.
“Kalau suatu hari semua ini jadi
terlalu rumit… aku mungkin akan mundur.”
Yanti langsung menoleh cepat.
“Mundur?”
Riyadi mengangguk pelan.
“Aku tidak ingin menjadi alasan
hancurnya persahabatan kalian.”
Yanti menggeleng kecil.
“Itu tidak adil.”
Riyadi tersenyum tipis.
“Hidup memang tidak selalu adil.”
Yanti menatapnya lama.
Ada sesuatu di matanya.
Seperti ingin menahan.
Seperti tidak ingin kehilangan sesuatu
yang bahkan belum benar-benar ia miliki.
Namun sebelum Yanti sempat berkata
lebih jauh…
suara langkah kaki terdengar dari arah
tangga dermaga.
Rayhan.
Ia berdiri di ujung tangga dengan
napas sedikit berat.
Matanya langsung tertuju pada Riyadi
dan Yanti yang berdiri berdampingan.
Hening.
Tidak ada kata yang keluar dari
Rayhan.
Namun ekspresi wajahnya sudah cukup
menjelaskan semuanya.
Dadang dan Alex menyusul tidak lama
kemudian dari kejauhan, tetapi berhenti saat melihat situasi itu.
Rayhan melangkah pelan ke arah mereka.
“Aku mencarimu,” kata Rayhan kepada
Yanti.
Yanti sedikit terkejut.
“Ada apa?”
Rayhan menatap Riyadi sebentar, lalu
kembali ke Yanti.
“Aku hanya ingin bicara.”
Suasana menjadi tegang.
Angin di dermaga terasa lebih dingin.
Riyadi berdiri diam, tidak ikut
campur.
Karena ia tahu, ini bukan lagi sesuatu
yang bisa ia kendalikan.
Rayhan menarik napas.
“Aku tidak akan pura-pura lagi.”
Yanti diam.
Rayhan melanjutkan.
“Aku suka kamu.”
Kalimat itu jatuh begitu saja di
antara senja dan suara sungai.
Tidak ada musik.
Tidak ada puisi.
Hanya kejujuran yang terlalu langsung.
Yanti terdiam.
Dadang dari jauh menutup matanya
sebentar.
Alex menghela napas.
Semuanya terasa seperti berhenti.
Rayhan menatap Yanti dengan serius.
“Aku tidak ingin kalah hanya karena
diam.”
Hening.
Yanti terlihat bingung.
Matanya berpindah ke Riyadi.
Seolah mencari jawaban yang tidak ia
miliki.
Riyadi hanya menatap sungai.
Tidak bicara.
Tidak bergerak.
Namun di dalam hatinya, sesuatu
seperti runtuh perlahan.
Karena ia tahu…
ini adalah titik di mana semuanya
tidak bisa lagi kembali seperti dulu.
Yanti akhirnya berkata pelan.
“Aku… butuh waktu.”
Rayhan mengangguk kecil.
“Tapi aku tidak akan mundur.”
Setelah itu ia berbalik.
Dan pergi.
Langkahnya pelan.
Tapi berat.
Dadang dan Alex mengikuti dari
belakang tanpa banyak bicara.
Tinggal Riyadi dan Yanti di dermaga
itu.
Sunyi kembali datang.
Namun kali ini bukan sunyi yang
tenang.
Melainkan sunyi yang penuh beban.
Yanti menunduk.
“Aku tidak ingin menyakiti siapa pun,”
katanya pelan.
Riyadi akhirnya menoleh.
“Aku tahu.”
Yanti menatapnya.
“Tapi kenapa semuanya jadi seperti
ini?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Mungkin karena kita tidak pernah bisa
mengatur di mana hati orang lain akan jatuh.”
Yanti diam.
Dan senja di Dermaga KP3 perlahan
meredup.
Meninggalkan dua orang yang berdiri di
antara perasaan yang semakin tidak sederhana.
Dan satu hal yang mulai jelas di
antara semuanya…
perjalanan cinta ini baru saja
memasuki bab yang paling rumit.
BAB XI
HENDRA SANG PENGUASA PERASAAN
Malam di Kota Kuala Kapuas turun
perlahan seperti selimut gelap yang menyelimuti seluruh kota tanpa suara.
Lampu-lampu jalan di sepanjang Jalan
Jenderal Sudirman mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya kuning lembut
di atas aspal yang masih menyimpan sisa panas siang hari. Dari kejauhan, suara
perahu kecil di Sungai Kapuas terdengar samar, bercampur dengan hiruk pikuk
kendaraan yang belum sepenuhnya berhenti.
Namun di antara keramaian malam itu,
ada satu tempat yang terasa lebih dingin dari biasanya.
Hati manusia.
Terutama di dalam diri Hendra.
Ia berdiri di balkon rumahnya yang
menghadap ke arah kota.
Tangannya memegang pagar besi dengan
kuat.
Matanya menatap jauh ke arah
lampu-lampu kota yang berkelip seperti bintang yang jatuh ke bumi.
Namun pikirannya tidak sedang berada
di pemandangan itu.
Pikirannya sedang berada di Dermaga
KP3.
Di sana.
Di tempat Riyadi dan Yanti berdiri
bersama Rayhan sore tadi.
Hendra mengatupkan rahangnya pelan.
“Aku tidak boleh kalah,” gumamnya
pelan.
Suara itu terdengar seperti janji
kepada dirinya sendiri.
Bukan kepada siapa pun.
Di dalam kamar, Sulton sedang duduk di
lantai sambil menulis sesuatu di buku kecilnya seperti biasa.
Ia tampak tenang.
Seolah tidak terganggu oleh apa pun.
Namun ia sebenarnya tahu segalanya.
“Kau masih memikirkan Yanti?” tanya
Sulton tanpa menoleh.
Hendra tidak menjawab.
Sulton tersenyum kecil.
“Kau terlalu keras pada dirimu
sendiri.”
Hendra akhirnya menoleh.
“Aku tidak keras. Aku hanya tahu apa
yang aku mau.”
Sulton menutup bukunya pelan.
“Dan kau menganggap semua yang kau mau
harus kau miliki?”
Hendra berjalan masuk ke kamar.
“Dalam hidup, orang yang ragu hanya
akan tertinggal.”
Sulton menatapnya.
“Dan orang yang terlalu yakin sering
kali melukai banyak hal.”
Hendra tersenyum tipis.
“Aku tidak peduli.”
Hening.
Sulton menghela napas pelan.
“Kau menyebutnya cinta… tapi caramu
seperti ingin menguasai.”
Hendra menatap tajam.
“Aku tidak percaya cinta yang hanya
menunggu.”
Sulton berdiri perlahan.
“Tidak semua hal bisa dipaksa.”
Hendra tidak menjawab lagi.
Namun di matanya, sesuatu mulai
terlihat jelas.
Ambisi.
Dan sedikit kegelapan.
Di pagi hari berikutnya, suasana SMA
Kapuas terasa seperti biasa.
Namun di balik rutinitas itu, sesuatu
mulai bergerak lebih cepat.
Rayhan terlihat lebih pendiam dari
biasanya.
Dadang dan Alex berusaha menghiburnya,
tetapi tidak banyak berhasil.
Riyadi tetap seperti biasa.
Tenang.
Diam.
Namun lebih sering memandang ke arah
Yanti tanpa sengaja.
Yanti sendiri tampak lebih banyak
diam.
Amanda menyadari perubahan itu.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Amanda
pelan.
Yanti menggeleng kecil.
“Aku hanya… bingung.”
Julaeha yang biasanya cerewet kali ini
juga lebih pelan berbicara.
“Drama cinta kalian ini sudah seperti
sinetron jam malam.”
Amanda menatapnya.
“Ini bukan lucu.”
Julaeha langsung menutup mulut.
Di kelas, Hendra duduk dengan tenang.
Namun kali ini ia tidak hanya diam.
Ia mulai bergerak.
Di jam istirahat, Hendra mendekati
Yanti di koridor sekolah.
Tanpa banyak basa-basi.
Langkahnya percaya diri.
Seolah dunia memang selalu memberinya
jalan.
Yanti yang sedang berjalan bersama
Amanda berhenti saat melihatnya.
“Ada waktu sebentar?” tanya Hendra.
Amanda langsung menatap Yanti.
Yanti mengangguk kecil.
“Boleh.”
Amanda menjauh perlahan.
Meninggalkan mereka berdua.
Hendra menatap Yanti cukup lama
sebelum berbicara.
“Aku tidak suka berputar-putar.”
Yanti sedikit terkejut.
“Apa maksudmu?”
Hendra langsung berkata tanpa ragu.
“Aku suka kamu.”
Langsung.
Tanpa puisi.
Tanpa kiasan.
Tanpa drama.
Hanya pernyataan yang tegas.
Yanti terdiam.
Di kejauhan, Riyadi sedang berdiri di
ujung koridor.
Ia tidak sengaja melihat momen itu.
Rayhan juga melihat dari sisi lain
koridor.
Dan Sulton berdiri tidak jauh sambil
menutup matanya pelan, seperti seseorang yang sudah tahu akhir dari cerita ini
akan menjadi rumit.
Hendra melanjutkan.
“Aku tidak seperti mereka yang hanya
diam atau menunggu.”
Matanya tajam.
“Aku akan memperjuangkan apa yang aku
mau.”
Yanti terlihat bingung.
“Aku… tidak tahu harus menjawab apa.”
Hendra tersenyum tipis.
“Tidak perlu jawab sekarang.”
Ia melangkah sedikit lebih dekat.
“Aku hanya ingin kau tahu.”
Lalu ia pergi.
Begitu saja.
Tanpa menunggu jawaban.
Yanti berdiri diam.
Tangannya sedikit gemetar.
Amanda kembali menghampiri.
“Apa yang dia katakan?”
Yanti menatapnya.
“Aku tidak tahu.”
Sementara itu di ujung koridor, Rayhan
mengepalkan tangan.
Dadang menahan lengannya.
“Jangan.”
Rayhan menatap Hendra yang berjalan
pergi.
“Aku tidak suka cara dia.”
Dadang menghela napas.
“Bukan hanya kau.”
Riyadi hanya diam.
Namun di dalam dirinya, ada sesuatu
yang mulai terasa lebih berat.
Bukan cemburu.
Bukan marah.
Tetapi kekhawatiran.
Karena ia mulai melihat bahwa Hendra
tidak akan berhenti dengan cara biasa.
Sore itu, saat pulang sekolah, langit
Kuala Kapuas kembali cerah.
Namun suasana hati para tokoh di
dalamnya tidak ikut cerah.
Rayhan berjalan sendirian lebih dulu.
Tidak banyak bicara.
Dadang dan Alex mengikutinya dari
belakang.
Riyadi berjalan sedikit terpisah.
Yanti bersama Amanda.
Dan Hendra…
berjalan dengan langkah tenang seperti
seseorang yang baru saja menaruh satu batu besar di tengah permainan yang
sedang berjalan.
Sulton menyusul di belakangnya.
“Kau sudah mulai masuk terlalu dalam,”
katanya pelan.
Hendra tersenyum.
“Tidak ada kata terlalu dalam.”
Sulton menatapnya lama.
“Kalau jatuh nanti, tidak semua orang
akan bisa bangkit.”
Hendra berhenti sebentar.
Lalu berkata pelan.
“Aku tidak akan jatuh.”
Dan malam di Kuala Kapuas kembali
menjadi saksi…
bahwa cinta yang awalnya sederhana
kini mulai berubah menjadi medan persaingan yang tidak lagi bisa diprediksi.
BAB XII
JALAN AHMAD YANI DAN LUKA YANG TERSEMBUNYI
Pagi di Kota Kuala Kapuas berjalan
seperti biasa.
Langit cerah. Jalanan ramai. Aktivitas
di Jalan Jenderal Ahmad Yani yang menghubungkan pusat kota dengan area
pertokoan Sanjaya kembali dipenuhi lalu lintas yang padat.
Namun di balik rutinitas itu, ada
sesuatu yang tidak lagi sama di antara mereka yang terlibat dalam kisah ini.
Tidak terlihat di permukaan.
Tapi terasa di dalam dada.
Riyadi berjalan pelan di trotoar Jalan
Ahmad Yani sepulang sekolah.
Tasnya disandang di bahu kiri.
Langkahnya stabil, tapi pikirannya tidak.
Ia berhenti di sebuah warung kecil di
pinggir jalan.
Duduk.
Membuka botol air mineral.
Namun belum sempat benar-benar tenang,
suara dari belakangnya terdengar.
“Sendiri lagi?”
Riyadi menoleh.
Rayhan berdiri di sana.
Wajahnya datar, tapi matanya tajam.
Di belakangnya, Dadang dan Alex
mengikuti.
Riyadi menghela napas kecil.
“Kau selalu muncul di waktu yang tepat
atau memang kebetulan?” tanya Riyadi tenang.
Rayhan duduk di sebelahnya tanpa izin.
“Tidak ada yang kebetulan dalam hal
seperti ini.”
Riyadi menatapnya.
“Kalau begitu, ini sengaja?”
Rayhan tersenyum tipis.
“Anggap saja aku ingin memastikan satu
hal.”
Riyadi menatap lurus.
“Apa?”
Rayhan langsung menjawab tanpa ragu.
“Apakah kau benar-benar diam karena
tidak peduli… atau karena kau terlalu yakin akan menang tanpa bergerak.”
Hening sejenak.
Riyadi meneguk airnya pelan.
Lalu menjawab.
“Aku tidak pernah merasa akan menang.”
Rayhan mengangkat alis.
“Lalu?”
“Aku hanya tidak ingin memaksa sesuatu
yang belum jelas.”
Rayhan tertawa kecil, tapi hambar.
“Jawaban itu selalu sama darimu.”
Riyadi menoleh.
“Karena memang itu yang aku lakukan.”
Rayhan mencondongkan badan.
“Masalahnya, Riyadi… dalam hal seperti
ini, yang diam bukan selalu yang bijak.”
Riyadi mengerutkan alis.
“Maksudmu?”
Rayhan menatapnya lebih tajam.
“Kadang yang diam itu hanya kalah
pelan-pelan.”
Hening.
Dadang menunduk.
Alex menghela napas.
Riyadi tetap tenang.
Namun matanya sedikit berubah.
“Dan kau menganggap ini lomba?” tanya
Riyadi pelan.
Rayhan langsung menjawab.
“Bukan aku yang membuatnya jadi
seperti ini.”
Riyadi menatapnya lama.
Rayhan melanjutkan.
“Aku tidak suka keadaan ini, Riyadi.”
“Yanti di tengah. Kita di sini. Dan
semua orang berpura-pura ini normal.”
Riyadi menjawab cepat.
“Aku juga tidak suka.”
Rayhan tersenyum tipis.
“Tapi kau tidak melakukan apa-apa
untuk mengubahnya.”
Riyadi menatap lurus.
“Aku tidak ingin memaksa Yanti memilih
dalam tekanan.”
Rayhan langsung berdiri.
Nada suaranya mulai naik.
“Dan kau pikir aku memaksanya?”
Riyadi ikut berdiri.
“Kalau bukan memaksa, lalu apa?”
Rayhan menatapnya tajam.
“Aku jujur.”
Riyadi diam.
Rayhan melanjutkan lebih pelan, tapi
tegas.
“Aku tidak bersembunyi di balik diam
seperti kau.”
Riyadi menghela napas.
“Dan aku tidak ingin mengubah perasaan
menjadi pertarungan.”
Rayhan tertawa kecil.
“Semua orang bilang begitu… sampai
mereka kalah.”
Riyadi menatapnya serius.
“Aku tidak melihat ini sebagai
kemenangan atau kekalahan.”
Rayhan mendekat sedikit.
“Kalau begitu kau tidak mengerti apa
yang sedang terjadi.”
Riyadi menjawab pelan.
“Mungkin kau yang terlalu mengerti
dengan cara yang salah.”
Hening keras.
Dadang akhirnya bicara pelan.
“Sudah cukup.”
Alex menahan napas.
Rayhan menatap Riyadi lama.
Lalu berkata pelan, hampir seperti
peringatan.
“Aku tidak akan mundur.”
Riyadi mengangguk pelan.
“Aku juga tidak pernah menyuruhmu.”
Rayhan tersenyum tipis.
“Bagus.”
Lalu ia berbalik.
Berjalan pergi.
Tanpa menoleh.
Di tempat lain.
Yanti berjalan bersama Amanda di Pasar
Melati.
Suasana pasar ramai.
Namun wajah Yanti kosong.
Amanda menatapnya sejak tadi.
“Kau tahu kau makin tidak fokus?” kata
Amanda.
Yanti menjawab pelan.
“Aku cuma lelah.”
Amanda langsung berhenti.
“Lelah apa?”
Yanti menatap tanah.
“Lelah menjadi alasan orang lain
bertarung.”
Amanda menghela napas.
“Kau bukan alasan. Kau hanya pilihan
mereka.”
Yanti menatapnya cepat.
“Dan itu yang membuatku semakin tidak
tenang.”
Amanda menatapnya serius.
“Lalu kau mau bagaimana?”
Yanti diam.
Lama.
“Aku tidak tahu harus memilih atau
tidak.”
Amanda langsung menjawab tegas.
“Kau tidak bisa tidak memilih selamanya.”
Yanti terdiam lebih lama.
Tidak jauh dari sana.
Hendra berdiri di sisi Jalan Ahmad
Yani.
Sulton di sampingnya.
Hendra memperhatikan kejadian tadi
dari kejauhan.
Sulton berbicara pelan.
“Kau terlalu yakin.”
Hendra tidak menoleh.
“Aku hanya realistis.”
Sulton menggeleng kecil.
“Ini bukan soal realistis.”
Hendra menjawab datar.
“Ini soal siapa yang bertahan.”
Sulton menatapnya.
“Dan kau pikir cinta itu soal
bertahan?”
Hendra menjawab tanpa ragu.
“Kalau tidak bertahan, itu hilang.”
Sulton menghela napas panjang.
“Kau tidak sedang menjaga cinta.”
“kau sedang menguncinya.”
Hendra diam.
Untuk pertama kalinya.
Sore hari di SMA Kapuas.
Koridor sekolah mulai sepi.
Yanti berdiri di depan kelas.
Riyadi datang dari arah seberang.
Mereka berhenti.
Hening.
Yanti berbicara duluan.
“Kau tadi bertemu Rayhan?”
Riyadi mengangguk.
“Ya.”
Yanti menatapnya.
“Dia marah?”
Riyadi menggeleng.
“Bukan marah… lebih seperti tidak
terima keadaan.”
Yanti menunduk.
“Aku membuat semuanya jadi rumit ya.”
Riyadi langsung menjawab.
“Bukan kamu.”
Yanti menatapnya.
“Lalu siapa?”
Riyadi terdiam sebentar.
“Kita semua.”
Hening.
Yanti menarik napas panjang.
“Aku capek, Riyadi.”
Riyadi menatapnya serius.
“Capek apa?”
“Capek menjadi pusat dari sesuatu yang
aku sendiri tidak minta.”
Riyadi mengangguk pelan.
“Aku mengerti.”
Yanti menatapnya lama.
“Kalau terus seperti ini… semua orang
akan terluka.”
Riyadi menjawab pelan.
“Sudah.”
Yanti terdiam.
“Sudah terluka?”
Riyadi mengangguk.
“Dan akan terus begitu kalau kita
tidak jujur sepenuhnya.”
Yanti menatap lantai.
“Jujur yang bagaimana?”
Riyadi menjawab pelan tapi tegas.
“Jujur pada diri sendiri… tentang apa
yang sebenarnya kita rasakan.”
Hening panjang.
Yanti akhirnya berbisik.
“Aku takut.”
Riyadi menatapnya lembut.
“Aku juga.”
Yanti menatapnya.
“Tapi kau tetap di sini.”
Riyadi mengangguk.
“Karena lari juga tidak akan
menyelesaikan apa pun.”
Yanti menutup mata sebentar.
Lalu berbalik perlahan.
“Kalau begini terus… aku bisa
kehilangan semuanya.”
Riyadi menjawab pelan.
“Kita semua sudah mulai kehilangan
sesuatu.”
Yanti berhenti di pintu kelas.
Tidak menoleh.
Lalu berkata pelan.
“Aku tidak tahu harus memilih
bagaimana.”
Riyadi menjawab dari belakangnya.
“Tidak apa-apa.”
“Tapi jangan terus diam di tengah.”
Yanti tidak menjawab.
Ia berjalan pergi.
Pelan.
Tanpa menoleh.
Riyadi berdiri di koridor yang mulai
kosong.
Menatap arah Yanti pergi.
Dan untuk pertama kalinya…
ia sadar bahwa cinta bukan hanya soal
rasa.
Tapi tentang tekanan, pilihan, dan
luka yang tidak bisa dihindari.
Di luar sana, langit Kuala Kapuas
mulai berubah jingga.
Dan semuanya…
benar-benar mulai retak dengan cara
yang tidak terlihat.
BAB XIII
BUNDARAN BESAR DAN PERTARUNGAN TANPA PEDANG
Malam di Kota Kuala Kapuas turun lebih
cepat dari biasanya. Seolah langit sengaja menutup siang terlalu cepat agar
sesuatu segera dipaksa terjadi.
Lampu-lampu di Bundaran Besar Kuala
Kapuas menyala satu per satu, memantul di aspal basah oleh sisa panas siang.
Kendaraan melintas tanpa henti. Klakson bersahut. Kota tetap hidup, tapi udara
malam itu terasa seperti menahan sesuatu yang akan meledak.
Dan memang…
Bundaran Besar malam itu bukan sekadar
simpang jalan.
Tapi simpang perasaan.
Rayhan berdiri di tepi taman bundaran.
Dadang dan Alex di sampingnya.
Rayhan menatap jalan lama, lalu
berkata pelan tanpa menoleh.
“Aku sudah tidak mau menunggu tanpa
arah lagi.”
Dadang langsung menatapnya.
“Maksudmu?”
Rayhan menjawab pelan tapi tegas.
“Aku akan bicara langsung ke Yanti.
Malam ini.”
Alex langsung menyela.
“Kau yakin? Setelah semua yang terjadi
di sekolah?”
Rayhan mengangguk.
“Aku justru karena semua yang terjadi
di sekolah. Kalau terus diam, aku akan kehilangan kesempatan tanpa pernah tahu
jawabannya.”
Dadang menepuk bahunya.
“Tapi kau harus siap, Ray. Jawaban
tidak selalu sesuai harapan.”
Rayhan tersenyum kecil pahit.
“Aku tidak sedang mencari harapan. Aku
hanya ingin kejelasan.”
Tidak jauh dari mereka.
Riyadi datang.
Langkahnya pelan, wajahnya tenang
seperti biasa.
Dadang langsung memperhatikannya.
“Dia juga datang…”
Rayhan hanya melirik sekilas.
Riyadi berhenti di sisi lain bundaran.
Tidak mendekat.
Ia berkata pelan pada dirinya sendiri.
“Jadi akhirnya semua memang berkumpul
di sini…”
Beberapa menit kemudian suara motor
terdengar.
Hendra datang.
Sulton di belakangnya.
Hendra turun, melepas helm, lalu tersenyum
tipis melihat situasi itu.
“Menarik…” katanya pelan.
Rayhan langsung menatapnya tajam.
“Kau selalu muncul di waktu yang
salah.”
Hendra menjawab santai.
“Atau kalian saja yang selalu memilih
waktu yang sama untuk ribut.”
Alex langsung menyahut.
“Ini bukan ribut biasa.”
Hendra menoleh.
“Lalu apa?”
Alex terdiam.
Karena ia sendiri tidak tahu jawaban
tepatnya.
Suasana mulai mengeras.
Dadang berdiri di tengah.
“Sudah, jangan mulai lagi.”
Sulton justru berkata pelan dari
samping.
“Kalian tidak bisa menghindari ini
terus. Semakin ditahan, semakin jelas arahnya.”
Rayhan menatap Sulton.
“Ini bukan soal arah.”
Sulton menjawab tenang.
“Tapi soal siapa yang berani melangkah
lebih dulu.”
Lalu Yanti datang.
Amanda di sampingnya.
Langkah mereka berhenti ketika melihat
semua orang sudah ada di sana.
Yanti langsung berhenti.
“Aku tidak menyangka…” katanya pelan.
Amanda berbisik.
“Ini bukan kebetulan lagi.”
Rayhan langsung maju satu langkah.
“Aku akan langsung saja.”
Semua diam.
Rayhan menatap Yanti.
“Aku menyukaimu.”
Jelas.
Tanpa jeda.
Tanpa hiasan.
Yanti terdiam.
Dadang menunduk.
Alex menghela napas.
Riyadi tidak bergerak.
Hendra hanya menatap.
Lalu Hendra melangkah maju.
“Aku juga.”
Satu kalimat pendek.
Tapi berat.
Ia menatap Yanti.
“Aku tidak datang untuk
setengah-setengah. Kalau aku mau sesuatu, aku akan ambil sampai jelas.”
Rayhan langsung menoleh.
“Itu bukan cara yang benar.”
Hendra tersenyum tipis.
“Benar atau tidak, itu tidak mengubah
hasil.”
Semua mata kini beralih.
Ke Riyadi.
Rayhan menatapnya.
“Sekarang kau.”
Hening.
Sangat lama.
Riyadi menatap jalan bundaran yang
terus berputar.
Lalu berkata pelan.
“Aku tidak akan bicara dengan cara
yang sama seperti kalian.”
Rayhan mengernyit.
“Apa maksudmu?”
Riyadi menarik napas.
“Aku menyukainya.”
Hening.
Tapi bukan hening biasa.
Ini lebih dalam.
Lebih berat.
Riyadi melanjutkan pelan.
“Tapi aku tidak pernah merasa perlu
mengumumkannya seperti sebuah perlombaan.”
Hendra menyeringai kecil.
“Karena kau terlalu takut bersaing?”
Riyadi langsung menatapnya.
“Tidak. Karena aku tidak menganggap
perasaan sebagai sesuatu yang harus diperebutkan dengan keras.”
Rayhan langsung menyahut.
“Tapi dunia memang seperti itu.”
Riyadi menjawab tenang.
“Mungkin dunia kalian.”
Yanti menunduk.
“Aku… tidak tahu harus bagaimana…”
Rayhan langsung berkata.
“Kalau kau diam terus, ini tidak akan
selesai.”
Hendra menyela.
“Pilih saja.”
Riyadi langsung menatap Hendra.
“Itu bukan cara yang adil.”
Hendra menjawab dingin.
“Tidak ada yang adil dalam perasaan.”
Dadang akhirnya maju.
“Stop.”
Semua menoleh.
Dadang menatap mereka satu per satu.
“Ini bukan pertarungan.”
Alex langsung menimpali.
“Ini terlalu kacau untuk disebut
percintaan biasa.”
Sulton berkata pelan.
“Semua cinta yang serius memang tidak
pernah sederhana.”
Yanti menutup mata sebentar.
Ketika membuka, suaranya pelan tapi
tegas.
“Aku butuh waktu.”
Sunyi.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Rayhan menghela napas.
“Baik.”
Hendra hanya tersenyum tipis.
“Silakan.”
Riyadi menunduk sedikit.
“Aku mengerti.”
Yanti melanjutkan.
“Aku tidak ingin menyakiti siapa pun.”
Rayhan menjawab pelan.
“Itu tidak mungkin.”
Hendra menyahut.
“Kau hanya menunda.”
Riyadi berkata lembut.
“Tapi setidaknya kau mencoba tidak
melukai lebih dalam.”
Yanti menatap mereka satu per satu.
“Aku tidak bisa memilih sekarang.”
Rayhan mengangguk.
“Aku tahu.”
Hendra tidak menjawab.
Riyadi hanya diam.
Amanda akhirnya bicara.
“Sudah cukup untuk malam ini.”
Semua menoleh.
Amanda menatap Yanti.
“Kau sudah bilang butuh waktu. Berarti
ini bukan akhir, tapi jeda.”
Sulton menatap kejadian itu lalu
berkata pelan.
“Jeda hanya memperjelas siapa yang
bertahan.”
Rayhan menatap Yanti.
“Aku akan menunggu jawabanmu.”
Hendra menyela.
“Aku tidak menunggu lama.”
Riyadi menatap keduanya.
“Aku tidak akan menekanmu.”
Yanti mengangguk pelan.
Lalu berkata.
“Aku benar-benar butuh sendiri dulu.”
Ia berbalik.
Melangkah pelan keluar dari Bundaran
Besar.
Amanda mengikuti.
Rayhan berdiri diam.
“Ini belum selesai.”
Hendra tersenyum tipis.
“Justru baru dimulai.”
Riyadi hanya menatap ke arah Yanti
pergi.
Dan malam di Bundaran Besar Kuala
Kapuas tetap berputar seperti biasa.
Tapi di dalam hati mereka semua…
tidak ada lagi yang benar-benar sama.
Karena pertarungan itu bukan lagi soal
kata-kata.
Tapi soal siapa yang paling kuat
bertahan dalam diam.
BAB XIV
PASAR SARI MULYA DAN HATI YANG MULAI LELAH
Pagi di Kota Kuala Kapuas berjalan
seperti biasa.
Namun bagi mereka yang berjalan di
Jalan Pemuda menuju SMA Kapuas, tidak ada lagi pagi yang benar-benar terasa
ringan.
Langit cerah, angin lembut, dan
hiruk-pikuk kota tetap sama.
Tapi hati mereka sudah berbeda.
Rayhan berjalan bersama Dadang dan
Alex.
Namun kali ini Rayhan tidak banyak
bicara.
Dadang memperhatikan dari samping.
“Sejak kapan kau jadi pendiam begini?”
tanya Dadang.
Rayhan menjawab tanpa menoleh.
“Sejak aku sadar bahwa diam atau
bicara sama-sama tidak mengubah apa-apa.”
Alex menghela napas.
“Kau masih memikirkan Yanti?”
Rayhan berhenti sejenak.
Lalu menjawab pelan.
“Bukan hanya memikirkan… tapi mencoba
mengerti kenapa aku masih berdiri di tempat yang sama sementara yang lain terus
bergerak.”
Dadang menepuk bahunya.
“Kadang bukan kau yang diam, Rayhan.
Tapi situasinya.”
Rayhan tersenyum kecil pahit.
“Kalau begitu situasi ini
menyebalkan.”
Di sisi lain, Riyadi berjalan sendiri
di Jalan Tambun Bungai.
Langkahnya pelan.
Seperti seseorang yang tidak sedang
menuju tujuan, tapi sedang menghindari pikirannya sendiri.
Ia berhenti di pinggir jalan.
Menatap kendaraan yang lewat.
“Semua jadi semakin berat…” gumamnya.
Ia menunduk sedikit.
“Aku tidak ingin ini jadi seperti
ini.”
Sementara itu di Pasar Sari Mulya.
Yanti berjalan bersama Amanda.
Suasana pasar ramai, suara
tawar-menawar terdengar di mana-mana.
Namun Yanti tidak benar-benar hadir di
sana.
Amanda akhirnya berhenti di depan
lapak buah.
“Kau tahu kau berubah?” tanya Amanda
langsung.
Yanti menoleh pelan.
“Berubah bagaimana?”
Amanda menjawab tegas.
“Sejak Bundaran Besar itu. Kau seperti
kehilangan arah.”
Yanti tersenyum kecil.
“Aku tidak kehilangan arah.”
Amanda mengangkat alis.
“Lalu?”
Yanti menjawab pelan.
“Aku hanya terlalu banyak arah.”
Amanda menghela napas.
“Dan semua arah itu menuju ke mana?”
Yanti diam.
Tidak menjawab.
Di pertokoan Sanjaya.
Hendra berdiri bersama Sulton.
Matanya tajam menatap jalan.
Sulton berbicara pelan.
“Kau benar-benar tidak mau mundur?”
Hendra menjawab tanpa ragu.
“Tidak.”
Sulton menatapnya serius.
“Bahkan kalau itu membuatmu terlihat
seperti orang yang kehilangan dirimu sendiri?”
Hendra tersenyum tipis.
“Kalau harus kehilangan sedikit diri
untuk menang, itu bukan masalah.”
Sulton menggeleng kecil.
“Itu bukan menang. Itu hilang.”
Hendra menatapnya tajam.
“Kalau kau tidak berjuang, kau tidak
akan mengerti.”
Sulton menjawab pelan.
“Aku justru sudah mengerti. Dan itu
kenapa aku tidak ingin terus seperti ini.”
Sore menjelang malam.
Yanti dan Amanda keluar dari Pasar
Sari Mulya.
Tas belanja sudah penuh.
Namun langkah Yanti tiba-tiba berhenti
di Jalan Pemuda.
Amanda ikut berhenti.
“Apa lagi?” tanya Amanda.
Yanti menatap seberang jalan.
Di sana…
Riyadi berdiri di dekat halte.
Seolah tidak sengaja.
Atau justru terlalu sengaja untuk
disebut kebetulan.
Amanda menatap Yanti.
“Kau mau ke sana?”
Yanti tidak langsung menjawab.
Dadanya naik turun pelan.
“Kalau aku ke sana… apa yang berubah?”
tanyanya pelan.
Amanda menjawab jujur.
“Tidak ada.”
Yanti menunduk.
“Lalu kenapa aku merasa harus ke
sana?”
Amanda menjawab lebih pelan.
“Karena hatimu sudah memutuskan
sesuatu, tapi kau belum mengakuinya.”
Yanti terdiam lama.
Lalu menyeberang.
Riyadi melihatnya datang.
Ia tidak bergerak duluan.
Yanti berhenti tepat di depannya.
Hening.
Riyadi membuka percakapan duluan.
“Capek?”
Yanti tersenyum kecil.
“Ya.”
Riyadi mengangguk.
“Aku juga.”
Yanti menatapnya.
“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi,
Riyadi.”
Riyadi menjawab tenang.
“Kamu tidak harus tahu sekarang.”
Yanti langsung menyahut.
“Tapi semua orang menunggu jawaban.”
Riyadi menggeleng pelan.
“Kalau kau hidup untuk memenuhi semua
yang menunggu, kau tidak akan pernah hidup untuk dirimu sendiri.”
Yanti menunduk.
“Tapi kalau aku salah memilih?”
Riyadi menjawab pelan tapi tegas.
“Semua pilihan bisa terasa salah bagi
seseorang.”
Yanti menatapnya lagi.
“Lalu bagaimana aku tahu yang benar?”
Riyadi menjawab tanpa ragu.
“Tidak tahu.”
Yanti mengernyit.
“Lalu?”
Riyadi melanjutkan.
“Kau hanya perlu memilih yang
membuatmu paling tenang saat kau memikirkannya, bukan yang paling tidak membuat
orang lain marah.”
Hening.
Yanti menarik napas panjang.
“Aku takut…”
Riyadi mengangguk.
“Aku juga.”
Yanti menatapnya.
“Tapi kau selalu terlihat tenang.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Tenang bukan berarti tidak takut.”
Yanti terdiam.
Di kejauhan.
Amanda memperhatikan.
Sementara di sisi lain jalan.
Hendra berdiri bersama Sulton.
Hendra melihat mereka.
Matanya sedikit menyipit.
Sulton berkata pelan.
“Kau masih ingin masuk ke situ?”
Hendra tidak menjawab langsung.
Lalu berkata pelan.
“Kalau aku mundur sekarang… aku tidak
akan pernah tahu sampai akhir.”
Sulton menjawab tenang.
“Atau kau justru sudah tahu tapi tidak
mau menerima.”
Hendra diam.
Untuk pertama kalinya, tidak menjawab.
Yanti akhirnya berkata pelan kepada
Riyadi.
“Kalau aku memilih… aku takut
menyakiti seseorang.”
Riyadi menjawab pelan.
“Kamu sudah menyakiti tanpa sadar
sejak semuanya dimulai.”
Yanti menunduk.
“Itu yang membuatku semakin takut.”
Riyadi menatapnya.
“Takut tidak akan menghentikan apa
pun.”
Yanti mengangkat wajahnya.
“Lalu apa yang menghentikan?”
Riyadi menjawab pelan.
“Kejujuran.”
Hening panjang.
Yanti menutup mata sebentar.
Lalu berkata sangat pelan.
“Aku lelah, Riyadi.”
Riyadi mengangguk.
“Aku tahu.”
Angin malam bertiup.
Lampu Jalan Pemuda mulai menyala.
Dan di antara cahaya itu…
Yanti berdiri di antara semua pilihan
yang belum selesai.
Namun untuk pertama kalinya…
ia mulai mendengar satu suara yang
tidak berteriak.
Tidak memaksa.
Tidak menuntut.
Tapi terus ada.
Dan suara itu adalah Riyadi.
BAB XV
TAMAN KOTA DAN PILIHAN YANG TAK TERUNGKAP
Pagi di Kota Kuala Kapuas terasa lebih
lembut dari biasanya.
Taman Kota mulai ramai oleh warga yang
berolahraga, anak-anak, dan pedagang kecil. Namun di antara keramaian itu, ada
suasana yang tidak terlihat oleh orang lain.
Sesuatu yang pelan-pelan menekan hati
beberapa orang yang terlibat di dalam kisah yang sama.
Yanti duduk di bangku taman bersama
Amanda.
Amanda sejak tadi memperhatikan wajah
Yanti yang tidak fokus.
Amanda akhirnya bicara langsung.
“Kau tahu aku sudah cukup lama diam?”
kata Amanda.
Yanti menoleh pelan.
“Maksudmu?”
Amanda menjawab tegas.
“Kau seperti orang yang berdiri di
tengah persimpangan tapi pura-pura tidak melihat jalan.”
Yanti menghela napas.
“Aku tidak tahu harus ke mana.”
Amanda langsung menyahut.
“Bukan tidak tahu. Kau tahu, tapi kau
takut konsekuensinya.”
Yanti diam.
Amanda melanjutkan.
“Rayhan jelas.”
“Riyadi tenang.”
“Hendra keras kepala.”
Amanda menatapnya lebih dalam.
“Tapi kau… diam di tengah dan
membiarkan semuanya berjalan tanpa arah.”
Yanti menunduk.
“Kalau aku memilih, akan ada yang
terluka.”
Amanda menjawab cepat.
“Dan kalau kau tidak memilih, semua
akan terluka lebih lama.”
Di sisi lain kota.
Riyadi berjalan sendiri di Jalan
Tambun Bungai.
Langkahnya pelan.
Namun pikirannya tidak tenang.
Ia berhenti di pinggir jalan.
“Aku harus berhenti…” gumamnya.
“Aku tidak boleh membuat ini semakin
berat untuk Yanti.”
Ia menunduk.
Namun langkahnya tetap berjalan lagi.
Seolah hatinya tidak setuju dengan
pikirannya sendiri.
Di Bundaran Besar.
Rayhan duduk bersama Dadang dan Alex.
Rayhan tiba-tiba berbicara.
“Aku mulai sadar satu hal.”
Dadang menoleh.
“Apa?”
Rayhan menjawab pelan.
“Semakin aku memaksa sesuatu, semakin
jauh itu menjauh.”
Alex mengangkat alis.
“Kau menyerah?”
Rayhan langsung menggeleng.
“Bukan menyerah.”
Ia berhenti.
“Tapi berhenti menyakiti diriku
sendiri.”
Dadang menatapnya lama.
“Dan Yanti?”
Rayhan tersenyum kecil.
“Kalau memang bukan aku… aku tidak
akan jadi orang yang menghancurkan diriku sendiri karena itu.”
Di tempat lain.
Hendra berdiri di depan rumahnya.
Sulton di sampingnya.
Hendra berbicara tanpa menoleh.
“Aku tidak akan mundur.”
Sulton langsung menjawab.
“Kalau begitu kau tidak sedang
mengejar cinta.”
Hendra menoleh.
“Lalu apa?”
Sulton menjawab pelan.
“Kau sedang mengejar kemenangan.”
Hendra tersenyum dingin.
“Dalam hidup, semua adalah
kemenangan.”
Sulton menggeleng.
“Tidak dalam cinta.”
Hendra langsung membalas.
“Kalau bukan menang, lalu apa gunanya
berjuang?”
Sulton menjawab tenang.
“Memahami.”
Hendra diam.
Untuk sepersekian detik.
Namun lalu ia berkata singkat.
“Aku tidak tertarik pada itu.”
Sore hari di Taman Kota.
Yanti masih bersama Amanda.
Namun kali ini…
Riyadi datang.
Langkahnya pelan.
Amanda langsung berdiri.
“Aku pergi dulu.”
Yanti menoleh.
“Amanda…”
Amanda tersenyum kecil.
“Ini bukan urusanku lagi di sini.”
Amanda pergi.
Meninggalkan mereka.
Hening.
Yanti menatap Riyadi.
“Kau selalu datang di waktu yang tidak
tepat.”
Riyadi menjawab pelan.
“Atau mungkin justru di waktu yang
paling jujur.”
Yanti menghela napas.
“Aku lelah, Riyadi.”
Riyadi mengangguk.
“Aku tahu.”
Yanti langsung menatapnya.
“Kau selalu bilang ‘aku tahu’… tapi
itu tidak menyelesaikan apa pun.”
Riyadi menjawab tenang.
“Aku tidak mencoba menyelesaikan.”
Yanti mengernyit.
“Lalu apa?”
Riyadi menjawab pelan tapi jelas.
“Aku mencoba tidak menambah bebanmu.”
Yanti terdiam.
Yanti lalu bertanya langsung.
“Kalau aku tidak memilihmu… kau akan bagaimana?”
Riyadi terdiam lama.
Sangat lama.
Lalu menjawab jujur.
“Aku tidak tahu.”
Yanti menatapnya.
“Jawaban itu menyakitkan.”
Riyadi mengangguk.
“Tapi itu jujur.”
Yanti menunduk.
“Kenapa kau tidak pernah memaksa aku?”
Riyadi menjawab pelan.
“Karena aku tidak ingin sesuatu yang
lahir dari tekanan.”
Yanti langsung menatapnya.
“Dan kalau aku memilih orang lain?”
Riyadi tersenyum kecil pahit.
“Itu juga bagian dari hidup.”
Yanti terdiam.
“Berarti kau bisa kehilangan aku
begitu saja?”
Riyadi menjawab pelan.
“Aku bisa kehilangan siapa pun dalam
situasi ini.”
Hening.
Yanti menatapnya lama.
“Kenapa kau terlihat paling tenang di
antara kita semua?”
Riyadi menjawab pelan.
“Karena aku tidak pernah mencoba
mengendalikan apa yang tidak bisa dikendalikan.”
Yanti menarik napas panjang.
“Aku takut.”
Riyadi mengangguk.
“Aku juga.”
Yanti menatapnya.
“Tapi kau tidak pernah terlihat
takut.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Takut bukan berarti harus terlihat.”
Yanti terdiam.
Lalu berkata pelan.
“Aku takut kehilangan semua orang ini.”
Riyadi menjawab tenang.
“Kamu tidak bisa menjaga semua orang
tetap di tempat yang sama.”
Yanti langsung menatapnya.
“Lalu aku harus bagaimana?”
Riyadi menjawab pelan.
“Pilih yang membuatmu tidak kehilangan
dirimu sendiri.”
Hening panjang.
Dari kejauhan taman.
Hendra memperhatikan mereka.
Matanya tajam.
Sulton berdiri di sampingnya.
“Kau masih yakin ini jalanmu?” tanya
Sulton.
Hendra menjawab singkat.
“Ya.”
Sulton menghela napas.
“Ini tidak akan berakhir baik untuk
semua orang.”
Hendra menjawab dingin.
“Tidak semua hal harus berakhir baik
untuk semua orang.”
Yanti akhirnya berkata pelan.
“Aku tidak tahu harus memilih
bagaimana.”
Riyadi mengangguk.
“Tidak apa-apa.”
Yanti menatapnya.
“Tapi semua orang menunggu.”
Riyadi menjawab.
“Jangan hidup hanya untuk menjawab
penantian orang lain.”
Yanti terdiam lama.
Sangat lama.
Dan di dalam keheningan Taman Kota
itu…
Yanti akhirnya menyadari sesuatu.
Bukan jawaban.
Bukan keputusan.
Tetapi satu hal kecil yang perlahan
tumbuh:
bahwa diamnya selama ini bukan
ketenangan…
tetapi penundaan dari sesuatu yang
tidak bisa ia hindari selamanya.
BAB XVI
JALAN TAMBUN BUNGAI DAN KEPUTUSAN YANG TERGANTUNG
Malam di Kota Kuala Kapuas turun
perlahan.
Jalan Tambun Bungai tampak lebih sepi
dari biasanya. Lampu jalan menyala redup, angin dari Sungai Kapuas terasa
lembap dan dingin.
Namun malam itu bukan hanya dingin di
udara.
Tapi juga di hati beberapa orang yang
sedang berada di titik yang tidak lagi bisa dihindari.
Yanti berjalan sendirian.
Langkahnya pelan.
Tangannya memegang ponsel, tapi tidak
pernah dibuka.
Ia berbicara pelan pada dirinya
sendiri.
“Aku tidak bisa terus seperti ini…”
Ia berhenti di tepi trotoar.
Menatap jalan yang kosong.
“Aku capek harus jadi alasan semua
orang tidak bisa tenang.”
Ia menghela napas panjang.
“Kenapa aku merasa seperti harus
menyelesaikan sesuatu yang bahkan tidak aku mulai?”
Dari arah halte, Riyadi terlihat
berdiri.
Ia menatap Yanti dari kejauhan.
Lalu perlahan mendekat.
Riyadi membuka percakapan.
“Jalan sendiri lagi?”
Yanti menoleh.
“Ya.”
Riyadi mengangguk.
“Kau sering memilih jalan yang sunyi
akhir-akhir ini.”
Yanti tersenyum kecil.
“Karena jalan yang ramai justru terasa
lebih berat.”
Riyadi menatapnya.
“Karena terlalu banyak pikiran?”
Yanti menjawab pelan.
“Karena terlalu banyak orang di dalam
pikiran.”
Riyadi terdiam.
Yanti akhirnya berkata langsung.
“Aku merasa semua orang menungguku
memilih sesuatu.”
Riyadi menjawab tenang.
“Dan itu membuatmu lelah.”
Yanti mengangguk.
“Bukan hanya lelah… tapi sesak.”
Riyadi menatap jalan.
“Kau tidak harus dipaksa.”
Yanti langsung menjawab.
“Tapi kalau aku terlalu lama, semuanya
akan terluka.”
Riyadi menoleh.
“Dan kalau kau terburu-buru, kau juga
akan terluka.”
Yanti tersenyum pahit.
“Jadi tidak ada jalan yang benar?”
Riyadi menjawab pelan.
“Tidak ada yang benar-benar bersih.”
Yanti menatapnya lama.
“Kenapa kau selalu membuat semuanya
terdengar tenang tapi berat?”
Riyadi menjawab jujur.
“Karena aku tidak ingin kau merasa
harus kuat sendirian.”
Yanti menunduk.
“Aku takut kehilangan semuanya.”
Riyadi menjawab pelan.
“Dan aku takut kau kehilangan dirimu
sendiri.”
Tiba-tiba suara motor terdengar.
Rayhan datang.
Berhenti tidak jauh dari mereka.
Ia turun.
Wajahnya serius, tapi tidak marah.
Rayhan langsung berkata.
“Aku mencarimu.”
Yanti menoleh.
“Ada apa?”
Rayhan menarik napas.
“Aku ingin jawaban.”
Hening.
Dadang dan Alex datang dari belakang.
Rayhan melanjutkan.
“Aku sudah cukup diam.”
Yanti terlihat semakin tertekan.
Riyadi sedikit mundur.
Rayhan menatap Yanti.
“Aku tidak minta dipilih sekarang… aku
hanya ingin kejelasan.”
Yanti menjawab pelan.
“Aku belum bisa.”
Rayhan mengangguk.
“Tapi aku juga tidak bisa terus di
titik yang sama.”
Riyadi akhirnya berkata.
“Rayhan…”
Rayhan menoleh cepat.
“Aku tidak sedang menyerangmu,
Riyadi.”
Riyadi menjawab tenang.
“Aku tahu.”
Rayhan melanjutkan.
“Tapi aku juga tidak akan diam
selamanya.”
Suasana semakin tegang.
Lalu suara motor lain terdengar.
Hendra datang.
Ia turun tanpa tergesa.
Sulton di belakangnya.
Hendra tersenyum tipis.
“Lengkap juga malam ini.”
Rayhan langsung menatapnya.
“Ini bukan tempatmu bermain.”
Hendra menjawab santai.
“Aku tidak bermain.”
Ia menatap Yanti.
“Aku hanya datang untuk memastikan
satu hal.”
Yanti menatapnya lelah.
“Apa lagi?”
Hendra menjawab tegas.
“Apakah aku masih punya kesempatan
atau tidak.”
Yanti menghela napas panjang.
“Aku tidak bisa menjawab kalian satu
per satu seperti ini…”
Rayhan langsung menyela.
“Tapi kau harus.”
Hendra ikut.
“Kalau tidak sekarang, kapan?”
Riyadi akhirnya berkata pelan.
“Tidak semua hal harus diputuskan
dalam tekanan.”
Rayhan menoleh.
“Kalau bukan sekarang, kita akan terus
seperti ini.”
Riyadi menjawab tenang.
“Dan kalau dipaksakan sekarang, kau
akan kehilangan hal yang lebih penting.”
Hendra menyeringai kecil.
“Yaitu?”
Riyadi menatapnya.
“Kejelasan yang jujur.”
Yanti menutup mata sebentar.
Lalu berkata pelan.
“Tolong… berhenti.”
Semua diam.
Yanti melanjutkan lebih jelas.
“Aku tidak bisa terus berada di posisi
ini.”
Rayhan terdiam.
Hendra tidak bereaksi.
Riyadi menatapnya tenang.
Yanti menarik napas dalam.
“Aku butuh waktu.”
Rayhan langsung menjawab.
“Berapa lama?”
Yanti menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Hendra menatapnya.
“Kalau terlalu lama, kau hanya
memperpanjang sakit.”
Riyadi menambahkan pelan.
“Tapi kalau terlalu cepat, kau bisa
kehilangan arah.”
Yanti menatap mereka satu per satu.
“Aku bukan tidak mau memilih…”
Suaranya bergetar.
“Aku hanya takut memilih salah.”
Rayhan menjawab cepat.
“Tidak ada yang benar-benar salah.”
Hendra membalas.
“Dan tidak ada yang benar-benar aman.”
Riyadi menatap Yanti.
“Tapi ada yang paling jujur dengan
hatimu sendiri.”
Hening.
Sangat lama.
Yanti akhirnya berkata pelan.
“Aku minta waktu sendiri.”
Rayhan terdiam.
Hendra menatap tanpa ekspresi.
Riyadi menunduk sedikit.
Yanti berbalik.
Pelan.
“Jangan ikuti aku.”
Langkahnya menjauh.
Sendirian.
Rayhan berdiri diam.
Dadang menepuk bahunya tapi tidak
berkata apa-apa.
Alex hanya menghela napas.
Hendra tersenyum tipis.
“Menarik.”
Riyadi menatap ke arah Yanti pergi.
Diam.
Lama.
Tidak ada yang mengejar.
Tidak ada yang memanggil.
Hanya suara langkah kaki Yanti yang
perlahan hilang di Jalan Tambun Bungai.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya…
tidak ada yang menang.
Tidak ada yang kalah.
Hanya empat hati yang berdiri di bawah
langit Kuala Kapuas yang semakin sunyi…
dengan perasaan yang belum menemukan
tempat pulang.
BAB XVII
MALAM DI JALAN PEMUDA DAN HATI YANG PERGI TANPA ARAH
Malam setelah peristiwa di Jalan
Tambun Bungai tidak pernah benar-benar terasa selesai.
Kota Kuala Kapuas tetap hidup.
Lampu jalan tetap menyala.
Kendaraan tetap lewat.
Namun di dalam hati mereka yang
terlibat di dalamnya, tidak ada lagi sesuatu yang terasa normal.
Rayhan melaju pelan di Jalan Pemuda.
Dadang dan Alex sempat menyusul, tapi
Rayhan melambatkan motornya.
Rayhan berkata tanpa menoleh.
“Jangan ikut aku.”
Dadang menjawab dari belakang.
“Kenapa?”
Rayhan menjawab pelan.
“Aku butuh sendiri.”
Alex berseru.
“Sendiri tidak selalu menyelesaikan
masalah, Ray.”
Rayhan berhenti sebentar di pinggir
jalan.
Lalu menjawab.
“Tapi terus bersama orang lain juga
tidak selalu menyembuhkan.”
Hening.
Rayhan melanjutkan.
“Aku capek jadi orang yang selalu
berharap.”
Dadang turun dari motor.
“Berharap itu bukan kesalahan.”
Rayhan menoleh.
“Tapi berharap pada sesuatu yang tidak
pernah pasti… itu menyakitkan.”
Alex diam.
Rayhan menghidupkan kembali motornya.
“Aku mau berhenti sebentar.”
Lalu pergi.
Di sisi lain kota.
Riyadi berjalan kaki di Jalan Tambun
Bungai menuju Jalan Pemuda.
Langkahnya pelan.
Namun pikirannya tidak tenang.
Ia berhenti di bawah lampu jalan.
“Kenapa semuanya jadi sejauh ini…”
gumamnya.
Ia mengeluarkan napas panjang.
“Aku tidak pernah ingin menjadi pusat
dari semua ini.”
Ia menatap jalan kosong.
Lalu melanjutkan pelan.
“Aku hanya ingin semuanya jujur, bukan
seperti ini.”
Tiba-tiba suara motor lewat.
Rayhan.
Namun mereka tidak berhenti.
Hanya saling melihat sekilas.
Tidak ada sapaan.
Tidak ada konflik.
Hanya dua orang yang sama-sama lelah,
tapi memilih arah yang berbeda.
Di tempat lain.
Hendra berdiri di depan rumahnya.
Sulton datang.
Sulton langsung bicara.
“Kau semakin dalam, Hendra.”
Hendra menjawab tanpa menoleh.
“Aku tidak punya alasan untuk mundur.”
Sulton menatapnya serius.
“Bukan soal alasan. Ini soal batas.”
Hendra menjawab cepat.
“Aku tidak percaya batas dalam hal
seperti ini.”
Sulton menghela napas.
“Kalau begitu kau sedang menuju
sesuatu yang tidak kau mengerti.”
Hendra menoleh.
“Aku mengerti satu hal.”
Sulton bertanya.
“Apa?”
Hendra menjawab tegas.
“Aku tidak akan membiarkan kesempatan
ini hilang.”
Sulton diam sejenak.
Lalu berkata pelan.
“Kadang yang kau kejar bukan cinta…
tapi ilusi tentang menang.”
Hendra tersenyum dingin.
“Dan kadang yang kau sebut menyerah
adalah ketakutan.”
Di rumahnya.
Yanti duduk di kamar.
Lampu redup.
Ponsel di tangannya.
Ia menatap layar lama.
Nama-nama itu masih ada.
Rayhan.
Riyadi.
Hendra.
Namun ia tidak membuka satu pun.
Ia berbicara pelan pada dirinya
sendiri.
“Aku harus bagaimana…”
Ia menarik napas dalam.
“Kenapa semuanya terasa seperti beban
yang tidak pernah aku minta?”
Ia memejamkan mata.
Namun suara di kepalanya justru
semakin ramai.
Keesokan pagi.
SMA Kapuas terasa berbeda.
Sunyi.
Tidak ada Rayhan yang biasanya
bercanda.
Tidak ada Riyadi yang tenang di
jendela.
Tidak ada suasana ringan seperti dulu.
Amanda menatap kelas.
“Ini seperti bukan sekolah lagi,”
katanya pelan.
Julaeha menjawab mencoba ringan.
“Lebih seperti ruang tunggu masalah.”
Tidak ada yang tertawa.
Karena semua tahu itu benar.
Di taman sekolah.
Riyadi duduk.
Rayhan datang.
Mereka saling melihat.
Rayhan duduk.
Hening panjang.
Rayhan membuka percakapan.
“Aku mau jujur.”
Riyadi menoleh.
“Silakan.”
Rayhan menarik napas.
“Aku berhenti.”
Riyadi mengernyit.
“Berhenti?”
Rayhan mengangguk.
“Aku tidak mau terus berada di titik
yang sama tanpa kepastian.”
Riyadi menjawab pelan.
“Berhenti dari apa?”
Rayhan menatapnya.
“Dari mengejar sesuatu yang tidak
berjalan ke arahku.”
Hening.
Riyadi menjawab pelan.
“Itu bukan kegagalan.”
Rayhan tersenyum kecil.
“Bukan kemenangan juga.”
Riyadi mengangguk.
“Kadang hidup memang bukan tentang
itu.”
Rayhan berdiri.
“Aku hanya ingin bernapas lagi.”
Lalu ia pergi.
Riyadi menatap kepergiannya.
Lalu berkata pelan.
“Kadang berhenti bukan karena kalah…
tapi karena ingin tetap utuh.”
Di kelas.
Hendra memperhatikan Yanti.
Sulton berbisik.
“Kau masih yakin?”
Hendra menjawab tanpa ragu.
“Lebih yakin dari sebelumnya.”
Sulton menatapnya tajam.
“Dia tidak sedang mendekat ke siapa
pun.”
Hendra menjawab pelan.
“Justru itu peluangnya.”
Sulton menggeleng.
“Itu bukan peluang. Itu tekanan.”
Hendra menjawab dingin.
“Aku tidak takut tekanan.”
Di jendela kelas.
Yanti menatap langit.
Amanda duduk di sampingnya.
Amanda bertanya pelan.
“Kau masih memikirkan mereka semua?”
Yanti menjawab jujur.
“Aku tidak tahu lagi mana yang aku
pikirkan… atau mana yang aku takuti.”
Amanda menatapnya.
“Dan itu masalahnya.”
Yanti bertanya.
“Apa?”
Amanda menjawab pelan tapi tegas.
“Kau bukan sedang memilih cinta.”
Yanti menoleh.
“Lalu?”
Amanda menjawab.
“Kau sedang kehilangan dirimu
sendiri.”
Hening.
Yanti terdiam lama.
Lalu berkata pelan.
“Kalau aku terus begini… aku akan
hilang ya?”
Amanda menjawab pelan.
“Bukan hilang.”
“Tapi tidak lagi tahu siapa dirimu.”
Yanti menatap langit sekali lagi.
Dan untuk pertama kalinya dalam semua
ini…
ia tidak bertanya siapa yang harus
dipilih.
Tapi bertanya pada dirinya sendiri.
“Aku ini sebenarnya siapa?”
Dan di bawah langit Kuala Kapuas yang
tetap tenang…
tiga hati mulai bergerak menjauh dari
titik yang sama.
Bukan karena selesai.
Tapi karena mereka semua mulai lelah
menjadi bagian dari sesuatu yang tidak lagi mereka pahami sepenuhnya.
BAB XVIII
SENJA DI JALAN TAMBUN BUNGAI DAN KETENANGAN YANG PALSU
Beberapa hari setelah Rayhan memilih
diam, suasana SMA Kapuas terlihat lebih tenang di permukaan.
Tidak ada lagi persaingan yang meledak
di koridor.
Tidak ada lagi percakapan tajam yang
terbuka.
Tidak ada lagi konfrontasi langsung.
Tapi semua orang yang terlibat tahu…
ini bukan ketenangan.
Ini hanya jeda.
Yanti duduk di bangku taman sekolah
bersama Amanda.
Amanda memperhatikan sejak lama
sebelum akhirnya bicara.
“Kau sadar tidak, kau sekarang lebih
sering diam daripada bicara?”
Yanti menjawab pelan.
“Aku bukan diam.”
Amanda mengangkat alis.
“Lalu apa?”
Yanti menunduk.
“Aku hanya… tidak tahu harus menjawab
apa lagi.”
Amanda langsung menyahut.
“Justru itu masalahnya. Kau terlalu
banyak menyimpan jawaban yang belum selesai.”
Yanti menghela napas.
“Kalau aku bicara, semua akan semakin
rumit.”
Amanda menatapnya tajam.
“Sekarang pun sudah rumit.”
Di sisi lain kota.
Riyadi berjalan di Jalan Tambun
Bungai.
Langkahnya pelan.
Ia berhenti di pinggir jalan.
Berbicara pada dirinya sendiri.
“Aku harus berhenti masuk terlalu
dalam…”
Ia menghela napas.
“Tapi kenapa aku masih di sini?”
Sore itu.
Yanti berjalan sendiri di Jalan Tambun
Bungai.
Angin lembut.
Langit mulai berubah jingga.
Ia berhenti di trotoar.
“Aku jadi tidak mengenali diriku
sendiri…” gumamnya.
“Aku tidak tahu lagi aku ini sedang
menunggu apa… atau siapa.”
Dari arah seberang jalan.
Riyadi muncul.
Ia berhenti.
Tidak langsung mendekat.
Hanya diam.
Yanti melihatnya.
“Kenapa kau selalu muncul di tempat
yang sama?” tanya Yanti pelan.
Riyadi menjawab.
“Karena kita berjalan di kota yang
sama.”
Yanti tersenyum kecil pahit.
“Tapi kenapa rasanya seperti kau
selalu ada di saat yang paling tidak tenang?”
Riyadi menjawab jujur.
“Karena kau sedang tidak tenang.”
Yanti menatapnya.
“Jawabanmu selalu terlalu jujur.”
Riyadi mengangguk.
“Karena aku tidak ingin menambah
kebingunganmu.”
Yanti langsung berkata.
“Aku merasa semua orang menungguku di
posisi yang berbeda.”
Riyadi menatapnya.
“Dan itu membuatmu kelelahan.”
Yanti mengangguk cepat.
“Bukan hanya lelah… tapi sesak.”
Riyadi menjawab pelan.
“Kalau begitu, kau tidak harus berada
di semua posisi itu.”
Yanti langsung menoleh.
“Tapi kalau aku tidak ada di salah
satunya… aku kehilangan semuanya.”
Riyadi menggeleng.
“Tidak.”
Yanti mengernyit.
“Maksudmu?”
Riyadi menjawab pelan tapi tegas.
“Kau hanya akan kehilangan sesuatu
yang bukan benar-benar milikmu.”
Hening.
Yanti menunduk.
“Aku tidak ingin menyakiti siapa pun.”
Riyadi menjawab cepat.
“Itu tidak mungkin.”
Yanti langsung menatapnya.
“Apa?”
Riyadi melanjutkan.
“Dalam situasi seperti ini, tidak ada
keputusan yang tidak melukai seseorang.”
Yanti terdiam lama.
Tiba-tiba suara motor terdengar.
Hendra.
Ia berhenti tidak jauh.
Turun dengan tenang.
Langkahnya mantap.
Ia langsung bicara.
“Aku mencarimu.”
Yanti menoleh.
“Ada apa lagi?”
Hendra menjawab tanpa ragu.
“Aku ingin kejelasan.”
Riyadi menatapnya diam.
Hendra melanjutkan.
“Aku tidak suka keadaan ini.”
Yanti menjawab pelan.
“Aku tidak menciptakan keadaan ini…”
Hendra memotong.
“Tapi kau berada di pusatnya.”
Hening.
Riyadi akhirnya bicara.
“Hendra…”
Hendra menoleh.
“Aku tidak sedang menyerangmu.”
Riyadi menjawab tenang.
“Tapi kau sedang menekan situasi.”
Hendra tersenyum tipis.
“Situasi memang harus ditekan agar
bergerak.”
Riyadi menjawab pelan.
“Atau justru pecah.”
Yanti mengangkat tangan sedikit.
“Tolong…”
Semua diam.
Yanti melanjutkan.
“Aku tidak bisa terus seperti ini.”
Rayhan tidak ada di sini, tapi namanya
seperti tetap terasa hadir.
Yanti berkata lebih pelan.
“Aku butuh waktu.”
Hendra langsung menjawab.
“Waktu sudah terlalu lama.”
Riyadi berkata pelan.
“Waktu bukan musuh.”
Hendra menoleh.
“Tapi juga bukan teman.”
Yanti menatap mereka satu per satu.
“Aku tidak ingin kehilangan kalian
semua…”
Rayhan tidak di sini.
Tapi bayangannya ada.
Hendra langsung berkata.
“Itu tidak mungkin.”
Riyadi menjawab lebih lembut.
“Tidak semua orang bisa kita simpan
dalam ruang yang sama.”
Yanti menatapnya.
“Lalu aku harus bagaimana?”
Riyadi menjawab jujur.
“Pilih yang tidak membuatmu kehilangan
dirimu sendiri.”
Hening panjang.
Angin sore bertiup lebih lembut.
Lampu jalan mulai menyala.
Dan Jalan Tambun Bungai terasa seperti
ruang yang menahan semua perasaan itu di satu titik.
Yanti akhirnya bertanya pelan.
“Kalau aku memilih… kau akan pergi?”
Riyadi terdiam lama.
Sangat lama.
Lalu menjawab.
“Aku tidak tahu.”
Yanti tersenyum kecil pahit.
“Jawaban itu paling jujur… tapi juga
paling sakit.”
Riyadi mengangguk.
“Karena aku tidak ingin berbohong.”
Yanti menatapnya.
“Kenapa kau tidak pernah memaksaku?”
Riyadi menjawab.
“Karena aku tidak ingin kau memilih
karena tekanan.”
Yanti langsung berkata.
“Tapi semua orang menekanku.”
Riyadi menjawab pelan.
“Dan aku tidak ingin menjadi salah
satunya.”
Hening.
Yanti menarik napas panjang.
“Aku takut salah.”
Riyadi menatapnya.
“Tidak ada pilihan yang benar-benar
aman.”
Yanti tersenyum kecil.
“Itu yang paling menakutkan.”
Riyadi mengangguk.
“Tapi juga yang paling jujur.”
Dari kejauhan.
Hendra memperhatikan.
Sulton berdiri di sampingnya.
“Kau masih yakin?” tanya Sulton.
Hendra menjawab tanpa ragu.
“Lebih dari sebelumnya.”
Sulton menghela napas.
“Dia tidak sedang menuju siapa pun.”
Hendra menjawab dingin.
“Justru itu kesempatan.”
Sulton menatapnya lama.
“Itu bukan kesempatan. Itu
kekosongan.”
Hendra tidak menjawab.
Yanti akhirnya berkata pelan.
“Terima kasih…”
Riyadi menatapnya.
“Untuk apa?”
Yanti tersenyum kecil.
“Untuk tidak memaksaku.”
Riyadi mengangguk.
“Karena cinta tidak seharusnya
memaksa.”
Yanti berbalik.
Berjalan pelan.
Tidak terburu-buru.
Namun langkah itu seperti membuka bab
baru yang tidak bisa lagi ditarik kembali.
Riyadi berdiri diam.
Tidak mengejar.
Tidak memanggil.
Hanya menatap.
Dan untuk pertama kalinya…
ia tidak merasa kehilangan.
Hanya merasa bahwa cinta yang benar…
tidak selalu harus menggenggam.
Dan di bawah senja Jalan Tambun Bungai
yang perlahan berubah menjadi malam…
semua perasaan itu bergerak pelan.
Bukan selesai.
Bukan berhenti.
Tapi menuju sesuatu yang jauh lebih
dalam dari sebelumnya.
BAB XIX
SIMPANG ADIPURA DAN BAYANG-BAYANG KEPUTUSAN
Pagi di Simpang Adipura selalu tampak
seperti pusat denyut Kota Kuala Kapuas.
Arus kendaraan dari berbagai arah
bertemu di satu titik yang sama, berputar, berbelok, lalu berpisah kembali
membawa tujuan masing-masing. Di sekelilingnya, taman kecil dengan tulisan
“Adipura” berdiri menjadi saksi orang-orang yang datang dan pergi tanpa pernah
benar-benar menetap.
Namun pagi itu, Simpang Adipura terasa
berbeda.
Seperti persimpangan yang tidak hanya
mengatur arah jalan, tetapi juga arah hati.
Yanti berdiri di pinggir taman,
bersama Amanda.
Wajahnya tidak setegang beberapa hari
sebelumnya, tetapi juga tidak benar-benar tenang.
Seolah ia sedang berada di antara dua
keadaan yang sama-sama belum selesai.
Amanda memperhatikannya cukup lama.
“Kau masih memikirkan semuanya?” tanya
Amanda pelan.
Yanti mengangguk kecil.
“Terlalu banyak.”
Amanda menghela napas.
“Kau tidak bisa menyelesaikan semua
orang dalam satu keputusan.”
Yanti tersenyum kecil.
“Aku tahu.”
Tapi dari nada suaranya, jelas bahwa
ia belum benar-benar mengerti bagaimana cara melepaskan beban itu.
Di seberang jalan, Riyadi muncul dari
arah Jalan Jenderal Sudirman.
Ia berhenti ketika melihat Yanti.
Namun kali ini ia tidak langsung
mendekat.
Ia hanya berdiri di sisi jalan,
menunggu lampu lalu lintas yang tidak ada hubungannya dengan mereka, tetapi
seolah ikut mengatur jarak di antara mereka.
Yanti melihatnya.
Dan untuk sesaat, dunia di Simpang Adipura
terasa mengecil.
Amanda menoleh ke arah Riyadi, lalu
berkata pelan.
“Aku tunggu di sini.”
Ia berjalan menjauh, memberi ruang.
Yanti menatap Riyadi yang mulai
menyeberang.
Langkahnya pelan.
Tidak terburu-buru.
Tidak ragu.
Hanya tenang.
Riyadi berhenti di depan Yanti.
Hening.
Tidak ada kata pembuka yang ringan
seperti dulu.
Tidak ada senyum yang mencoba
mencairkan suasana.
Yanti lebih dulu berbicara.
“Aku rasa… aku semakin dekat dengan
keputusan.”
Riyadi mengangguk pelan.
“Aku bisa melihat itu.”
Yanti menatapnya.
“Tapi aku takut.”
Riyadi tidak langsung menjawab.
Ia menunggu.
Seperti biasa.
Memberi ruang bagi Yanti untuk
mengeluarkan semuanya tanpa tekanan.
“Aku takut kalau apa pun pilihanku…
akan ada yang hancur,” lanjut Yanti.
Riyadi menghela napas pelan.
“Dan kau ingin menghindari itu.”
Yanti mengangguk.
“Tapi semakin aku menghindari, semakin
semuanya justru rusak.”
Riyadi menatap Simpang Adipura di
belakang mereka.
Kendaraan terus berputar.
Tidak pernah berhenti.
“Kadang,” kata Riyadi pelan, “hidup
memang seperti simpang ini.”
Yanti menoleh.
“Maksudmu?”
Riyadi melanjutkan.
“Tidak semua arah bisa kita jalani
bersamaan.”
Yanti terdiam.
Riyadi menatapnya.
“Dan tidak semua orang bisa kita bawa
ke arah yang sama.”
Hening.
Angin pagi bertiup pelan.
Daun-daun di taman bergerak lembut.
Yanti menunduk.
“Aku tidak ingin ada yang merasa
ditinggalkan.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Tapi mungkin dalam perjalanan ini…
seseorang memang harus merasa begitu.”
Kalimat itu membuat Yanti diam lebih
lama.
Di kejauhan, Hendra muncul di ujung
jalan.
Berdiri di seberang Simpang Adipura.
Tidak mendekat.
Hanya memperhatikan.
Matanya tajam seperti biasa.
Sulton berdiri di sampingnya.
“Kau masih ingin masuk ke dalam itu?”
tanya Sulton pelan.
Hendra tidak menoleh.
“Aku tidak keluar dari sesuatu yang
sudah aku mulai.”
Sulton menghela napas.
“Kadang yang kita mulai… tidak selalu
bisa kita akhiri dengan cara kita sendiri.”
Hendra tersenyum tipis.
“Aku tidak peduli bagaimana akhirnya.
Aku hanya peduli aku sampai di sana.”
Sulton terdiam.
Karena ia tahu, Hendra sudah terlalu
jauh untuk hanya sekadar dinasihati.
Di sisi lain, Rayhan terlihat melintas
di kejauhan dengan motor.
Tidak berhenti.
Hanya melihat sekilas Simpang Adipura.
Lalu pergi.
Seperti seseorang yang sudah
memutuskan untuk tidak lagi berada di tengah pusaran itu.
Dadang dan Alex yang bersamanya hanya
saling menatap.
“Dia benar-benar mulai menarik diri,”
kata Alex pelan.
Dadang mengangguk.
“Kadang itu lebih baik daripada terus
terluka.”
Sementara itu di Simpang Adipura,
Yanti masih berdiri di depan Riyadi.
“Aku ingin jujur,” kata Yanti
akhirnya.
Riyadi mengangguk.
“Aku mendengarkan.”
Yanti menarik napas panjang.
“Aku tidak bisa terus menggantung
semuanya.”
Hening.
Riyadi tidak mengganggu.
Yanti melanjutkan.
“Aku harus memilih… bukan karena
tekanan… tapi karena aku harus berhenti menyakiti diriku sendiri.”
Riyadi menatapnya lama.
Dan di dalam tatapannya, tidak ada
permintaan.
Tidak ada harapan yang memaksa.
Hanya penerimaan.
“Aku mengerti,” kata Riyadi pelan.
Yanti menunduk.
“Dan aku belum siap mengatakannya
sekarang.”
Riyadi mengangguk.
“Itu tidak masalah.”
Yanti menatapnya cepat.
“Kau tidak marah?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Tidak.”
Yanti terlihat semakin bingung.
“Kenapa?”
Riyadi menatap Simpang Adipura sekali
lagi.
“Karena kau tidak sedang memilih aku
atau mereka.”
Ia menoleh ke Yanti.
“Kau sedang memilih dirimu sendiri.”
Hening.
Kali ini, kata-kata itu tidak terasa
berat.
Tetapi justru menenangkan.
Yanti menutup mata sebentar.
Dan saat membukanya kembali, sesuatu
di dalam dirinya terasa sedikit lebih ringan.
Amanda dari kejauhan memperhatikan.
Dan untuk pertama kalinya, ia melihat
Yanti tidak lagi hanya bingung.
Tetapi mulai jujur pada dirinya
sendiri.
Sementara itu Hendra masih berdiri di
seberang jalan.
Menatap.
Diam.
Dan Sulton berkata pelan.
“Kalau kau terus mengejar sesuatu yang
sedang menjauh… kau hanya akan kehilangan arahmu sendiri.”
Hendra tidak menjawab.
Namun tangannya mengepal sedikit lebih
kuat.
Dan Simpang Adipura tetap berputar.
Mobil datang dan pergi.
Orang-orang melintas tanpa berhenti
lama.
Seperti kehidupan yang tidak pernah
menunggu keputusan siapa pun.
Dan di tengah semua itu…
Yanti akhirnya sadar satu hal kecil
namun penting.
Bahwa keputusan yang paling sulit
bukanlah memilih siapa yang dicintai.
Tetapi memilih siapa dirinya sendiri
di antara semua cinta itu.
BAB XX
AKHIR SEBUAH PENANTIAN DAN AWAL YANG SEBENARNYA
Pagi di Kota Kuala Kapuas terasa lebih
jernih dari biasanya.
Langit biru terbentang tanpa awan
tebal, dan angin yang datang dari arah Sungai Kapuas membawa suasana yang lebih
tenang, seperti kota yang baru saja melewati badai panjang dan akhirnya belajar
bernapas kembali.
Di SMA Kapuas, suasana tidak lagi
sepadat beberapa minggu terakhir.
Tidak ada lagi ketegangan yang terlalu
terlihat di koridor.
Tidak ada lagi percakapan setengah
rahasia yang penuh dugaan.
Namun justru di dalam ketenangan itu,
semua orang tahu sesuatu telah berubah secara permanen.
Yanti datang ke sekolah lebih awal.
Ia duduk di kelas sendirian, menatap
jendela yang terbuka sebagian.
Rambutnya sedikit berantakan tertiup
angin pagi.
Namun wajahnya tidak lagi sama seperti
dulu.
Ada ketenangan kecil yang mulai
tumbuh.
Bukan karena semua masalah selesai.
Tetapi karena ia akhirnya berhenti
lari dari dirinya sendiri.
Amanda datang dan duduk di sampingnya.
“Kau sudah lebih tenang,” kata Amanda
pelan.
Yanti tersenyum kecil.
“Aku tidak tahu apakah ini tenang…
atau hanya mulai menerima.”
Amanda mengangguk.
“Itu hal yang sama bagi orang yang
sudah lelah.”
Yanti tertawa pelan.
Kecil.
Tapi jujur.
Di luar kelas, Riyadi berdiri di dekat
taman sekolah.
Sendirian.
Seperti biasa.
Namun kali ini tidak ada beban di
matanya.
Tidak ada harapan yang memaksa.
Tidak ada keraguan yang mengikat.
Hanya seseorang yang sudah berdamai
dengan sesuatu yang tidak harus dimiliki untuk tetap dihargai.
Rayhan datang beberapa saat kemudian.
Ia berhenti di dekat Riyadi.
Mereka saling menatap.
Hening.
Lalu Rayhan tersenyum kecil.
“Aneh ya,” katanya pelan.
Riyadi menoleh.
“Apa?”
Rayhan menghela napas.
“Kita pernah ada di titik di mana
semuanya terasa seperti perang.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Dan sekarang?”
Rayhan menatap langit.
“Sekarang rasanya seperti kita baru
saja bangun dari mimpi panjang yang melelahkan.”
Riyadi mengangguk pelan.
“Mungkin kita memang butuh itu.”
Rayhan menepuk bahunya.
“Aku mundur bukan karena kalah.”
Riyadi menatapnya.
“Tapi?”
Rayhan tersenyum.
“Karena aku mulai mengerti… aku juga
penting dalam hidupku sendiri.”
Riyadi mengangguk.
Dan untuk pertama kalinya, tidak ada
rasa kompetisi di antara mereka.
Hanya pemahaman.
Di sisi lain, Hendra berdiri di
pinggir jalan dekat pertokoan Sanjaya.
Sulton ada di sampingnya.
Hendra tidak banyak bicara sejak
beberapa hari terakhir.
Namun hari itu, ia terlihat berbeda.
Lebih diam.
Lebih jauh dari ambisi yang dulu
membakar dirinya.
Sulton menatapnya.
“Kau masih ingin melanjutkan
semuanya?” tanya Sulton pelan.
Hendra diam cukup lama.
Lalu menggeleng pelan.
“Aku terlalu jauh mengejar sesuatu
yang bahkan tidak pernah benar-benar diam di tempat.”
Sulton menatapnya lama.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak
melihat Hendra sebagai seseorang yang keras kepala.
Tetapi sebagai seseorang yang akhirnya
lelah.
Hendra melanjutkan pelan.
“Aku pikir cinta itu soal menang.”
Ia tersenyum tipis.
“Ternyata bukan.”
Sulton mengangguk pelan.
“Tidak semua yang kita kejar memang
untuk kita miliki.”
Hendra tidak menjawab lagi.
Namun langkahnya hari itu tidak lagi
penuh tekanan.
Seperti seseorang yang mulai
melepaskan sesuatu yang selama ini ia genggam terlalu erat.
Sementara itu di taman kecil SMA
Kapuas, Yanti berdiri sendiri setelah jam pulang sekolah.
Angin sore menyentuh wajahnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu
yang sangat panjang, ia tidak merasa dikejar oleh siapa pun.
Amanda berdiri tidak jauh, tersenyum
kecil melihatnya.
Yanti akhirnya berjalan pelan ke
tengah taman.
Menarik napas dalam.
Dan berkata pelan pada dirinya
sendiri.
“Aku tidak harus memilih siapa yang
paling mencintaiku…”
Ia berhenti sejenak.
Lalu melanjutkan.
“Tetapi siapa yang membuatku tidak
kehilangan diriku sendiri.”
Di kejauhan, Riyadi melihatnya.
Tidak mendekat.
Tidak memanggil.
Hanya tersenyum kecil.
Rayhan yang berdiri di sisi lain juga
melihat.
Dan mengangguk pelan.
Hendra dari jauh berhenti sejenak.
Lalu melanjutkan langkahnya tanpa
menoleh lagi.
Dan di bawah langit Kuala Kapuas yang
mulai berubah jingga, tidak ada lagi persaingan yang terbuka.
Tidak ada lagi perburuan yang
melelahkan.
Tidak ada lagi perang perasaan.
Hanya empat arah yang akhirnya
memahami satu hal yang sama.
Bahwa cinta bukan selalu tentang
memiliki.
Tetapi tentang belajar melepaskan,
mengerti, dan tumbuh.
Yanti melangkah keluar dari taman.
Bukan sebagai seseorang yang telah
dipilih.
Tetapi sebagai seseorang yang akhirnya
memilih dirinya sendiri.
Dan di situlah…
akhir dari sebuah penantian panjang.
Sekaligus awal dari kehidupan yang
benar-benar baru.
BAB XXI
WAKTU YANG TERUS BERJALAN DI KOTA KAPUAS AIR
Waktu tidak pernah berhenti di Kota
Kuala Kapuas.
Ia tetap mengalir seperti Sungai
Kapuas yang membelah kota, membawa segala yang pernah terjadi, tanpa pernah
benar-benar mengulang kembali jejak yang sama.
Beberapa minggu setelah semua
peristiwa itu berlalu, kehidupan di SMA Kapuas kembali seperti biasa.
Namun “biasa” yang baru.
Bukan lagi seperti dulu.
Lebih tenang.
Lebih dewasa.
Dan lebih sunyi dari drama yang pernah
meledak di antara mereka.
Rayhan kembali seperti dirinya yang
baru.
Tidak lagi mengejar sesuatu yang tidak
pasti.
Ia lebih banyak menghabiskan waktu
bersama Dadang dan Alex, tertawa ringan di kantin, atau sekadar duduk di taman
sekolah tanpa membicarakan masa lalu.
“Aku pikir aku akan hancur,” kata
Rayhan suatu siang.
Dadang tertawa kecil.
“Dan ternyata?”
Rayhan tersenyum.
“Ternyata aku cuma butuh berhenti
mengejar sesuatu yang tidak pernah benar-benar untukku.”
Alex mengangguk.
“Kadang kita terlalu sibuk mencintai
sampai lupa hidup.”
Rayhan menatap langit.
Dan untuk pertama kalinya, ia
benar-benar merasa bebas.
Riyadi tetap menjadi Riyadi yang sama.
Tenang.
Diam.
Namun ada perubahan kecil di dalam
dirinya.
Ia tidak lagi menunggu sesuatu dengan
cara yang sama.
Ia mulai fokus pada dirinya sendiri.
Belajar.
Membantu kegiatan sekolah.
Dan berjalan di Jalan Pemuda tanpa
lagi membawa beban yang tidak perlu.
Amanda suatu hari berkata kepadanya.
“Kau terlihat lebih ringan sekarang.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Mungkin karena aku berhenti membawa
sesuatu yang bukan untukku.”
Amanda mengangguk.
“Itu bukan kehilangan.”
Riyadi menatapnya.
“Tapi pelepasan.”
Amanda tersenyum.
“Ya. Dan itu tidak semua orang bisa
lakukan.”
Sementara itu Hendra…
tidak lagi terlihat di pusat keramaian
seperti dulu.
Ia lebih sering terlihat sendiri.
Di pertokoan Sanjaya.
Di pinggir jalan.
Atau sekadar duduk di motor tanpa
tujuan jelas.
Sulton masih di sampingnya sesekali.
Namun percakapan mereka kini lebih
tenang.
Lebih reflektif.
“Kenapa kau berubah?” tanya Sulton
suatu hari.
Hendra terdiam lama.
“Aku tidak berubah,” katanya pelan.
“Aku hanya mulai mengerti bahwa tidak
semua hal bisa dimenangkan.”
Sulton mengangguk pelan.
“Dan itu tidak membuatmu kalah.”
Hendra tersenyum kecil.
“Tapi membuatku lebih manusia.”
Dan tentang Yanti…
ia tidak lagi menjadi pusat dari
segala perdebatan.
Ia kembali menjadi dirinya sendiri.
Berjalan di Jalan Jenderal Sudirman
tanpa tekanan.
Mengunjungi Taman Kota bersama Amanda.
Tertawa di Pasar Sari Mulya saat
membeli jajanan sederhana.
Dan belajar bahwa hidup tidak harus
selalu berada di tengah pilihan yang sulit.
Suatu sore, di Dermaga KP3 Kuala
Kapuas, Yanti berdiri sendiri.
Angin sungai bertiup pelan.
Air Kapuas mengalir tenang.
Dan langit berubah warna menjadi
jingga lembut.
Ia tersenyum kecil.
Bukan karena semuanya sempurna.
Tetapi karena semuanya akhirnya
selesai dengan cara yang tidak merusak dirinya sendiri.
“Aku tidak kehilangan siapa pun,”
gumamnya pelan.
“Karena aku tidak pernah benar-benar
memiliki siapa pun.”
Yanti menarik napas panjang.
Dan untuk pertama kalinya dalam
perjalanan panjang itu…
ia merasa damai.
Di kejauhan, lampu kota mulai menyala
satu per satu.
SMA Kapuas tetap berdiri.
Jalan Pemuda tetap ramai.
Bundaran Besar tetap berputar.
Dan Sungai Kapuas tetap mengalir tanpa
henti.
Seperti waktu.
Seperti kehidupan.
Dan seperti cinta…
yang kadang datang bukan untuk
dimiliki, tetapi untuk mengajarkan arti menjadi manusia yang lebih utuh.
BAB XXII
KOTA AIR DAN CERITA YANG TIDAK BENAR-BENAR SELESAI
Waktu terus berjalan di Kota Kuala
Kapuas, tetapi tidak semua cerita benar-benar berakhir seperti halaman terakhir
sebuah buku.
Ada kisah yang selesai di kata
“tamat”, namun masih hidup di dalam ingatan orang-orang yang pernah menjadi
bagiannya.
Hari-hari setelah epilog itu tidak
benar-benar sunyi.
Mereka hanya berubah bentuk menjadi
sunyi yang lebih dewasa.
SMA Kapuas kembali dipenuhi suara tawa
siswa, langkah kaki di koridor, dan suara bel yang memecah pagi.
Namun bagi mereka yang pernah berada
di dalam pusaran “Para Pemburu Cinta di Bawah Langit SMA”, sekolah itu tidak
lagi sama.
Ia sudah menjadi ruang kenangan yang
tidak terlihat, tetapi selalu terasa.
Riyadi suatu pagi berdiri di depan
kelas, menatap halaman sekolah.
Angin bergerak pelan di antara
pepohonan.
Ia tersenyum kecil.
Bukan senyum bahagia yang
meledak-ledak.
Tetapi senyum orang yang sudah
berdamai dengan banyak hal yang tidak bisa ia ubah.
“Dulu aku pikir aku harus memenangkan
sesuatu,” gumamnya pelan.
Ia menarik napas.
“Ternyata yang lebih penting adalah
tidak kehilangan diri sendiri.”
Di belakangnya, Dadang muncul sambil
membawa minuman.
“Wah, sekarang kau mulai jadi orang
bijak,” godanya.
Riyadi tertawa kecil.
“Bukan bijak. Hanya pernah terlalu
lelah.”
Mereka berdua tertawa ringan.
Tidak ada lagi ketegangan.
Tidak ada lagi kompetisi.
Hanya persahabatan yang kembali ke
bentuknya yang sederhana.
Di tempat lain, Rayhan berdiri di
jembatan kecil menuju arah Jalan Pemuda.
Motor terparkir.
Ia menatap Sungai Kapuas yang mengalir
tenang.
Alex dan Dadang datang menghampiri.
“Masih sering ke sini?” tanya Alex.
Rayhan mengangguk.
“Tempat ini mengingatkanku pada
sesuatu.”
Dadang menatapnya.
“Menyesal?”
Rayhan menggeleng.
“Bukan.”
Ia tersenyum kecil.
“Mengingatkan bahwa aku pernah belajar
cara mencintai dengan cara yang salah… lalu belajar cara melepaskannya dengan
benar.”
Hening sejenak.
Rayhan melanjutkan.
“Dan itu tidak buruk.”
Alex mengangguk pelan.
“Itu proses.”
Rayhan menatap sungai.
“Ya… proses menjadi dewasa.”
Sementara itu Hendra tidak lagi banyak
bicara tentang masa lalu.
Ia terlihat lebih sering sendiri.
Namun bukan lagi dalam bentuk ambisi.
Lebih seperti seseorang yang sedang
memulihkan dirinya sendiri.
Sulton masih sesekali menemani.
Suatu hari mereka duduk di pinggir Pertokoan
Sanjaya.
Hendra menatap jalan.
“Kalau kau ulang waktu itu, kau akan
melakukan hal yang sama?” tanya Sulton.
Hendra diam lama.
Lalu menggeleng pelan.
“Tidak.”
Sulton menoleh.
“Kenapa?”
Hendra tersenyum kecil.
“Karena aku sekarang tahu… tidak semua
yang kita kejar layak untuk membuat kita kehilangan diri sendiri.”
Sulton mengangguk pelan.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak
membantah.
Di sisi lain kota, Yanti berjalan di
Taman Kota bersama Amanda.
Mereka tertawa kecil membicarakan
hal-hal ringan.
Tidak ada lagi beban berat di setiap
percakapan.
Tidak ada lagi nama-nama yang menjadi
pusat konflik.
Hanya dua remaja perempuan yang
kembali menikmati hidupnya.
“Kalau dipikir-pikir,” kata Amanda
sambil tertawa, “cerita kita dulu itu dramatis sekali.”
Yanti tersenyum.
“Lebih seperti badai.”
Amanda menatapnya.
“Tapi kau tidak tenggelam.”
Yanti mengangguk.
“Aku belajar berenang di dalamnya.”
Mereka tertawa bersama.
Dan sore itu terasa ringan.
Di kejauhan, Dermaga KP3 kembali
menjadi saksi.
Yanti berdiri sendiri di sana sebentar
setelah berpisah dengan Amanda.
Ia menatap air Sungai Kapuas yang
mengalir tanpa henti.
“Semua orang pernah menjadi bagian
dari ceritaku,” gumamnya pelan.
“Tapi tidak semua orang harus tinggal
di dalamnya selamanya.”
Angin bertiup pelan.
Dan Yanti tersenyum.
Bukan lagi sebagai “yang
diperebutkan”.
Bukan lagi sebagai pusat konflik.
Tetapi sebagai seseorang yang akhirnya
mengerti bahwa hidup tidak selalu tentang dipilih.
Melainkan tentang memilih untuk tetap
utuh.
Di atas langit Kota Kapuas, senja
kembali turun seperti biasa.
Bundaran Besar tetap berputar.
Jalan Pemuda tetap ramai.
SMA Kapuas tetap berdiri.
Dan Sungai Kapuas tetap mengalir tanpa
henti.
Namun bagi mereka…
semua itu kini hanya menjadi latar
dari sebuah pelajaran panjang tentang cinta, kehilangan, persahabatan, dan
menjadi manusia yang lebih dewasa.
Dan meski cerita ini telah ditutup
berkali-kali…
di dalam hati mereka masing-masing, ia
tetap hidup.
Pelan.
Tenang.
Seperti aliran air yang tidak pernah
benar-benar berhenti.
BAB XXIII
KENANGAN YANG TERTINGGAL DI JALAN PEMUDA
Waktu berjalan seperti biasa di Kota
Kuala Kapuas, tetapi bagi sebagian orang, waktu tidak pernah benar-benar
menghapus jejak yang pernah ditinggalkan perasaan.
Jalan Pemuda kembali ramai oleh
aktivitas pagi.
Pelajar SMA Kapuas melintas dengan
sepeda motor, pedagang membuka lapak, dan suara kota kembali menjadi latar yang
akrab seperti sebelumnya.
Namun di antara keramaian itu, ada
sesuatu yang tidak terlihat tetapi masih terasa.
Kenangan.
Riyadi berjalan sendirian pagi itu.
Ia tidak lagi terburu-buru.
Langkahnya pelan, matanya tenang, dan
pikirannya tidak lagi penuh kekacauan seperti dulu.
Ia berhenti di depan sebuah toko kecil
di pinggir Jalan Pemuda.
Menatap jalan yang dulu sering menjadi
saksi pertemuannya dengan banyak hal.
“Aneh,” gumamnya pelan.
“Tempat yang sama… tapi rasanya
berbeda.”
Ia tersenyum kecil.
Bukan senyum sedih.
Bukan senyum bahagia.
Tetapi senyum seseorang yang sudah
selesai berperang dengan dirinya sendiri.
Di kejauhan, Rayhan melintas dengan
motornya.
Ia berhenti sebentar saat melihat
Riyadi.
Mereka saling pandang.
Tidak ada lagi ketegangan.
Tidak ada lagi kompetisi.
Rayhan menurunkan helmnya sedikit.
“Masih suka jalan sendiri?” teriaknya
sambil tersenyum.
Riyadi tertawa kecil.
“Lebih enak daripada ribut dengan
pikiran sendiri.”
Rayhan mengangguk.
“Setuju.”
Lalu ia melanjutkan perjalanan.
Pergi.
Tapi kali ini tidak seperti pergi yang
menjauhkan.
Hanya melanjutkan hidup.
Riyadi memandangnya sampai hilang dari
pandangan.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa
tidak ada yang hilang.
Hanya berubah.
Di tempat lain, Taman Kota kembali
menjadi tempat Yanti dan Amanda duduk di sore hari.
Angin lembut menyentuh wajah mereka.
Suasana tenang.
Tidak ada lagi beban yang menggantung
seperti dulu.
Amanda membuka percakapan ringan.
“Kalau kau bertemu mereka lagi
sekarang, apa yang kau rasakan?”
Yanti terdiam sebentar.
Lalu tersenyum.
“Tidak ada yang harus aku hindari.”
Amanda menatapnya.
“Bahkan mereka?”
Yanti mengangguk.
“Bahkan mereka.”
Ia menarik napas pelan.
“Karena dulu mereka bagian dari
perjalanan aku… bukan tujuan akhir aku.”
Amanda tersenyum.
“Jawaban yang dewasa.”
Yanti tertawa kecil.
“Atau hanya cara lain untuk bilang aku
sudah lelah drama.”
Mereka tertawa bersama.
Dan sore itu terasa ringan.
Tidak lagi penuh tekanan.
Di sisi lain kota, Hendra berdiri di
dekat Pertokoan Sanjaya.
Sulton duduk di motor.
Hendra menatap jalan.
“Aku tidak lagi mengejar apa pun,”
katanya pelan.
Sulton menoleh.
“Lalu apa yang kau lakukan sekarang?”
Hendra tersenyum kecil.
“Berjalan.”
Sulton mengangguk.
“Itu sudah cukup.”
Hendra melanjutkan.
“Dulu aku pikir hidup itu tentang
memenangkan seseorang.”
Ia menatap langit.
“Tapi ternyata hidup lebih tentang
tidak kehilangan diri sendiri.”
Sulton tersenyum tipis.
“Akhirnya kau sampai di sana juga.”
Hendra tidak menjawab.
Tetapi kali ini diamnya bukan karena
keras kepala.
Melainkan karena ia tidak lagi perlu
membuktikan apa pun.
Sementara itu di Dermaga KP3 Kuala
Kapuas…
Yanti datang sendirian.
Langit sore mulai berubah jingga.
Air sungai mengalir tenang seperti
biasa.
Ia berdiri di tepi dermaga, menatap
jauh ke arah air.
“Aku tidak akan melupakan semuanya,”
gumamnya pelan.
“Tapi aku juga tidak akan kembali ke
sana.”
Angin bertiup lembut.
Seolah menjawab tanpa kata.
Yanti tersenyum kecil.
Dan untuk pertama kalinya, kenangan
tidak lagi terasa seperti beban.
Tetapi seperti bagian dari dirinya
yang sudah diterima.
Di belakangnya, kota tetap hidup.
Jalan Pemuda tetap ramai.
SMA Kapuas tetap berdiri.
Dan Sungai Kapuas tetap mengalir.
Namun di dalam hati mereka yang pernah
menjadi bagian dari kisah itu…
tidak ada lagi perang.
Hanya perjalanan yang terus berlanjut.
Dan bab ini ditutup bukan dengan
akhir.
Tetapi dengan kesadaran sederhana.
Bahwa beberapa cerita tidak pernah
benar-benar selesai.
Ia hanya berubah menjadi kenangan yang
ikut tumbuh bersama waktu.
BAB XXIV
SIMPANG KECIL DI UJUNG WAKTU
Beberapa bulan telah berlalu sejak
semuanya mereda di Kota Kuala Kapuas.
Hujan dan panas datang silih berganti,
seperti biasa, seperti tidak pernah terjadi apa pun yang luar biasa di antara
mereka.
Namun bagi Yanti, Riyadi, Rayhan, dan Hendra,
waktu tidak pernah benar-benar kembali menjadi “biasa”.
Ia hanya berubah menjadi lebih tenang,
lebih jauh, dan lebih dewasa.
SMA Kapuas kembali dipenuhi rutinitas.
Upacara hari Senin.
Tugas kelompok.
Tawa kecil di kantin.
Dan suara bel yang selalu sama setiap
hari.
Namun tidak ada lagi “perang kecil” di
koridor.
Tidak ada lagi tatapan yang terlalu
dalam di antara mereka.
Tidak ada lagi persaingan yang menyita
hati.
Semua sudah kembali ke tempatnya
masing-masing.
Atau setidaknya… tampak seperti itu.
Riyadi berdiri di depan kelas setelah
jam pelajaran usai.
Ia menatap luar jendela.
Pohon-pohon di halaman sekolah
bergerak pelan tertiup angin.
Dadang mendekatinya sambil membawa
buku.
“Kau masih suka melamun sekarang,”
kata Dadang sambil tersenyum.
Riyadi tertawa kecil.
“Bukan melamun.”
“Lalu?”
“Lebih seperti… mengingat tanpa
beban.”
Dadang mengangguk.
“Itu kemajuan.”
Riyadi tersenyum.
“Ya… mungkin.”
Di sisi lain sekolah, Rayhan sedang
duduk di bangku taman.
Alex dan Dadang sesekali menemaninya.
Rayhan memandang lapangan sekolah yang
kosong.
“Aku pikir setelah semua ini selesai,
aku akan merasa kosong,” katanya pelan.
Alex menoleh.
“Dan?”
Rayhan tersenyum kecil.
“Ternyata tidak.”
Dadang mengangkat alis.
“Lalu?”
Rayhan menatap langit.
“Aku hanya merasa… lebih ringan.”
Hening sejenak.
Rayhan melanjutkan.
“Mungkin karena aku berhenti memaksa
sesuatu yang memang bukan jalanku.”
Alex tersenyum.
“Dewasa itu kadang sesederhana
berhenti memaksa.”
Rayhan mengangguk.
“Ya.”
Sementara itu Hendra berdiri di depan
Pertokoan Sanjaya.
Ia tidak lagi terlihat seperti dulu.
Tidak ada lagi ambisi yang meledak di
matanya.
Tidak ada lagi ketegangan yang
menempel di wajahnya.
Sulton duduk di motor, menunggu.
“Kau masih memikirkan semuanya?” tanya
Sulton pelan.
Hendra menggeleng.
“Tidak lagi seperti dulu.”
Sulton menatapnya.
“Lalu apa yang tersisa?”
Hendra tersenyum kecil.
“Pelajaran.”
Sulton diam.
Hendra melanjutkan.
“Aku terlalu keras mengejar sesuatu
yang tidak pernah bisa aku kendalikan.”
Ia menatap jalan di depan.
“Sekarang aku hanya ingin berjalan.”
Sulton mengangguk pelan.
“Itu lebih sehat.”
Dan di tempat lain, Yanti berdiri di
Simpang Adipura.
Tempat yang dulu menjadi saksi keputusan
paling berat dalam hidupnya.
Kini ia datang sendiri.
Tidak lagi bingung.
Tidak lagi dikejar perasaan dari
banyak arah.
Amanda tidak di sana kali ini.
Rayhan tidak di sana.
Riyadi tidak di sana.
Hendra juga tidak di sana.
Hanya Yanti dan jalan yang berputar
tanpa henti.
Ia menatap kendaraan yang lewat satu
per satu.
“Aku pernah berada di sini,” gumamnya
pelan.
“Di titik di mana semuanya terasa
terlalu banyak.”
Ia tersenyum kecil.
“Tapi sekarang… aku hanya melihat
jalan.”
Angin bertiup pelan.
Dan untuk pertama kalinya, Simpang
Adipura tidak lagi terasa seperti tekanan.
Tetapi hanya persimpangan biasa dalam
hidup.
Yanti menarik napas panjang.
Lalu berkata pelan.
“Aku tidak lagi mencari siapa yang
memilihku.”
Ia berhenti sebentar.
“Tapi aku memilih untuk melanjutkan
hidupku.”
Ia tersenyum.
Dan melangkah pergi.
Tanpa ragu.
Tanpa beban.
Di kejauhan, Sungai Kapuas tetap
mengalir.
Lampu kota tetap menyala.
Dan Kota Kuala Kapuas tetap hidup
seperti biasa.
Namun bagi mereka yang pernah menjadi
bagian dari cerita itu…
setiap langkah kini terasa lebih
berarti.
Bukan karena cinta yang dimenangkan.
Tetapi karena diri sendiri yang
akhirnya ditemukan.
Dan di simpang kecil di ujung waktu
itu…
tidak ada lagi perburuan.
Hanya perjalanan yang terus berlanjut.
BAB XXV
DERMAGA KP3 DAN AKHIR YANG TIDAK PERNAH BENAR-BENAR AKHIR
Sore di Dermaga KP3 Kuala Kapuas
kembali seperti biasanya.
Air Sungai Kapuas mengalir tenang,
memantulkan cahaya senja yang mulai jatuh perlahan. Perahu-perahu bersandar
tanpa suara, dan angin membawa aroma khas sungai yang sudah sangat akrab bagi
warga kota.
Namun bagi Yanti, tempat ini tidak
pernah benar-benar menjadi “biasa”.
Dermaga KP3 selalu punya cara untuk
membuka kembali ingatan, meski ia sudah mencoba meletakkannya jauh di belakang
hidupnya.
Yanti berdiri sendiri di ujung
dermaga.
Tangannya memegang pagar besi yang
sedikit dingin.
Matanya menatap aliran air yang terus
bergerak tanpa pernah menoleh ke belakang.
“Aku kira aku sudah selesai dengan
semuanya,” gumamnya pelan.
Ia tersenyum kecil.
“Ternyata tidak ada yang benar-benar
selesai.”
Angin sore menyentuh wajahnya.
Dan dalam keheningan itu,
langkah-langkah masa lalu terasa kembali hadir satu per satu.
Riyadi.
Rayhan.
Hendra.
Semua pernah berdiri di titik yang
berbeda dalam hidupnya.
Semua pernah menjadi bagian dari kisah
yang membuatnya hampir kehilangan dirinya sendiri.
Namun kini… semuanya hanya tinggal
bayangan yang tidak lagi menekan.
Dari belakang, langkah pelan
terdengar.
Yanti menoleh.
Amanda datang menghampiri.
Ia berdiri di samping Yanti tanpa
banyak bicara.
“Aku tahu kau akan ke sini,” kata
Amanda pelan.
Yanti tersenyum kecil.
“Aku tidak merencanakannya.”
Amanda mengangguk.
“Tapi hatimu selalu tahu ke mana harus
pulang.”
Yanti terdiam.
Ia menatap sungai lagi.
“Apakah ini disebut pulang?” tanyanya
pelan.
Amanda tersenyum.
“Kalau bukan pulang… mungkin ini
disebut berdamai.”
Hening.
Angin bertiup lebih lembut.
Yanti menarik napas panjang.
“Aku dulu pikir cinta itu tentang
menemukan seseorang yang tepat.”
Ia menatap Amanda.
“Tapi sekarang aku merasa… cinta juga
bisa membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri kalau tidak hati-hati.”
Amanda mengangguk pelan.
“Dan kau sudah melewatinya.”
Yanti tersenyum.
“Ya… dengan cara yang tidak mudah.”
Di kejauhan, Riyadi muncul di jalan
menuju dermaga.
Ia berhenti sejenak.
Melihat Yanti dari jauh.
Tidak mendekat.
Hanya diam.
Wajahnya tenang seperti biasa.
Namun ada sesuatu di matanya yang
berbeda.
Bukan lagi harapan.
Bukan lagi luka.
Hanya kenangan yang sudah diterima
sebagai bagian dari hidup.
Di sisi lain jalan, Rayhan juga
muncul.
Ia berdiri di kejauhan, melihat
dermaga.
Tidak turun.
Hanya mengamati.
Lalu tersenyum kecil.
“Tempat ini masih sama,” gumamnya
pelan.
“Tapi kita tidak.”
Ia memutar motor perlahan.
Dan pergi.
Tanpa beban.
Tanpa penyesalan.
Tidak lama kemudian, Hendra juga
terlihat di ujung jalan.
Ia tidak mendekat.
Hanya berhenti sebentar.
Menatap Dermaga KP3 dari kejauhan.
Sulton di sampingnya.
“Kau tidak mau turun?” tanya Sulton.
Hendra menggeleng pelan.
“Tidak.”
Sulton menatapnya.
“Kenapa?”
Hendra tersenyum kecil.
“Karena aku sudah pernah terlalu jauh
masuk ke dalam sesuatu di tempat ini.”
Ia menatap dermaga.
“Sekarang aku hanya ingin
mengingatnya… tanpa kembali ke dalamnya.”
Sulton mengangguk pelan.
Dan mereka pun pergi.
Satu per satu.
Seperti halaman-halaman yang perlahan
ditutup, tetapi tidak pernah benar-benar dilupakan.
Di dermaga itu, Yanti akhirnya menoleh
ke belakang.
Tidak ada lagi yang tersisa selain
Amanda di sampingnya.
Ia tersenyum kecil.
“Aneh ya,” katanya pelan.
Amanda menatapnya.
“Apa?”
Yanti menarik napas.
“Dulu tempat ini penuh dengan
keputusan.”
Ia menatap sungai.
“Sekarang hanya penuh dengan
kenangan.”
Amanda tersenyum.
“Itu artinya kau sudah melewatinya.”
Yanti mengangguk.
“Ya.”
Hening.
Senja semakin turun.
Lampu-lampu mulai menyala di kejauhan
kota.
Dan Sungai Kapuas tetap mengalir
seperti biasa.
Tidak pernah berhenti.
Tidak pernah menoleh.
Seperti waktu.
Seperti kehidupan.
Yanti melangkah pelan menjauh dari
dermaga.
Amanda mengikutinya.
Dan sebelum benar-benar pergi, Yanti
berhenti sebentar.
Menatap Dermaga KP3 untuk terakhir
kalinya hari itu.
“Aku tidak akan melupakan kalian,”
gumamnya pelan.
“Tapi aku juga tidak akan tinggal di
sana lagi.”
Lalu ia tersenyum.
Dan berjalan pergi.
Tanpa menoleh kembali.
Di belakangnya, Dermaga KP3 tetap
berdiri.
Saksi dari kisah cinta, persahabatan,
luka, dan pertumbuhan yang pernah begitu ramai di dalamnya.
Namun kini…
ia hanya menjadi bagian dari masa lalu
yang sudah diterima.
Bukan untuk dilupakan.
Tetapi untuk dikenang tanpa rasa
sakit.
Dan di Kota Kuala Kapuas yang terus
hidup itu…
cerita mereka benar-benar selesai di
luar kata.
Tetapi tetap abadi di dalam ingatan.
BAB XXVI
SENYAP SETELAH CERITA YANG BESAR
Setelah semua yang terjadi di Dermaga
KP3, Kota Kuala Kapuas kembali menjalani hari-harinya seperti biasa.
Namun ada sesuatu yang tidak bisa
kembali seperti dulu.
Bukan tempatnya.
Bukan jalannya.
Bukan pula wajah kotanya.
Tetapi suasana di hati mereka yang
pernah menjadi bagian dari cerita itu.
SMA Kapuas kembali dipenuhi generasi
baru yang tidak tahu apa yang pernah terjadi di antara Rayhan, Riyadi, Hendra,
dan Yanti.
Bagi mereka, sekolah itu hanya tempat
belajar.
Tempat bercanda.
Tempat menjalani masa remaja yang
sederhana.
Namun bagi sebagian kecil yang tahu
cerita lama itu, setiap sudut sekolah masih menyimpan gema yang samar.
Riyadi duduk di bangku taman sekolah
sendirian.
Buku ada di tangannya, tetapi tidak
benar-benar ia baca.
Matanya lebih sering melihat ke arah
lapangan.
Dadang datang menghampiri.
“Kau masih suka di sini,” kata Dadang
sambil duduk.
Riyadi tersenyum kecil.
“Tempat ini tidak pernah berubah.”
Dadang tertawa pelan.
“Kita yang berubah.”
Riyadi mengangguk.
“Ya.”
Ia menutup buku.
Lalu berkata pelan.
“Aku tidak lagi mencari jawaban di
tempat yang sama.”
Dadang menatapnya.
“Lalu sekarang?”
Riyadi menatap langit.
“Sekarang aku hanya hidup.”
Sementara itu Rayhan terlihat di
Bundaran Besar Kuala Kapuas.
Motor terparkir.
Ia berdiri di pinggir trotoar.
Angin sore menyapu wajahnya.
Alex datang menghampiri.
“Masih suka keliling tanpa tujuan?”
tanya Alex.
Rayhan tersenyum kecil.
“Bukan tanpa tujuan.”
“Apa?”
“Sekarang tujuanku adalah tidak lagi
kehilangan diriku sendiri.”
Alex mengangguk pelan.
“Itu tujuan yang baik.”
Rayhan tertawa kecil.
“Lebih baik dari mengejar sesuatu yang
tidak pasti.”
Di tempat lain, Hendra berjalan
sendirian di Jalan Jenderal Ahmad Yani.
Sulton tidak lagi selalu di
sampingnya.
Kini ia lebih sering sendiri.
Bukan karena kesepian.
Tetapi karena memilih untuk tidak lagi
terjebak dalam sesuatu yang terlalu dalam.
Ia berhenti di depan kaca toko.
Menatap bayangannya sendiri.
“Aku dulu terlalu keras,” gumamnya.
“Sekarang aku hanya ingin tenang.”
Ia tersenyum kecil.
Dan melanjutkan langkahnya.
Di Taman Kota, Yanti duduk sendirian
di bangku yang dulu sering ia gunakan bersama Amanda.
Namun kali ini Amanda tidak di
sampingnya.
Yanti memegang minuman sederhana.
Matanya menatap orang-orang yang
berlalu-lalang.
“Aku tidak lagi menjadi pusat cerita
siapa pun,” gumamnya pelan.
Ia tersenyum.
“Dan itu tidak apa-apa.”
Angin lembut bertiup.
Daun-daun jatuh perlahan.
Dan untuk pertama kalinya, Yanti
merasa tidak perlu dipilih untuk merasa utuh.
Ia sudah cukup dengan dirinya sendiri.
Di kejauhan, Sungai Kapuas tetap
mengalir tanpa henti.
Dermaga KP3 masih berdiri.
Simpang Adipura masih ramai.
Jalan Pemuda masih hidup.
Namun semuanya kini hanya menjadi
bagian dari kota yang terus berjalan tanpa menunggu siapa pun.
Hari itu, tidak ada lagi pertemuan
besar.
Tidak ada lagi konflik.
Tidak ada lagi keputusan berat.
Hanya kehidupan yang berjalan pelan.
Seperti napas panjang setelah badai
yang terlalu lama.
Dan di dalam senyap itu…
mereka semua akhirnya mengerti satu
hal sederhana.
Bahwa tidak semua cerita harus terus
dilanjutkan.
Beberapa cukup dipahami.
Diterima.
Lalu dilepaskan.
Dan di situlah mereka benar-benar
menjadi dewasa.
BAB XXVII
PASAR SARI MULYA DAN JEJAK YANG TIDAK BENAR-BENAR HILANG
Pagi di Pasar Sari Mulya selalu datang
lebih cepat dari matahari.
Sebelum jalanan kota benar-benar ramai,
pasar itu sudah lebih dulu hidup dengan suara tawar-menawar, langkah kaki
tergesa, dan aroma sayur serta ikan segar yang bercampur menjadi satu.
Di tempat seperti ini, waktu terasa
berjalan lebih jujur.
Tidak terlalu rumit.
Tidak terlalu banyak drama.
Namun bagi Yanti, Pasar Sari Mulya
tetap menyimpan sesuatu yang tidak bisa ia anggap sederhana.
Ia berjalan pelan di antara
lorong-lorong pasar bersama Amanda.
Tangannya sesekali menyentuh dagangan,
hanya sekadar basa-basi, bukan benar-benar ingin membeli.
Amanda memperhatikannya.
“Kau masih suka datang ke tempat ramai
seperti ini?” tanya Amanda.
Yanti tersenyum kecil.
“Justru di tempat ramai, aku merasa
lebih tidak sendirian.”
Amanda mengangguk.
“Aneh.”
Yanti tertawa pelan.
“Tidak juga. Di sini orang sibuk
dengan hidupnya masing-masing. Tidak ada yang terlalu memperhatikan hidup orang
lain.”
Mereka berhenti di sebuah penjual
jajanan.
Yanti membeli makanan ringan
sederhana.
Namun pikirannya tidak benar-benar di
pasar itu.
Ia seperti sedang berada di antara
masa lalu dan masa kini.
Amanda lalu berkata pelan.
“Kau masih memikirkan mereka?”
Yanti terdiam.
Tidak langsung menjawab.
Lalu mengangguk kecil.
“Kadang.”
Amanda menatapnya.
“Siapa yang paling sering muncul di
pikiranmu?”
Yanti tersenyum kecil pahit.
“Aku tidak tahu apakah itu pertanyaan
yang harus dijawab.”
Amanda tertawa kecil.
“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu
apakah semuanya benar-benar sudah selesai.”
Yanti menatap jalan pasar.
Orang-orang berlalu-lalang.
Dan di antara keramaian itu, ia merasa
seperti melihat bayangan masa lalu yang tidak benar-benar pergi.
Riyadi.
Rayhan.
Hendra.
Nama-nama itu tidak lagi hadir dalam
hidupnya setiap hari.
Tetapi juga tidak pernah benar-benar
hilang dari ingatannya.
Di sisi lain kota, Riyadi sedang
membantu seorang pedagang kecil di Jalan Pemuda.
Ia mengangkat beberapa barang tanpa
banyak bicara.
Pedagang itu tersenyum.
“Kau sekarang lebih sering membantu
orang,” kata pedagang itu.
Riyadi tersenyum kecil.
“Lebih mudah daripada memikirkan hal
yang tidak perlu.”
Pedagang itu tertawa.
“Kau dulu sering melamun di sini.”
Riyadi mengangguk.
“Sekarang sudah berkurang.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi tidak hilang.”
Pedagang itu menepuk bahunya.
“Itu namanya hidup.”
Riyadi tersenyum.
“Ya.”
Di Bundaran Besar, Rayhan berhenti sejenak
dengan motornya.
Ia melihat lalu lintas yang berputar
seperti biasa.
Alex datang menghampiri.
“Kau masih sering keliling kota?”
tanya Alex.
Rayhan mengangguk.
“Bukan keliling tanpa arah.”
“Lalu?”
Rayhan menatap bundaran.
“Aku hanya ingin memastikan aku tidak
lagi tersesat di dalam diriku sendiri.”
Alex tersenyum.
“Bagus.”
Rayhan melanjutkan pelan.
“Dulu aku pikir cinta adalah pusat
segalanya.”
Ia tertawa kecil.
“Ternyata aku sendiri yang harus jadi
pusat hidupku.”
Di Jalan Jenderal Sudirman, Hendra berjalan
sendirian.
Tangannya masuk ke saku.
Matanya menatap jalan yang ramai.
Namun tidak lagi mencari sesuatu di
dalam keramaian itu.
Sulton tidak lagi selalu bersamanya,
tetapi sesekali masih muncul di hidupnya.
Hari itu Sulton memanggil dari
belakang.
“Kau sekarang lebih tenang,” katanya.
Hendra mengangguk.
“Aku sudah tidak punya alasan untuk
terburu-buru lagi.”
Sulton tersenyum.
“Dulu kau terburu-buru untuk sesuatu
yang tidak pasti.”
Hendra tertawa kecil.
“Sekarang aku hanya berjalan.”
Dan di Taman Kota, Yanti duduk
kembali.
Sendiri.
Namun bukan kesepian.
Ia membuka ponselnya sebentar.
Tidak ada pesan penting.
Tidak ada nama yang membuatnya
gelisah.
Hanya kehidupan biasa.
Ia menutup ponselnya kembali.
Menatap langit.
“Aku pikir aku akan terus terikat pada
masa lalu,” gumamnya pelan.
“Ternyata aku bisa berjalan tanpa
membawa semuanya.”
Ia tersenyum.
Dan di kejauhan, angin Kota Kuala
Kapuas berhembus lembut.
Membawa cerita-cerita lama yang tidak
lagi menekan, hanya menemani dari jauh.
Pasar Sari Mulya tetap ramai.
Jalan Pemuda tetap hidup.
Bundaran Besar tetap berputar.
Dan Sungai Kapuas tetap mengalir.
Namun di antara semua itu…
mereka kini berjalan bukan sebagai
pemburu cinta lagi.
Tetapi sebagai manusia yang akhirnya
belajar bahwa hidup tidak selalu tentang memiliki.
Melainkan tentang melanjutkan langkah
tanpa kehilangan diri sendiri.
BAB XXVIII
Senja Terakhir di Dermaga KP3
Senja turun perlahan di Dermaga KP3 Kuala Kapuas.
Langit berubah jingga, dan air Sungai Kapuas mengalir tenang, tetapi di balik ketenangannya
seperti menyimpan sesuatu yang belum selesai dari perjalanan panjang mereka.
Yanti berdiri sendiri di ujung dermaga.
Angin lembut menyentuh wajahnya, membawa kembali semua ingatan tentang
masa-masa yang penuh kebingungan, pilihan yang sulit, dan perasaan yang tidak
pernah benar-benar bisa ia jelaskan dengan sederhana.
Namun kali ini… ada sesuatu yang
berbeda.
Bukan hanya tentang dirinya dan
Riyadi.
Tapi tentang semua yang pernah berada
di lingkaran itu.
Langkah kaki terdengar dari
belakangnya.
Yanti menoleh.
Riyadi berdiri di sana.
Tidak terburu-buru. Tidak ragu.
Hanya tenang… tetapi di balik
ketenangan itu ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang sudah lama dipendam
dan akhirnya sampai pada batasnya.
Yanti tidak langsung berbicara.
Matanya menangkap sesuatu di kejauhan
dermaga.
Bayangan Rayhan yang baru saja
berhenti di ujung jalan, tidak jauh dari dermaga, hanya memperhatikan dari jauh
tanpa mendekat.
Lalu di sisi lain, Hendra berdiri
bersandar pada pagar kayu, wajahnya sulit dibaca seperti biasa, tetapi matanya
tidak bisa menyembunyikan sesuatu yang berat.
Sulton pun tidak jauh, berdiri diam
tanpa kata, seperti seseorang yang hanya menjadi saksi dari sesuatu yang sudah
tidak bisa ia ubah lagi.
Amanda yang sejak tadi bersama Yanti
perlahan memilih menjauh sedikit, memberi ruang.
“Sepertinya ini bukan hanya tentang
kalian berdua…” gumam Amanda pelan sebelum benar-benar melangkah mundur.
Yanti menarik napas panjang.
Angin terasa lebih berat.
Riyadi melangkah lebih dekat.
Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi
mengabaikan keberadaan yang lain di sekitar mereka.
Karena kali ini… semuanya memang ada
di sini.
Riyadi menatap Yanti.
“Yanti…” suaranya pelan, tapi dalam.
Yanti menatapnya.
Riyadi menarik napas panjang, seolah
kalimat ini sudah terlalu lama tertahan.
“Aku sudah terlalu lama memendam
semuanya.”
Hening.
Bukan hening kosong.
Tapi hening yang dipenuhi banyak mata
yang sedang menunggu arah cerita ini.
Rayhan menatap dari kejauhan,
rahangnya mengeras.
Hendra diam, tapi tatapannya tidak
pernah benar-benar pergi dari Yanti.
Sulton hanya menunduk sesaat, seperti
memahami bahwa ini adalah titik akhir dari sesuatu yang sudah lama berjalan.
Riyadi melanjutkan.
“Aku tidak bisa lagi berpura-pura
bahwa aku tidak merasakan apa-apa.”
Yanti menunduk sedikit.
Dadanya terasa berat, bukan karena
tidak tahu jawabannya… tapi karena tahu bahwa semua orang di sini juga membawa
perasaan masing-masing yang tidak sederhana.
Riyadi menatapnya lebih dalam.
“Aku mencintaimu.”
Kalimat itu jatuh di antara senja.
Dan kali ini… bukan hanya Yanti yang
merasakannya.
Rayhan menutup mata sebentar.
Hendra menghela napas pelan.
Sulton menggeser pandangan ke bawah.
Seolah satu kalimat itu tidak hanya
mengenai satu orang… tapi seluruh lingkaran yang pernah saling mengejar di
dalamnya.
Yanti terdiam.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Bukan hanya karena kata itu.
Tapi karena ia sadar… ini bukan lagi
hanya tentang perasaannya sendiri.
Ini tentang keputusan yang sudah lama
tertunda.
Rayhan melangkah sedikit maju,
suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.
“Jadi… ini akhirnya?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Riyadi tidak menoleh, tapi ia
mendengar.
Hendra ikut berbicara pelan, dengan
nada yang lebih datar tapi penuh makna.
“Dari awal memang kita tidak pernah
benar-benar di posisi yang sama.”
Sulton menambahkan pelan, hampir
seperti berbicara pada dirinya sendiri.
“Kita semua cuma mengejar sesuatu yang
sama… tapi tidak pernah benar-benar siap kalah.”
Hening kembali turun.
Lebih dalam dari sebelumnya.
Yanti mengusap wajahnya pelan.
Air mata mulai jatuh, tapi bukan
seperti dulu yang penuh bingung.
Kali ini… lebih seperti kelelahan yang
akhirnya sampai pada ujungnya.
“Aku…” suara Yanti bergetar.
Semua mata langsung tertuju padanya.
Bahkan angin pun terasa berhenti
sedikit lebih lama.
Yanti menatap mereka satu per satu.
Riyadi di depannya.
Rayhan di kejauhan.
Hendra di sisi lain.
Dan Sulton yang berdiri diam tanpa
banyak kata.
“Aku tidak ingin menyakiti siapa pun…”
suaranya pelan.
“Tapi aku juga tidak bisa memaksa
perasaanku sendiri.”
Rayhan menghela napas panjang.
“Aku tahu.”
Hendra menatapnya, kali ini lebih
lembut dari sebelumnya.
“Tidak semua yang kita mau… bisa kita
miliki.”
Sulton hanya mengangguk kecil.
Seolah akhirnya menerima sesuatu yang
sudah lama ia tolak dalam diam.
Riyadi tetap diam.
Tapi matanya tidak pernah lepas dari
Yanti.
Yanti mengangkat wajahnya.
Air mata masih di sana, tapi ada
ketenangan kecil yang mulai muncul.
“Aku lelah berada di tengah semuanya.”
Hening.
Riyadi akhirnya berbicara pelan.
“Kalau begitu… jangan lagi di tengah.”
Kalimat itu tidak keras.
Tapi cukup untuk membuat semuanya
berhenti sejenak.
Yanti menatapnya lama.
Dan untuk pertama kalinya… tidak ada
lagi kata-kata yang terburu-buru.
Hanya senja.
Hanya dermaga.
Hanya empat hati yang akhirnya
berhenti saling mengejar dalam cara yang berbeda.
Namun… belum benar-benar selesai.
Karena di dalam tatapan mereka, masih
ada sesuatu yang belum sepenuhnya padam.
Dan Dermaga KP3 kembali menjadi saksi…
bahwa cinta, di antara para pemburu
itu, tidak pernah benar-benar sederhana.
BAB XXIX
Cinta Pertama Bersemi
Hening itu tidak langsung pecah.
Ia bertahan lebih lama dari yang
biasanya.
Seolah Dermaga KP3 Kuala Kapuas sedang
menahan napas bersama semua orang yang ada di sana.
Yanti masih berdiri di tempat yang
sama.
Air mata di wajahnya belum sepenuhnya
berhenti, tapi kali ini tidak lagi berantakan seperti sebelumnya.
Ada sesuatu yang mulai tersusun di
dalam dirinya… meski belum sepenuhnya jelas.
Riyadi masih di depannya.
Tidak mendekat.
Tidak mundur.
Hanya menunggu.
Namun kali ini… bukan hanya Yanti yang
merasakan tekanan itu.
Rayhan masih berdiri di kejauhan.
Tangannya mengepal, tapi tidak
bergerak.
Hendra bersandar pada pagar dermaga,
menatap air sungai seakan mencoba menyembunyikan sesuatu yang berat di dadanya.
Sulton berdiri diam, tetapi kali ini
kepalanya sedikit menunduk, seperti seseorang yang sudah mulai menerima sesuatu
yang tidak bisa ia lawan lagi.
Amanda memperhatikan dari jarak yang
tidak terlalu jauh.
Ia tahu, ini bukan sekadar pengakuan
cinta.
Ini adalah titik akhir dari sebuah
perebutan yang panjang.
Yanti menarik napas dalam.
Suara sungai terdengar lebih jelas
dari sebelumnya.
Riyadi akhirnya berbicara pelan.
“Aku tidak minta kamu jawab sekarang.”
Yanti menoleh cepat.
Riyadi melanjutkan.
“Aku hanya ingin jujur… untuk pertama
kalinya tanpa menahan apa pun.”
Rayhan menatap ke arah mereka.
Matanya sedikit menurun.
“Kalau begitu…” suara Rayhan terdengar
berat.
“Berarti semua ini memang sudah sampai
di sini.”
Hendra menghela napas.
“Tidak ada yang benar-benar menang dari
hal seperti ini.”
Sulton tersenyum kecil pahit.
“Kita hanya terlalu lama berjalan di
arah yang sama… tapi tidak pernah benar-benar sejalan.”
Yanti menutup mata sebentar.
Dadanya terasa sesak.
Bukan karena tidak tahu jawabannya.
Tapi karena semua orang di sekitarnya
sedang melepaskan sesuatu yang mereka perjuangkan masing-masing.
Ia membuka mata lagi.
Dan kali ini… ia menatap Riyadi lebih
lama.
Ada sesuatu yang berbeda.
Bukan lagi kebingungan.
Tapi keberanian yang mulai tumbuh
pelan.
“Aku…” suara Yanti pelan.
Semua langsung diam.
Bahkan angin terasa ikut berhenti
sebentar.
Yanti menelan napas.
“Aku sudah terlalu lama berada di
antara semua ini.”
Riyadi menatapnya tanpa menyela.
Yanti melanjutkan, suaranya bergetar
tapi lebih jujur.
“Aku mencoba memahami semua perasaan…
tapi aku malah kehilangan diriku sendiri di tengahnya.”
Rayhan menunduk sedikit.
Hendra menatap ke arah sungai.
Sulton tidak bergerak.
Yanti mengusap air matanya pelan.
“Tapi sekarang… aku mulai mengerti.”
Hening.
Riyadi menunggu.
Yanti menatapnya langsung.
Dan untuk pertama kalinya… tatapan itu
tidak ragu.
“Aku tidak ingin terus berada di
tempat yang membuat semuanya terluka.”
Riyadi mengangguk pelan.
“Aku tidak akan memaksamu.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi berat.
Rayhan menarik napas panjang.
“Jadi… ini memang akhirnya ya.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Tapi tidak ada yang membantah.
Hendra menatap Yanti untuk terakhir
kalinya di momen itu.
“Aku mengerti sekarang… kenapa tidak
semua cinta harus dimiliki.”
Sulton menunduk sedikit.
“Dan kenapa beberapa harus dilepaskan…
meski belum selesai di hati.”
Yanti menutup mata sebentar.
Lalu menghela napas panjang.
Saat ia membuka mata lagi… ada
kejelasan yang perlahan muncul.
Bukan keputusan besar.
Tapi awal dari sesuatu yang lebih
jujur.
Ia menatap Riyadi.
“Kalau aku harus jujur…” suaranya
pelan.
Riyadi menunggu.
Yanti melanjutkan.
“Aku tidak pernah benar-benar bisa
menjauh dari perasaan itu.”
Hening.
Rayhan menatap langit.
Hendra diam.
Sulton tetap menunduk.
Yanti menahan napas.
“Tapi aku juga tidak mau semuanya
tetap seperti ini.”
Riyadi perlahan tersenyum kecil… tapi
tidak langsung berbicara.
Seolah ia tahu, ini bukan akhir dari
semuanya.
Tapi awal dari sesuatu yang lebih
jujur dan lebih tenang.
Yanti akhirnya melangkah kecil ke
depan.
Mendekati Riyadi.
Bukan keputusan final.
Tapi pilihan hati yang mulai jelas
arahnya.
“Aku lelah dengan kebingungan ini…”
suara Yanti hampir berbisik.
Riyadi mengangguk.
“Aku juga.”
Hening.
Lalu perlahan… Yanti menghapus air
matanya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya di Dermaga
KP3 itu…
tidak ada lagi perebutan yang meledak.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada amarah.
Yang tersisa hanya satu hal:
kesadaran bahwa cinta pertama…
akhirnya mulai menemukan bentuknya.
Namun di kejauhan…
Rayhan masih berdiri di tempatnya.
Hendra masih diam.
Sulton masih menatap tanah.
Karena meski satu cinta mulai bersemi…
yang lain baru saja belajar arti
kehilangan yang sesungguhnya.
BAB XXX
Di Bawah Langit SMA Kapuas yang Sama
Hari kelulusan SMA Kapuas tiba.
Halaman sekolah dipenuhi tawa, foto,
dan perpisahan yang bercampur antara bahagia dan haru. Seragam yang dulu
menjadi kebanggaan kini hanya tersisa sebagai kenangan yang sebentar lagi akan
disimpan dalam lemari masa lalu.
Langit di atas SMA Kapuas tampak sama
seperti hari-hari sebelumnya. Biru, luas, dan tenang.
Namun bagi mereka yang berdiri di
bawahnya hari ini… semuanya terasa berbeda.
Karena yang berubah bukan langitnya.
Tapi mereka.
Yanti berdiri di tengah keramaian
halaman sekolah. Ia memegang map kelulusannya dengan kedua tangan, tapi
pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana.
Sesekali ia tersenyum ketika
teman-temannya memanggil untuk berfoto, namun ada ruang kosong di matanya yang
hanya bisa dimengerti oleh dirinya sendiri.
Amanda mendekat pelan.
“Kau masih memikirkan tadi malam?”
tanya Amanda hati-hati.
Yanti terdiam sebentar.
Lalu mengangguk kecil.
“Bukan hanya tadi malam…” jawabnya
pelan.
“Tapi semuanya.”
Amanda tidak langsung menanggapi. Ia
tahu, ada sesuatu yang sudah berubah dalam diri Yanti sejak di Dermaga KP3.
Bukan lagi kebingungan.
Tapi kesadaran.
Di sisi lain halaman sekolah, Riyadi
berdiri sendiri di dekat gerbang.
Ijazah di tangannya tidak lagi ia
pandang sebagai sesuatu yang besar.
Lebih seperti tanda bahwa satu fase
hidup sudah selesai.
Dadang menghampirinya.
“Kau tidak foto-foto?” tanya Dadang.
Riyadi tersenyum kecil.
“Nanti saja.”
Dadang memperhatikan Riyadi.
“Kau masih memikirkan Yanti?”
Riyadi tidak langsung menjawab.
Ia menatap halaman sekolah yang penuh
suara tawa.
“Bukan memikirkan…” katanya pelan.
“Tapi memastikan bahwa aku tidak lagi
ragu.”
Dadang mengangguk pelan.
“Dan sekarang?”
Riyadi menatap ke arah gerbang.
“Sekarang aku hanya ingin jujur dengan
apa yang sudah aku pilih.”
Tidak jauh dari sana, Rayhan berdiri
dengan beberapa teman laki-lakinya.
Namun tatapannya beberapa kali
mengarah ke arah Yanti.
Tidak lagi penuh ambisi seperti dulu.
Lebih seperti seseorang yang sedang
menerima sesuatu yang tidak bisa ia ubah.
Hendra berdiri di bawah pohon dekat
lapangan sekolah.
Sulton tidak jauh darinya.
Keduanya tidak banyak bicara.
Namun ada sesuatu yang sama di antara
mereka hari itu.
Kesadaran bahwa perjalanan mereka
tidak berakhir seperti yang mereka bayangkan.
Yanti akhirnya melangkah pelan.
Meninggalkan keramaian.
Menuju gerbang sekolah.
Tempat yang selama ini menjadi batas
antara masa lalu dan masa depan mereka.
Riyadi melihatnya dari kejauhan.
Dan tanpa banyak kata, ia mulai
berjalan juga.
Pelan.
Sampai akhirnya mereka bertemu di
tengah halaman yang ramai itu.
Namun bagi mereka berdua…
semua suara terasa menjauh.
Hanya tersisa mereka.
Yanti menatap Riyadi.
“Jadi ini akhirnya…” katanya pelan.
Riyadi tersenyum.
“Ini awalnya.”
Yanti tertawa kecil.
“Awal setelah semua kekacauan itu?”
Riyadi mengangguk.
“Ya.”
Hening sebentar.
Bukan hening canggung.
Tapi hening yang mulai mengerti arti
perjalanan panjang yang baru saja selesai.
Yanti menoleh ke arah sekolah.
“Lucu ya…”
Riyadi mengikuti tatapannya.
“Apa?”
“Kita kira ini dunia kita… padahal
hanya bagian kecil dari hidup.”
Riyadi mengangguk pelan.
“Tapi bagian yang menentukan banyak
hal.”
Yanti menatapnya lagi.
Dan untuk pertama kalinya di hari itu,
tidak ada keraguan di matanya.
“Terima kasih…” katanya pelan.
Riyadi mengerutkan alis.
“Untuk apa?”
Yanti tersenyum.
“Untuk tidak membuat semuanya berakhir
dengan penyesalan.”
Riyadi tidak langsung menjawab.
Lalu ia mengangguk kecil.
“Aku juga berterima kasih… karena kamu
sudah berani jujur pada akhirnya.”
Angin bertiup melewati halaman
sekolah.
Suara tawa teman-teman, kamera, dan
perpisahan masih terdengar di belakang mereka.
Namun di titik itu…
Yanti dan Riyadi berdiri di bawah
langit SMA Kapuas yang sama.
Bukan lagi sebagai dua orang yang
bingung di tengah banyak pilihan.
Tapi sebagai dua orang yang akhirnya
memahami arah yang mereka pilih.
Dan di belakang mereka…
Rayhan, Hendra, dan Sulton tetap
menjadi bagian dari cerita itu.
Bukan lagi sebagai pesaing.
Tapi sebagai jejak perjalanan yang
pernah membuat semuanya menjadi rumit… sekaligus berarti.
Karena tidak semua perasaan harus
dimiliki.
Tapi setiap perjalanan harus dipahami.
Dan hari itu…
SMA Kapuas menjadi saksi bahwa setiap
akhir di sini… selalu menyimpan awal yang baru di tempat lain.
BAB XXXI
JEJAK YANG TERTINGGAL DI KOTA AIR
Kota Air kembali berjalan seperti
biasa.
Namun bagi mereka yang pernah menjadi
bagian dari kisah itu, tidak ada lagi yang benar-benar “biasa”.
Setelah kelulusan SMA Kapuas, waktu
seakan bergerak lebih pelan di hati sebagian orang, meski dunia luar tetap
berlari tanpa menunggu siapa pun.
Rayhan berdiri di terminal kecil
pinggiran Kota Kapuas.
Tasnya sudah tersusun rapi di samping
kakinya.
Bus menuju kota lain sudah siap
berangkat beberapa menit lagi, namun ia belum juga melangkah.
Angin pagi menyentuh wajahnya, membawa
debu jalanan yang sudah terlalu sering ia lewati selama masa sekolah.
Ia menatap jalan panjang di depannya.
Jalan yang dulu ia pikir bisa ia
menangkan dengan cara mengejar satu nama yang sama.
“Lucu ya…” gumam Rayhan pelan.
“Dulu aku pikir kalau aku cukup cepat…
aku bisa sampai duluan.”
Ia tersenyum kecil.
Tapi senyum itu tidak penuh.
Lebih seperti senyum seseorang yang
baru saja memahami sesuatu yang datangnya terlambat.
Rayhan menghela napas panjang.
“Aku ternyata bukan sedang mengejar
cinta…”
Ia berhenti sebentar.
“Tapi mengejar pengakuan bahwa aku
tidak ingin kalah.”
Suara bus terdengar dari kejauhan.
Pelan.
Namun pasti.
Rayhan menoleh.
Matanya kosong sesaat.
Lalu perlahan ia mengangkat tasnya.
Tidak ada lagi yang ditunggu.
Tidak ada lagi yang dikejar.
Ia melangkah.
Satu langkah.
Lalu langkah berikutnya.
Dan ketika ia benar-benar naik ke
dalam bus itu, Rayhan tidak menoleh ke belakang.
Bukan karena lupa.
Tapi karena sudah cukup mengerti.
Di tempat lain, Hendra berdiri di
Simpang Adipura.
Tempat itu masih sama seperti dulu.
Lampu lalu lintas, kendaraan yang
lewat, dan angin yang selalu terasa sedikit lebih keras di persimpangan itu.
Namun bagi Hendra, tempat itu bukan
lagi sekadar jalan.
Tapi titik di mana banyak hal dalam
dirinya pernah bertabrakan.
Ia berdiri diam cukup lama.
Tidak ada kata.
Tidak ada gerakan berlebihan.
Hanya seseorang yang sedang berbicara
dengan dirinya sendiri dalam diam.
“Aku selalu berpikir aku harus
menang,” gumam Hendra pelan.
Matanya menatap jalan yang bercabang.
“Ternyata yang aku kejar bukan cinta…”
Ia tersenyum kecil, pahit.
“Tapi keinginan untuk tidak terlihat
lemah.”
Ia menarik napas dalam.
Angin melewati wajahnya.
Seolah ikut mendengarkan.
“Dan pada akhirnya… aku tidak menang
apa-apa.”
Hendra menunduk.
Untuk pertama kalinya, tidak ada ego
yang tersisa di wajahnya.
Hanya kelelahan yang sudah berubah
menjadi pemahaman.
Ia melangkah.
Bukan ke arah yang dulu ia pikir harus
ia menangkan.
Tapi ke arah yang tidak lagi menuntut
apa pun darinya.
Sulton duduk di bangku taman SMA
Kapuas.
Sekolah itu sudah jauh lebih sepi
sekarang.
Tidak ada lagi suara siswa berlarian.
Tidak ada lagi teriakan di lorong
kelas.
Yang tersisa hanya angin yang melewati
pepohonan, seperti menghapus perlahan jejak masa lalu.
Sulton menatap halaman sekolah.
Tempat di mana ia dulu berdiri dengan
penuh keyakinan bahwa semuanya bisa ia kendalikan.
Namun sekarang…
Ia hanya seorang yang belajar dari
kesalahan sendiri.
“Aku terlalu sibuk ingin menang…”
katanya pelan.
“Tapi lupa kalau perasaan bukan
sesuatu yang bisa dipaksa.”
Ia tersenyum kecil.
Bukan senyum bahagia.
Tapi senyum penerimaan.
“Dan ternyata… yang paling sulit bukan
kalah dari orang lain.”
Ia berhenti.
“Tapi kalah dari diri sendiri.”
Sulton berdiri perlahan.
Memandang sekali lagi bangku taman
itu.
Lalu berbalik.
Meninggalkan tempat yang dulu menjadi
bagian dari ambisinya.
Sementara itu…
Dermaga KP3 Kuala Kapuas masih berdiri
seperti biasa.
Air Sungai Kapuas tetap mengalir tanpa
henti.
Seolah tidak pernah peduli pada siapa
yang datang dan pergi.
Yanti berdiri di ujung dermaga.
Rambutnya tertiup angin sore.
Di sampingnya, Riyadi berdiri dengan
tenang.
Tidak ada lagi kecanggungan.
Tidak ada lagi kebingungan.
Hanya dua orang yang pernah melewati
banyak hal bersama.
Yanti menatap air sungai.
“Semua orang sudah pergi ya…” katanya
pelan.
Riyadi mengangguk.
“Iya.”
Yanti tersenyum kecil.
“Rayhan… Hendra… Sulton…”
Ia berhenti sebentar.
“Mereka semua pernah jadi bagian dari
cerita kita.”
Riyadi menatap sungai yang mengalir.
“Dan sekarang mereka berjalan di
jalannya masing-masing.”
Yanti menghela napas.
“Aneh ya… dulu semuanya terasa besar
sekali.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Karena waktu itu kita masih di
dalamnya.”
Yanti menoleh.
“Sekarang?”
Riyadi menjawab pelan.
“Sekarang kita sudah melihatnya dari
luar.”
Hening sebentar.
Bukan hening yang berat.
Tapi hening yang tenang.
Seperti seseorang yang akhirnya bisa
berdamai dengan masa lalu.
Yanti bersandar sedikit pada pagar
dermaga.
“Aku tidak menyesal,” katanya pelan.
Riyadi menoleh.
“Aku juga tidak.”
Yanti tersenyum.
“Kalau dipikir-pikir… kita semua hanya
sedang belajar.”
Riyadi mengangguk.
“Belajar tentang cinta.”
Yanti menatapnya.
“Dan tentang diri sendiri.”
Angin sore bertiup lebih lembut.
Langit mulai berubah warna.
Jingga perlahan menjadi gelap.
Namun tidak terasa sedih.
Justru terasa lengkap.
Hari-hari setelah itu berjalan seperti
biasa.
Namun tidak ada lagi yang benar-benar
sama.
Kota Air tetap hidup.
Pasar tetap ramai.
Jalan tetap dipenuhi kendaraan.
Anak-anak sekolah masih tertawa di
jalan pulang.
Tapi bagi mereka yang pernah terlibat
dalam kisah itu…
semua menjadi lebih sunyi di dalam
hati.
Karena setiap sudut kota menyimpan
jejak yang tidak terlihat.
Jejak langkah yang dulu berlari
mengejar sesuatu yang mereka sendiri belum mengerti.
Jejak tatapan yang pernah saling
mencari.
Jejak hati yang pernah terlalu keras
ingin memiliki.
Namun waktu tidak pernah menghapus
semuanya.
Ia hanya mengubah cara seseorang
mengingatnya.
Suatu sore, Yanti dan Riyadi kembali
ke Dermaga KP3.
Tidak ada percakapan besar.
Tidak ada momen dramatis.
Hanya kehadiran yang sederhana.
Yanti tersenyum kecil.
“Kalau kita tidak melewati semua itu…”
katanya pelan.
“mungkin kita tidak akan sampai di
sini.”
Riyadi mengangguk.
“Benar.”
Yanti menatap sungai.
“Aku dulu pikir cinta itu tentang
memiliki.”
Riyadi menatapnya.
“Sekarang?”
Yanti tersenyum.
“Sekarang aku pikir cinta itu tentang
memahami.”
Riyadi diam sejenak.
Lalu tersenyum.
“Dan tetap tinggal, setelah semua
tidak lagi rumit.”
Yanti mengangguk kecil.
Di belakang mereka, Kota Kuala Kapuas
tetap bergerak.
Namun di Dermaga KP3 itu…
waktu terasa sedikit lebih lambat.
Seolah memberi ruang bagi mereka untuk
benar-benar mengerti apa yang sudah mereka lewati.
Rayhan tidak lagi di kota itu.
Hendra tidak lagi berdiri di simpang
yang sama.
Sulton tidak lagi duduk di bangku
taman sekolah.
Namun jejak mereka masih ada.
Bukan dalam bentuk fisik.
Tapi dalam ingatan.
Dalam cara mereka pernah mengubah arah
hidup seseorang.
Dalam cara mereka pernah membuat
seseorang belajar tentang kalah, menang, dan menerima.
Dan di bawah langit Kota Air yang
tidak pernah benar-benar berubah…
para pemburu cinta itu akhirnya
memahami satu hal yang sama:
bahwa tidak semua perjalanan
ditakdirkan untuk memiliki akhir yang sama.
Sebagian hanya ditakdirkan untuk
meninggalkan jejak.
Agar yang lain bisa belajar… bagaimana
cara melangkah setelahnya.
EPILOG
Waktu yang Terus Mengalir di Kota Air
Waktu tidak pernah benar-benar
berhenti di Kota Air.
Ia terus berjalan, seperti Sungai
Kapuas yang mengalir tanpa pernah meminta izin kepada siapa pun untuk
melanjutkan arah.
Hari berganti hari, bulan berganti
bulan, dan kehidupan kembali berjalan sebagaimana mestinya.
Namun bagi mereka yang pernah menjadi
bagian dari perjalanan itu, Kota Air tidak pernah benar-benar menjadi “tempat
biasa” lagi.
Ia berubah menjadi sesuatu yang lain.
Menjadi ruang ingatan.
Menjadi tempat di mana masa muda
pernah bertabrakan dengan perasaan, ambisi, dan cinta yang belum dewasa.
Yanti dan Riyadi berdiri di Dermaga
KP3 pada suatu sore yang tenang.
Angin lembut bergerak perlahan,
menyapu permukaan air yang berkilau diterpa cahaya senja.
Tidak ada lagi kegelisahan seperti
dulu.
Tidak ada lagi suara hati yang saling
mengejar tanpa arah.
Yang ada hanya ketenangan yang lahir
dari perjalanan panjang yang akhirnya dipahami.
Yanti bersandar ringan di pagar
dermaga.
“Kalau dipikir-pikir…” katanya pelan.
“semua yang kita alami dulu… terasa
seperti kehidupan orang lain.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Bukan orang lain.”
Ia menatap Yanti.
“Itu tetap kita. Hanya versi yang
belum mengerti apa-apa.”
Yanti tertawa kecil.
“Ternyata kita dulu cukup berisik ya…”
Riyadi ikut tersenyum.
“Karena kita belum tahu cara diam
dengan hati yang tenang.”
Hening sebentar.
Namun hening itu tidak kosong.
Ia penuh.
Penuh oleh kenangan yang tidak lagi
menyakitkan.
Yanti menatap Sungai Kapuas yang
mengalir di bawah mereka.
“Dulu aku pikir cinta itu harus
membuat kita memilih dengan cepat…”
katanya pelan.
Riyadi menoleh.
“Sekarang?”
Yanti menghela napas.
“Sekarang aku tahu… cinta bukan
tentang cepat atau lambat.”
Ia berhenti sebentar.
“Tapi tentang apakah kita benar-benar
memahami apa yang kita rasakan.”
Riyadi mengangguk pelan.
“Dan apakah kita siap menjaganya
setelah kita memilikinya.”
Yanti menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam
percakapan itu, tidak ada keraguan di matanya.
“Aku bersyukur kita sampai di titik
ini.”
Riyadi tersenyum.
“Aku juga.”
Angin sore bertiup lebih lembut.
Langit Kota Air perlahan berubah warna
menjadi jingga keemasan.
Seolah alam ikut menutup satu bab
kehidupan dengan cara yang paling tenang.
Yanti berdiri lebih dekat ke sisi Riyadi.
Bukan lagi sebagai seseorang yang
ragu.
Bukan lagi sebagai seseorang yang
bingung di tengah banyak pilihan.
Tapi sebagai seseorang yang akhirnya
memahami arah hatinya sendiri.
Riyadi menggenggam tangannya perlahan.
Tidak terburu-buru.
Tidak ragu.
Hanya pasti.
Yanti menoleh.
Riyadi berkata pelan.
“Kita sudah melewati semuanya.”
Yanti mengangguk.
“Dan kita masih di sini.”
Riyadi tersenyum.
“Itu yang paling penting.”
Di kejauhan, Kota Air tetap hidup.
Anak-anak masih bermain di jalan.
Pasar masih ramai oleh suara pedagang.
Motor dan perahu masih menjadi bagian
dari ritme sehari-hari kota itu.
Namun di balik semua itu…
Kota Air menyimpan sesuatu yang tidak
terlihat.
Ia menyimpan jejak langkah orang-orang
yang pernah jatuh, bangkit, mengejar, dan akhirnya belajar menerima.
Riyadi menatap sungai.
“Menurutmu… Kota Air itu apa
sebenarnya?” tanyanya pelan.
Yanti berpikir sejenak.
Lalu menjawab dengan lembut.
“Tempat kita tumbuh.”
Riyadi mengangguk.
Yanti melanjutkan.
“Tempat kita salah.”
“Tempat kita belajar.”
Ia berhenti sebentar.
“Dan tempat kita akhirnya mengerti
bahwa tidak semua hal harus dimenangkan.”
Riyadi tersenyum.
“Jadi bukan hanya kota.”
Yanti menggeleng.
“Bukan.”
Ia menatap air sungai.
“Ini lebih seperti cermin.”
Riyadi menoleh.
“Cermin?”
Yanti mengangguk.
“Yang menunjukkan siapa kita dulu… dan
siapa kita sekarang.”
Hening kembali hadir.
Namun kali ini, tidak ada beban di
dalamnya.
Hanya kedamaian yang lahir dari
penerimaan.
Yanti bersandar pelan di bahu Riyadi.
“Aku tidak menyesal bertemu kamu di
semua kekacauan itu.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Aku juga tidak.”
Yanti menutup mata sebentar.
“Kalau kita tidak melewati semua itu…”
“kita mungkin tidak akan sampai di
sini.”
Riyadi menggenggam tangannya lebih
erat.
“Dan mungkin kita tidak akan mengerti
arti ‘tenang’ seperti sekarang.”
Angin sore terus bergerak.
Sungai Kapuas terus mengalir.
Dan Kota Air tetap menjadi saksi dari
semuanya.
Bukan sebagai kota yang menghakimi.
Bukan sebagai kota yang menyimpan
dendam.
Tapi sebagai kota yang membiarkan
manusia di dalamnya tumbuh, salah, jatuh, lalu perlahan belajar untuk berdamai
dengan dirinya sendiri.
Di Dermaga KP3 itu…
Yanti dan Riyadi berdiri berdampingan.
Bukan lagi sebagai “pemburu cinta”.
Bukan lagi sebagai bagian dari
kekacauan masa SMA.
Tapi sebagai dua orang yang pernah
tersesat…
dan akhirnya menemukan jalan pulang
dalam diri masing-masing.
Makna Kota Air
Kota Air bukan hanya tempat.
Ia adalah perjalanan.
Ia adalah ruang di mana manusia
belajar bahwa cinta tidak selalu harus dimiliki, bahwa kehilangan bukan akhir
dari segalanya, dan bahwa setiap luka adalah bagian dari pertumbuhan.
Di Kota Air, setiap jejak tidak pernah
benar-benar hilang.
Ia hanya berubah menjadi cerita.
Dan setiap cerita… pada akhirnya akan
menjadi pelajaran.
Dan di bawah langit senja yang sama…
Kota Air tetap mengalir.
Seperti waktu.
Seperti hidup.
Seperti cinta yang akhirnya menemukan bentuk paling
jujurnya:
tidak harus sempurna… yang penting dipahami, dijalani, dan dikenang.
SELESAI








